Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 185 Rasa bahagia tengah menyelimuti Sania


__ADS_3

Sania mengulas senyum di bibir nya, ketika mendengar dia tengah hamil, semua yang di ucapkan oleh Rika itu tidak benar, buktinya dia sekarang sedang hamil dan suami nya dalam keada'an yang tidak baik baik saja saat ini, dia telah salah menilai suami nya yang selama satu ini menemani nya.


'Aku sangat berdosa telah meninggalkan suami ku yang begitu mencintai ku selama ini, aku juga sangat bodoh sampai akhirnya percaya dengan begitu saja akan ucapan saudara sepupu nya itu, maafkan aku Mas? karena sudah tidak mempercayai mu. Dan lebih memilih untuk pergi sebelum mendengar penjelasan dari kamu,' Ucap Sania dalam hati.


Sania menatap Arlan dengan tatapan sendu, sangat terlihat jelas di wajah nya menampakkan rasa bahagia ketika mendengar istri kecil nya tengah mengandung.


''Dokter? apakah tidak apa apa ketika istri saya mengonsumsi obat kanker?'' tanya Arlan, ada sedikit ke khawatiran di wajah nya.


''Kalian bisa berkonsultasi masalah ini dengan Dokter khusus kanker, menurut saya tidak apa apa jika anda selalu rutin memeriksakan kesehatan istri serta janin nya juga,'' jawab sang Dokter yang di angguki oleh Arlan dan juga Sania.


''Kalau begitu terima kasih Dokter?'' Ucap Sania dengan senyuman di bibir nya.


''Aku bisa sendiri sayang?'' cegah nya saat Sania ingin mendorong kursi roda suami nya.


''Sudahlah, Mas harus kembali beristirahat di kamar nya, Sania ingin bertemu dengan nenek,'' sahut nya yang tetap mendorong kursi roda suami nya.


''Apa setelah ini kamu mau pulang dan tinggal sama Mas,'' tanya Arlan dengan lembut.


''Belum tau Mas, Sania masih ingin sendiri dulu,'' jawab nya tanpa menatap ke wajah suami nya yang tengah menatap nya.


''Sayang? kamu saat ini tengah mengandung, dan aku tidak mau kamu jauh dari ku sayang, mendengar kamu yang muntah saja aku sudah sangat merasa bersalah, jadi aku mohon pulang lah, kalau memang kamu tidak mau pulang ke apartemen, setidak nya kamu pulang ke rumah Bunda, apa kamu tidak kangen dengan Bunda? selama ini Bunda juga mencari mu, kemarin aku lihat Bunda agak kurusan dari biasa nya. Mungkin dia terlalu memikirkan kamu sayang,'' kata Arlan panjang lebar, sampai tak terasa dia sudah sampai di depan ruangan rawat nya.


''Ayah, Sania titip Mas Arlan dulu sebentar? Sania ingin berbicara dengan nenek dulu, bagaimanapun selama seminggu ini nenek sudah menampung ku dan juga merawat ku dengan penuh kasih sayang, jadi Sania harus berbicara dengan beliau.'' tuturnya yang langsung di angguki oleh Ayah mertuanya.

__ADS_1


Nenek Beti hanya mengembangkan senyum nya ketika ia di sebut.


''Nenek, ada yang Sania ingin katakan kepada nenek,'' ucapnya dan di angguki sang nenek. Mereka berdua berjalan di litongbtumah sakit menuju taman yang ada di sana.


''Nenek, Sania hamil?'' gumam Sania ketika sudah duduk di bangku taman rumah sakit.


''Wah-- nenek sangat bahagia dengernya neng, selamat ya neng? akhirnya neng Sania hamil juga,'' balas nya dengan terus mengembangkan senyuman nya, nenek Beti sudah tau apa maksud dengan perkata'an Sania, mungkin dia akan kembali kepada keluarga nya sekarang. Tapi itu lebih baik? karena Sania masih memiliki keluarga yang begitu sayang sama dia, dan juga seorang suami yang begitu baik dan juga perhatian sama Sania, bahkan dia sampai celaka hanya mencari keberada'an istri kecil nya yang selama beberapa hari tidak pulang ke rumah nya.


''Pulang lah neng, nenek sangat senang jika kamu bisa berkumpul kembali dengan suami dan juga keluarga besar mu yang lain?'' gumam nya, lalu nenek Beti menepuk-nepuk punggung tangan Sania, agar dia bisa mengerti dengan ucapan nya.


''Tapi Nenek bagaimana? Sania tidak bisa meninggalkan nenek, bagaimana kalau nenek ikut Sania saja ke rumah,'' kata Sania membalikkan posisi tubuh nya sehingga menatap sang nenek yang ada di samping nya.


