
Di dalam ruangan nya Sania tengah mengecek semua berkas berkas yang tadi di bawah sekretaris nya, Sania membaca berulang ulang agar tidak ada kesalahan sama sekali, tapi dia masih tidak menemukan permasalahan yang di alami kantor cabang nya.
''Sebenarnya apa masalah nya sich di kantor cabang ini, aku tidak menemukan yang hal yang aneh pada berkas berkas ini,'' gumam Sania menaruh kepala nya ke atas meja. Kepala nya serasa berdenyut memikirkan hal ini, dan Sania memutuskan untuk kembali ke penginapan yang sudah di pesan Sania sebelum dia datang tadi pagi.
''Kak, aku balik ke penginapan dulu, berkas nya Sania bawa dan akan Sania pelajari di sana,'' tutut Sania pada sekretaris nya yang tengah berkemas untuk segera kembali ke rumah nya.
''Baik Nona, mau saya antar sampai ke penginapan?'' tanya sang sekretaris yang langsung di tolak Sania.
''Nggak usah kak, aku juga sudah memesan taksi kok,'' jawab nya tersenyum dan melangkah ke luar kantor untuk menghampiri taksinyangnsudah ia pesan.
''Ke alamat ini Pak?'' Ucap Sania menunjukkan secarik kertas pada sang sopir, sopir taksi pun mengangguk dan membawa Sania ke alamat tersebut.
Di sepanjang perjalanan Sania hanya menatap kaca samping nya, sebagian sawah yang di tanami padi sudah pada menguning, banyak burung butung yang hinggap di atas padi hanya sekedar mencari makan untuk dirinya sendiri dan juga buat anak anak nya yang tengah menunggu nya di sarang nya.
''Andai aku menjadi burung yang bisa terbang bebas, dan lagi tanpa beban di pikiran dan juga di otak ku,'' desah Sania, namun sedetik kemudian senyuman nya terukir di bibir tipis yang tanpa polesan pewarna (lipstik).
''Sudah sampai Nona,'' kata sangat supir membangunkan dari lamunan nya.
''Och iya Pak terima kasih,'' balas Sania menyodorkan uang sesuai tarif yang di sebutkan oleh supir taksi tersebut.
Sania keluar dengan membawa tas punggung yang berisi beberapa bajunya. Sania berjalan menuju kamar yang sudah ia pesan, namun dia juga harus menghampiri sang resepsionis untuk mengambil kunci kamar nya.
''Kamar 212,'' gumam Sania setelah menerima kunci kamar nya, '''Lagian kenapa juga harus dapat kamar seperti nomor kapak wiro sableng segala sich,'' keluh Sania yang terus menelusuri lorong untuk sampai ke kamar nya.
__ADS_1
''Ini Nona kamar nya,'' kata sang karyawan yang ditugaskan untuk mengantarkan Sania sampai ke depan kamar nya.
''Terima kasih Mas?'' jawab Sania ramah dan mengulitkan tangan nya pada seorang laki-laki yang sudah mengantar nya, ''Ini buat Mas?'' lanjut Sania seraya mengembang kan senyum nya.
''Terima kasih Nona, kalau butuh sesuatu bisa panggil kami,'' sela sang karyawan yang di angguki Sania.
Sania menempelkan kartunya untuk membuka membuka pintu kamar nya beberapa hari ke depan.
''Akhirnya aku bisa beristirahat juga,'' gumam Sania menjatuhkan bobot tubuh nya ke atas kasur empuk yang ada di dalam penginapan tersebut.
Sania memjamkan matanya karena sudah merasa sangat mengantuk. Tak butuh waktu yang lama Sania kini sudah menjelajahi alam mimpi nya yang begitu indah bahkan dia juga tak menginginkan untuk bangun dari tidur nya.
Sedangkan di tempat lain, Bu Wati merasa khawatir karena handphone Sania sejak tadi siang tidak bisa di hubungi, Bu Wati terus saja berfikir positif kalau puteri nya baik baik saja, namun rasa khawatir nya melebihi dari segala nya membuat Bu Wati hanya bisa mondar-mandir nggak jelas di dalam rumah besar nya.
