
Setelah dua hari di rawat di rumah sakit Sania kini di perbolehkan pulang ke rumah nya, selama berada di rumah sakit Sania hanya di temani oleh Riana dan juga Rian, sedangkan yang lain disuruh pulang sama Riana.
Mama Citra sendiri awalnya nggak mau di suruh pulang, dia selalu ingin menjaga Sania di rumah sakit? namun Riana memohon agar sang Mama pulang agar Bunda nya tidak merasa curiga kalau Sania benar-benar pergi dengan saudara kembarnya itu.
''Kak Rian? mobilnya sudah siap,'' tanya Riana pada sang kakak yang sedang bermain ponsel.
''Sudah ada di depan, kita jadi pulang sekarang?'' tanya Rian pda Riana dan juga Sania.
''Iya kak? Sania sudah nggak betah di sini, kasurnya keras?'' rengek Sania dengan di susul kekehan kecil, menandakan dia sudah sangat sehat untuk saat ini.
''Mari kakak bantu,'' Ucap Rian pada Sania.
''Nggak usah kak, Sania bisa sendiri kok?'' tolak Sania ketika Rian ingin membantunya naik ke kursi roda.
''Sudahlah, lebih baik kamu menurut saja apa kata kita berdua,'' sela Riana mendudukkan Sania ke kursi roda yangndinbawa kakak nya.
Dengan terpaksa Sania menurut apa kata saudara kembar itu, Rian memdorong kursi roda, sedangkan Riana membawa tas yang berisi baju baju Sania dan juga bajunya sendiri.
Sesampainya di mobil Sania di bantu oleh Riana memasuki mobilnya, dan diikuti oleh kedua nya setelah mereka siap, mobilnya di lajukan dengan perlahan sampai di jalan beraspal, baru kecepatan nya di tambah. Hanya membutuhkan waktu kira kira satu jam Rian mengendarai mobilnya dan saatnininsudah sampai di halaman rumah besar nya, yang beberapa hari ini ia tak lihat karena harus menjaga Sania di rumah sakit pinggiran desa.
''Sania langsung pulang ke rumah saja kak?'' ujar Sania sebelum benar-benar turun dari mobil yang ia tumpangi.
__ADS_1
''Lebih baik kamu istirahat saja sebentar, nanti Bunda malah marah di saat melihat keadaan kamu yang pucat seperti ini,'' sela Riana menuntun Sania masuk kerumah nya.
''Kak Riana? hari ini kak Karan pulang ke rumah, dan Sania sudah sangat kangen pada kak Karan?'' rengek nya, namun rengekan Sania tidak ia gubris, Riana tetau saja menuntun Sania ke dalam dan membawa ke kamar yang ada di lantai atas. Mama Citra sangat senang karena Sania sudah pulang ke rumahnya.
''Kenapa nggak di bawah saja sayang?'' tanya sang Mama ketika melihat puteri nya membawa Riana menaiki anak tangga menuju lantai atas.
''Biar Sania istirahat di kamar Riana saja Ma, Sania biar Riana saja yang jaga? atau kita minta saja sama Bunda kalau Sania tinggi di sini sama kita Ma?'' jawab Riana yang langsung mendapatkan celengan pelan dari Sania dan juga Mama Citra.
''Ya nggak githu juga kak, Mama bisa kok tiap hari kerumah Sania kalau memang Bunda kamu lagi kerja atau sedang keluar rumah, kasian Bunda kamu dong sendirian di rumah nya,'' sela sang Mama yang di angguki Sania.
''Yang di katakan tante itu benar kak, lagian Bunda sendirian di rumah kalau Sania harus tinggal di sini sama kalian semua,'' sambung Sania dengan nada lirih nya.
''Lha kan sekarang sudah ada kak Pinky dan juga kak Karan yang akan menemani Bunda Sania, dan lebih baik kamu beristirahat saja nggak usah memikirkan hal yang aneh aneh lagi, agar anemia kamu nggak terus terusan bersemayam di tubuh kamu, kalau seperti ini terus kamu bakalan kayak zombie namun hidup,'' sela Riana yang tidak mau lagi mendengar kata kata yang akan dikatakan oleh Mama dan juga saudara sepupu nya tersebut.