''Nenek tidak apa apa sendirian neng? nenek sudah terbiasa hidup sendirian selama ini, jadi kamu jangan khawatirkan nenek lagi, kamu harus menjaga kesehatan dan juga calon bayimu dengan baik, kelak kalau dia sudah lahir nenek janji akan datang ke rumah kamu oke,'' jawab nya dengan panjang lebar. Sania mengerti kalau nenek Beti tidak mau selalu merepotkan Sania, jadi beliau berkata seperti itu agar Sania tidak terlalu memikirkan kehidupan nenek Beti yang hanya hidup sebatang kara.


''Kalau githu nenek pulang dulu ya, kalau sampai sore nenek tidak akan mendapatkan mobil untuk pulang ke rumah,'' ujar nya lalu beranjak dari duduk nya.


''Tidak usah, nenek bisa sendiri neng, kamu tetap di sini saja temani suami kamu di dalam, karena suami kamu lebih membutuhkan kamu sekarang, ingat? kamu harus menjaga kandungan mu dengan baik, kalau sampai terjadi sesuatu dengan cicit ku? nenek tidak tidak akan memaafkan kamu begitu saja,'' ujar nenek Betu dengan sedikit mengancam Sania.


Sania terkekeh dengan ancaman nenek Beti, ''Sania janji, akan menjaga kandungan Sania dengan baik, tapi ijinkan Sania mengantar nenek pulang untuk yang terakhir kalinya,'' Sania setengah memohon agar di ijinkan untuk mengantar sang nenek oulang ke rumah nya.


''Baiklah, kalau begitu kamu ijin dulu sama suami kamu, karena nenek tidak mau di anggap sebagai penculik oleh suami dan semua keluarga mu,'' jawab nya dengan melipat kedua tangan di depan dada nya.


Sania mengangguk dan beranjak dari tempat nya, namun sebelum melangkah jauh Sania berpesan kepada sang nenek agar tetap menunggu di sana.

__ADS_1


''Nenek jangan kemana-mana, tunggu Sania di sana!'' seu Sania yang berdiri tak jauh dari tempat nya duduk bersama sang nenek, Nenek Beti mengangguk dan mengulas senyum di bibir tuanya.


Sedangkan di kota, Bunda dan Karan sudah berada di jalan menuju ke rumah sakit di mana Arlan di rawat, Arlan sengaja memberi kabar bahagia nya dengan sang Bunda karena sudah beberapa hari ini juga tidak bertemu dengan istri kecil nya, mungkin rasa kangen ku tidak seberapa di bandingkan dengan rasa kangen Bunda, pikir Arlan lalu menghubungi Karan dan juga Bunda mertua nya.


''Ayo Karan, lebih cepat sedikit? Bunda sudah sangat rindu dengan puteri kecil Bunda,'' gumam Bu Wati menyuruh Karan untuk menyetir lebih cepat dari biasa nya.


''Bunda yang sabar napa? adik nggak bakalan pergi ke mana-mana lagi kok, percaya sama Karan, apalagi dia sekarang tengah hamil jadi pasti dia akan pulang bersama nanti,'' jawab Karan dengan tetap menatap lurus kedepan, agar fokus nya tidak tetalihkan dengan obrolan nya dengan Bunda nya.


''Tapi Bunda kangen banget Karan,'' rengek sang Bunda, membuat Karan merasa kasihan dengan Bunda nya. Mengingat beberapa hati ini dia sudah begitu sedih dengan kepergian adik nya.


Karan memutuskan untuk menambah kecepatan mobil nya agar cepat sampai di rumah sakit, namun Bu Wati harus menelan kekecewa'an ketika melihat puteri kecil nya sudah tidak ada di rumah sakit, melainkan tengah mengantarkan nenek Beti ke rumah nya.


''Pergi kemana Arlan?'' tanya Karan yang tidak melihat adik perempuan nya di sana.


''Tadi dia pamit untuk mengantat nenek Beti pulang ke rumah nya, tadinya aku ingin menyuruh sopir yang mengantar mereka ke rumah nenek Beti, tapi saya urungkan karena Sania mengancam tidak akan kembali lagi ke sini kalau sampai di antar ke sana,'' jawab Arlan menundukkan kepala nya karena bagi Arlan keselamatan Sania dan juga valin bayinya adalah tanggung jawab dia, di sisi lain Arlan juga tidak bisa menentang apa yang di ucapkan oleh istri kecil nya,membuat dirinya merasa serba salah.


''Sudahlah jangan terlalu sedih seperti itu, sebentar lagi istri kamu akan kembali kok?'' kata Bu Wati mengelus punggung menantu nya.


''Semoga saja Bunda, Arlan tidak mau kehilangan Sania untuk yang kedua kalinya Bunda, Arlan mencintai dia sangat mencintai nya,'' gumam Arlan dengan nada lirih nya..


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2