''Ibu kenapa?'' tanya Pinky saat sudah masuk ke dalam rumah suami nya.
''Ibu nggak usah bohong sama Pinky, Ibu sedang khawatir kan? emang apa yang sedang Ibu pikirkan,'' tanya Pinky lembut seraya menuntun mertuanya untuk duduk di sofa yang berada tak jauh dari mereka berdiri.
''Handphone Sania nggak bisa di hubungi, Ibu takut terjadi sesuatu pada dia?'' jawab Bu Wati dengan terpaksa, karena dia juga sudah tak punya pilihan lagi dan harus berkata jujur pada menantunya itu, siapa tau dia bisa membantu nya tanpa sepengetahuan dari putera nya.
''Emang nya dia pergi kemana Bu, dan kenapa Ibu ijinin dia untuk keluar dari rumah, sedangkan dia baru kemarin keluar dari rumah sakit,'' Pinky mencecar berbagai pertanya'an kepada mertuanya.
''Ibu minta maaf, Ibu sudah tidak tau lagi harus berbuat apa pada Sania? tadi pagi dia ngambek dan Ibu merasa sangat bersalah karena tanpa sadar Ibu sudah banyak mengatur kehidupan dia?'' jelas Bu Wati pada Pinky yang juga mulai khawatir.
__ADS_1
''Mas Karan tau soal ini?'' Pinky memberondong mertua nya, memastikan kalau suaminya sudah mengetahui kepergian Sania adik nya.
''Dia sudah tau kalau Sania pergi, tapi Ibu bohong? Ibu bilang Sania pergi bersama teman teman nya, karena Ibu sudah berjanji kepada Sania untuk tidak memberitahu kakak nya,'' kini Bu Wati tengah menangis di hadapan menantu nya.
''Ya sudah Ibu jangan menangis lagi ya, Pinky coba menghubungi handphone Sania sekarang,'' bujuk Pinky agar mertuanya berhenti dari tangisan nya. Pinky membuka tas yang iya bawa lalu ia mengambil ponsel dan langsung menghubungi adik ipar nya.
''Bagaimana?'' tanya Bu Wati dengan nada sedih nya.
''Masih nggak aktif Bu, mungkin dia sedang beristirahat dan sengaja mematikan handphone nya,'' jawab Pinky dan masih tetap mencoba menghubungi adik ipar nya.
''Coba kamu hubungi Karan, minta nomor kantor cabang,'' suruh Bu Wati pada sang menantu.
Pinky mengangguk dan menghubungi suaminya yang tengah berada di ruangan Om Arzan.
Tut tut tut
Panggilan tersambung, Karan yang merasa handphone nya bergetar langsung merogoh saku celana nya, dan di lihat nya nama pemanggil yang tertera di layar handphone nya.
-''Iya kenapa sayang?'' tanya Karan setelah menggeser layar handphone nya itu.
-''Mas aku mau minta nomor kantor cabang?'' sahut Pinky tho the poin. Karan mengangkat satu alis nya ke atas mendengar perkataan sang istri barusan.
-''Untuk apa nomor kantor cabang sayang,'' tanya Karan yang penasaran dengan istri nya yang tiba-tiba meminta nomor kantor cabang, sedangkan Karan tak pernah mengatakan ada kantor cabang pada istri kecil nya itu.
__ADS_1
-''Kirim saja, Ibu yang menyuruh aku untuk bertanya, beliau bilang akan mengirim saudara jua yang dari kampung ke kantor cabang? ya saudara Ibu ingin kerja di sana,'' bohong Pinky karena dia sudah mendapatkan kode dari mertua nya agar tidak mengatakan yang sesungguhnya.
-''Ya sudah kalau gitu, aku akan kirim lewat chat saja,'' balas Karan lalu memutuskan begitu saja panggilan nya.