Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 106 Pingsan


__ADS_3

Keberangkatan kak Karan dan kak Pinky ke Bali untuk bulan madu tanpa kehadiran dan tanpa aku juga mereka pergi, aku sempat punya fikiran tentang abaian, aku hanya ingin semua orang bahagia di detik-detik terakhir ku di dunia ini, aku memang tak patah semangat untuk tetap sehan dan sembuh dari penyakit ku ini, namun aku berfikir kembali dengan penyakit yang baku deriya yang tak mungkin bisa sembuh sudah menghancurkan harapan terbesar ku yakni untuk sembuh dan bebas dari penyakit yang aku derita sekarang.


Kini aku tengah berada di kantin yang berada di sekitaran kampus, aku tengah menyantap makanan yang aku pesan baru saja, dengan segelas teh anget aku mulai memakan makanan ku agar aku bisa meminum obat yang selama aku konsumsi, hanya untuk mengurangi rasa sakit yang sewaktu-waktu akan kambuh.


''Sania?'' sapa salah satu teman kampus yang beda jurusan itu.


''Iya, ada ya kak?'' jawab ku penasaran, karena cuma sekarang dia menyapaku.


''Apa kabar? kemarin kamu jatuh di toilet, apa kamu sudah beneran sembuh,'' tanyanya gugup.


''Alhamdulillah sehat kak? dan soal yang kemarin aku sudah melupakan nya juga, emangnya kenapa ya kak?'' tanya ku menyelidik.


''Sania, ayo balik ke kelas? bentar lagi dosen killer masuk lagi ke dalam kelas kita,'' ajak Rani yang datang menghampiri ku.


'Alhamdulillah? penyelamat ku datang juga, aku juga bingung kalau ngobrol sama laki-laki yang tak aku kenal,' ucapku dalam hati.


''Maaf ya kak? aku tinggal, assalamu'alaikum,'' Ucap ku sopan seraya mengangguk kan kepala.


''Sania, lebih baik kamu menghindari cowok itu, kalau nggak kamu dalam masalah besar?'' bisik Rani memberi tahu ku.


''Masalah besar kenapa? aku ora mudeng blas Rani,'' tanya ku penasaran, sekilas aku menoleh kearah belakang melihat wajah laki-laki yang tadi menyapaku


''Nggak usah di lihat kayak gitu, awas nenek lampir muncul dan kamu akan mendapatkan masalah akan hal itu,'' jawab nya memutar kepalaku yang tengah memandang laki-laki yang kini tengah duduk sendiri di sana.


Aku berjalan dengan cepat agar segera mengistirahatkan tubuhku nyang kulai lelah, 'Ya Allah? aku mohon jangan sekarang, aku minta nanti kalau mau sakit,' gumamku dalam hati ketika merasakan tak enak di kepala, dan hidungku terasa mulai mengeluarkan sesuatu.


Dengan segera aku berjalan menuju mejaku, aku menaruh kepalaku di atas meja, dan tanpa sepengetahuan ku juga dosen killer sudah memasuki kelas ku saat ini, aku masih dengan posisi yang sama, dengan kepala menempel di atas meja. Sekejap aku terlelap karena kepalaku yang terasa sakit.


''Kamu yang di sana, cepat ke depan?'' tegur sang dosen killer padaku, Rani yang kebetulan ada di sampingku mencoba membangunkan aku yang tengah terlelap tidur.


''Sania cepat bangun, kalau kamu tidak segera membuka matamu, kamu akan mendapatkan masalah dari dosen killer kita,'' bisik Rani tepat di telingaku.

__ADS_1


Aku mengerjapkan mataku sejenak dan berkata pelan, ''Lima menit lagi Rani, kepalaku sakit seakan mau pecah?'' jawab ku lalu melanjutkan kembali rebahan ku.


Dosen killer yang sudah kesal hanya merutuki sifatku yang acuh tak acuh pada sang dosen. ''Namanya siapa?'' tanya dosen itu dingin.


''Dia Sania Pak?'' jawab Rani takut. 'Sania hari ini kamu dalam masalah, dan jangan salahkan aku karena aku sudah bilangnsamankaku barusan?' ucap Rani dalam hati.


''Bangun!'' Ujar sang dosen di samping tempat duduk ku.


''Rani,sebentar lagi ya? kepalaku masih pusing,'' jawab ku tanpa membuka mataku yang tentang terpejam.


''Kalau kamu ingin tidur lebih baik kamu pulang dan tidur dirumah kamu sendiri, bukan malah tidur di kampus seperti ini,'' Ucapnya ketus dan tegas, aku terperanjat mendengar nya.


'Astaghfirullah, aku kira dia Rani,' batinku.


''Maaf Pak,'' jawab ku membenarkan posisi duduk ku.


