Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 142 Kekecewa'an Sania


__ADS_3

Sejak saat itu, Sania tak lagi meminum obat nya, dia selalu membuang obat nya ketika sudah waktu meminum nya. Sehari.


Dua hari.


Arlan tak mengetahui jika Sania selalu membuang obat nya, namun di hari ke-tiga Arlan mengetahui jika Sania tak lagi meminum obat nya, dia malah membuang ke tong sampah yang ada di ruangan nya, Arlan mengetahui nya ketika dia tak sengaja melihat Sania mengambil obat nya, Arlan tadinya tersenyum karena dia pikir Sania selalu rutin meminum obat nya. Namun dia harus merasa kecewa saat melihat Sania beranjak dari tempat nya dan menuju ke tong sampah dan seketika itu Sania menjatuh kan obat obat nya di tong sampah.


Arlan mengurungkan niat nya untuk masuk ke dalam ruangan Sania kalau itu, dia kembali ke ruangan nya dengan perasa'an sedih, ''Kenapa Sania membuang obat nya begitu saja? apa dia tak menginginkan kesembuhan,'' pikir Arlan yang terus menghantui di setiap kali dia memikirkan Sania yang begitu tega kepada semua orang di sekeliling nya.


''Seharus nya kamu tak berbuat seperti itu, apa kamu sudah menyerah untuk kesembuhan kamu Sania,'' tukas nya menjambak rambut nya dengan kasar, dengan mondar-mandir didalam ruangan nya membuat Arlan semakin teringat tingkah Sania yang membuang obat nya begitu saja, Arlan pun memutuskan untuk keluar sebentar, Arlan berjalan menuju ke taman di depan kantor nya.


''Apa aku harus bilang kepada Karan? tentang Sania membuang obat nya,'' gumam Arlan frustasi. ''Achhh... entar yang ada Karan malah mengimeli Sania dan membuat dia bertambah sedih saja,'' Arlan merutuki kebodohan nya.


Di taman kinindia hanya diam seorang diri, karena saat ini masih jam kantor bukan jam istirahat. Sedangkan di dalam kantor Sania tengah mencari Arlan, Sania ingin menanyakan berkas yang ia tanyakan tadi kepada Arlan.


''Maaf mbak, lihat mas Arlan?'' tanya nya ramah kepada salah satu karyawan nya.


''Pak Arlan kayak keluar dech bos? mungkin dia depan,'' jawab sang karyawan tak kalah sopan nya.


''Terima kasih ya,'' balas Sania mengembangkan senyum nya, dan dia pun melangkah kan kaki menuju depan gedung, namun tak ada tanda tanda Arlan berada di sana.


Kemudian Sania bertanya kepada satpam yang bertugas di depan, ''Maaf Pak, lihat pak Arlan nggak?'' tanya nya seraya mengedarkan pandangan nya ke sembarang arah.


''Pak Arlan?'' kata sang satpam berpikir sejenak, ''Kayak nya Pak Arlan ke arah taman yang dei depan sana dech bos?'' tukas nya menunjuk ke taman yang berada tak jauh dari kantor nya.


''Ya sudah, kalau gitu terima kasih ya Pak,'' jawab nya menganggukkan kepala nya, Sania terus saja melangkah ke arah taman untuk mencari keberada'an Arlan.


''Ngapain jam segini mas Arlan ke sini ya, atau dia ke sini untuk bertemu dengan pacar nya,'' pikir Sania pelan, sedangkan pandangan nya terus mencari cari keberada'an Arlan.

__ADS_1


Arlan nampak tengah tiduran di kursi, tepat nya di bawah pohon yang lumayan besar, semilir angin begitu sangat nyaman ketika menyapu gamis Sania yang melekat di tubuh kurus nya.


''Mas Arlan, ngapain di sini? bukan kah tadi aku meminta berkas yang untuk di antarkan ke ruangan ku?'' Sania mencecar Arlan dengan berbagai pertanya'an.


Arlan hanya membenarkan posisi nya saja, tanpa mau membalas ucapan Sania. ''Ada masalah apa sich Mas, dan kenapa kamu malah diam saja tak membalas pertanya'an ku,'' tanya nya lagi ketika pertanya'an pertama tak mendapatkan respon.