''Tidur lah kakak akan turun dulu untuk mengambil kan makanan untuk kamu makan?'' pamit Riana pada Sania.
''Kak Riana, Sania tidak mau makan apa apa, Sania ingin minum coklat panas saja kayak anak dech?'' pinta Sania pada kakak sepupu nya yang selama ini sudah baik sama dia.
''Bagaimana aku bisa membalas semua kebaikan kamu kak, aku nggak mau kamu merasa sedih jika aku sudah di panggil oleh sang Khalik,'' gumam Sania sepeninggal Riana yang keluar dari kamar nya.
Riana berjalan sembari bersenandung melewati ruang tengah di mana disana sudah ada kak Karan dan juga kak Pinky yang sedang mengobrol dengan Rian dan juga Roni di sana.
__ADS_1
''Riana? Sania mana'' sapa kak Karan ketika melihat Riana hanya turun sendiri dari lantai atas.
''Kak Karan, kapan datang?'' tanya Riana menghampiri sepupu laki-laki yang baru pulang dari bulan madu nya.
''Kakak sudah dari kemarin datang nya, kemarin juga kakak ke sini kok tapi kalian belum pulang dari jalan jalan nya,'' terang kak Karan. ''Oiya, kalian jalan jalan kemana sich? soalnya aku telfon handphone Sania tak pernah aktif,'' tambah nya lagi mengangkat satu alisnya ke atas, ketika melihat Riana dan juga Rian saling pandang.
''Kalian berdua tidak menyembunyikan sesuatu kan dari kakak?'' cecar Karan yang pertanyaan nya tidak di tanggapi oleh saudara sepupu nya.
''Sebentar ya kak, tadi Sania minta coklat panas, Riana bikinin coklat panas dulu untuk Sania, takutnya dia tambah ngambek kalau nggak di bikinin,'' sela Riana mencari alasan agar terguncang dari pertanyaan pertanyaan yang lain nya lagi oleh kakak sepupu nya.
Riana bergegas pergi ke dapur untuk membuat kan coklat panas permintaan Sania tadi, segelas coklat panas dan sepiring cemilan kini sudah berada di tangan Riana, tinggal dia memberikan itu semua pada Sania yang sedang istrahat di kamar nya.
''Sini biar camilan nya aku yang bawa,'' ujar Pinky yang menghampiri Riana dan mengambil piring yang berisi cemilan dintngan Riana.
Riana mengangguk dan melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya, ''Maaf dek lama?'' Ucap Riana ketika sudah membuka pintu kamar nya.
''Nggak apa apa kok kak, seharusnya Sania yang minta maaf karena sudah merepotkan kakak?'' jawab Sania tanpa melihat dengan jelas siapa yang ada di belakang Riana saat ini.
''Adik kenapa,'' tanya Pinky letika sudah menaruh cemilannya di atas nakas samping tempat tidur.
''Kak Pinky juga ada di sini,'' sahut Sania dengan keterkejutan nya. ''Kapan kakak pulang dari Bali, dan mana oleh oleh nya dari Bali kak?'' Sania menengadahkan tangan meminta oleh oleh dari saudara ipar nya itu.
__ADS_1
''Oleh oleh nya ada di rumah, kemarin kakak juga datang ke sini? tapi kamu belum pulang, emangnya kuliah kamu libur kok jalan jalan nya lama banget,'' jawab Pinky seraya bertanya tentang kuliahnya.
''Kebetulan Sania sudah ijin kak? lagian Sania jalan jalan juga mencari sesuatu yang ada di tugas kampus Sania kak, untung kak Riana dan kak Rian mau membantu Sania pergi kedesa?'' bohong Sania. 'Maaf kak Sania harus berbohong pada kamu, Sania nggak mau bilang yang sejujurnya pada kalian semua, biarlah cukup beberapa orang saja yang tau penyakit ku ini,' gumam Sania dalam hati.