''Lebih baik kamu kerjakan soal yang aku terangkan tadi di depan, kalau kamu bisa menjawab semua pertanyaan di papan tulis, aku akan memaafkan kamu, tapi kalau kamu sampai tidak bisa menjawab semua itu, saya tidak akan segan segan memanggik orang tua kamu untuk datang ke kampus ini,'' sambung nya dengan sedikit ancaman di nadanya.


Aku mengambil spidol di atas meja dan mulai mengerjakan tugas yang dosen suruh kerjakan barusan. Tapi ternyata aku tak sekuat yang aku harapkan, baru aku mengerjakan tugas nomor dua, tubuhku sudah tumbang dengan darah yang sudah mengalir dari hidungku. Sekilas aku mendengar teriakan teman teman yang melihat aku jatuh, namun setelah itu aku tak mengingat apa apa lagi, hanya kegelapan yang aku lihat saat aku mulai memejamkan mataku. Semua orang disana panik, terutama sang dosen sendiri.


''Pak, bagaimana ini,'' tanya salah satu mahasiswa nya pada sang dosen.


Dosen yang tengah mengajar terkejut ketika melihat darah yang keluar dari hidungku, dengan cepat dia menggendong membawa ku ke UKS.


''Apa yang terjadi pada Sania Rani?'' tanya yang lain.


''Aku juga nggak tau? dia hanya bilang sedikit pusing tadi sebelum dosen killer itu membangun kan nya,'' jelas Rani pada teman nya.


''Apa mungkin Sania sakitnya serius, sampai dia mengeluh darah segar dari hidungnya,'' tanyanya lagi, namun kini Rani hanya menggeleng dan terus mengikuti langkah dosen killer ke ruang UKS.


''Kenapa lagi gadis ini Pak?'' tanya seorang wanita yang bertugas jaga di ruangan UKS tersebut.

__ADS_1


''Saya juga nggak tau apa penyebabnya dia pingsan dan mimisan seperti ini,'' jawab sang dosen dingin.


''Apa dia mengeluh kesakitan, sebelum dia pingsan pak?'' tanya nya lagi.


''Tadi dia sempat mengeluh sakit kepala kak, namun dosen masih terus menyuruh dia untuk menjawab tugas yang beliau tulis di papan tulis,'' jelas Rani yang kini sudah berada di samping ku.


''Dokter? mungkin gadis ini memiliki penyakit, lebih baik dokter sendiri yang memeriksa nya,'' sela wanita yang mendapat tugas jaga di ruang UKS.


''Apa kak? dosen ini seorang dokter,'' tanya Rani terkejut.


''Sudahlah, lebih baik kamu diam dan lihat sendiri,'' balas kakak yang bertugas di sana.


Dosen killer itu lantas mulai memeriksa ku yang kini tengah lemas, dia sedikit terkejut dengan keadaan ku saat ini, dia menatap Rani yang tengah berdiri di samping ranjang ku.


''Mungkin dia membawa obat nya, cepat kamu ambilkan tas mahasiswa ini,'' sang dosen menyuruh Rani untuk mengambil tas ku yang tertinggal di kelas.


Rani berlari menuju kelas untuk mengambil tas selempang ku. Sebelum dia benar-benar mengambil tas selempangku dia melihat terlebih dulu isi dalam tas ku, dan ternyata benar obat yang di maksud dosen itu sudah ditemukan oleh Rani teman sebangku di kampus.


''Sebenarnya Sania punya penyakit apa? sehingga dia harus membawa obat sebanyak ini ke kampus,'' gumam Rani sambil berlalu menuju ke ruangan UKS. Rani berlari menuju ke sana karena dia mulai khawatir dengan keadaan ku yang meminum banyak obat ini.


''Dok? apa nggak sebaiknya membawa gadis ini ke rumah sakit saja, darah di hidungnya masih tetap keluar Dok?''


''Tenanglah dia akan segera sadar, dan kita tinggal memberi obat yang dia konsumsi tiap harinya.


'Gadis ini punya penyakit yang serius, mungkin dia tak teratur meminum obatnya sehingga membuat dia seperti ini sekarang?' batin sang dosen yang tengah menatap ku tajam.


''Pak dosen? ini obat nya Sania,'' Ujar Rani memberikan obat yang diminta dosen nya.


''Apa kamu tau dia sakit apa?'' tanya sang dosen pada Rani.


Rani menggeleng seraya berkata, ''Saya nggak tau Sania sakit apa pak, apa penyakit nya begitu serius, sampai sampai dia harus membawa semua obat ini di dalam tas nya,'' tanya Rani menyelidiki.

__ADS_1


'Sebenarnya apa yang terjadi pada Sania Tuhan? tolong sembuhkanlah dia dan angkat lah semua penyakit yang sekarang ia derita,' gumam Rani pelan, dia juga memejamkan matanya karena tak tega melihat kondisi temannya yang satu ini.


__ADS_2