Sania mengerutkan kening nya melihat sikap Arlan yang membuat dia sangat penasaran. ''Kalau sudah lebih baik, cepat kembali ke kantor. Aku sangat membutuhkan berkas berkas itu untuk menemui klien,'' tukas nya dan beranjak dari dari tempat nya, berjalan menuju ke kantor nya, Namun tak seberapa jauh?hidung Sania mulai mengeluarkan darah lagi, dengan tergesa-gesa dia berjalan untuk menjauh dari Arlan. Tapi sayang Sania yang begitu lemah harus terjatuh ketika berlari menjauhi Arlan.


''Sania!!'' teriak Arlan ketika melihat tubuh Sania ambruk di tepi jalan, Arlan berlari cepat untuk menghampiri Sania yang sudah tak sadarkan diri. Arlan melihat hidung Sania berdarah, ''Darah??'' lirih nya menatap tangan yang sempat mengusap hidung gadis pujaan nya itu.


Arlan yang kalut memutuskan untuk menggendong Sania ke kantor nya untuk mengambil mobil, namun sial nya kunci mobil ada di dalam ruangan nya.


''Bos kenapa Pak?'' tanya sang satpam yang melihat Sania lemah tak berdaya.


''Cepat carikan taksi Pak, aku harus membawa Sania kerumah sakit sekarang?'' tetangga Arlan yang langsung di angguki sang satpam.


Arlan berjalan dengan langkah lebar nya menuju ke taksi, ''Ke rumah sakit Pak,'' Ucap Arlan pelan, tangan nya terus memeluk Sania yang masih tak sadarkan diri.


''Bangun Sania, aku mohon kamu bangun sekarang?'' lirih nya mengusap ngusap jemari tangan Sania agar tetap hangat.


Setiba di rumah sakit Arlan memanggil dokter dan juga suster untuk segera menangani gadis nya.


''Dokter, tolong cepat bantu dia dok?'' pintar Arlan dengan nafas masih memburu di dada nya.


''Lebih baik Bapak tunggu di liat saja, biar kami memeriksa nya sekarang?'' kata dokter wanita yang masuk ke ruang IGD, di mana di sana Sania dibaringkan di brankar rumah sakit.


Sedang semua suster yang berada di sana tengah membersihkan darah yang masih mengalir dari hidung nya.

__ADS_1


''Dokter, kayak nya nona ini sakit parah?'' gumam Suster yang sedang membersihkan darah di hidung Sania.


Sang dokter mengangguk pelan ketika dia sudah memeriksan nya, ''Benar yang Anda bilang suster? dia mengidap penyakit yang sangat serius, sedangkan disini dokter nya sedang tidak ada di tempat,'' keluh sang dokter yang di angguki suster di samping nya.


''Terus kita harus apa dokter sekarang?'' tanya nya bingung.


''Lebih baik kamu cepat panggil dokter Michael sekarang juga,'' titah nya.


''Tapi Dok, dokter Michael sedang pulang ke rumah nya?'' jawab nya mengingat kan.


''Biar aku saja yang hubungi dokter Michael sekarang juga,'' sang dokter pun merogoh saku jas nya guna mengambil ponsel, dia mencari nomor ponsel dokter Michael di sana. Setelah itu diapun langsung menelfon nya.


-''Ada apa Dok,'' tanya dokter Michael datar, setelah menggeser layar nya.


-'Ada pasien kanker di rumah sakit ini Dok,''


-''Pasien kanker, atas nama siapa?''


-''Sania, ya atas nama Sania Dokter?''


-''Sania?'' ulang dokter Michael, membuat seseorang di samping nya terkejut.


''Kenapa dengan Sania Michael,'' tanya nya dengan rasa khawatir nya.


''Sania, penyakit nya kambuh? dan sekarang tengah pingsan,'' jawab nya.


''Ayo Michael kita segera ke sana, aku ingin tau keadaan sepupu ku sekarang juga,'' ajak nya setengah memohon.

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk datang ke kota di mana Sania tengah dirawat.


__ADS_2