Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 38


__ADS_3

Wanita tua itu terus memukuli Paiman, namun penjaga satu nya hanya terkekeh geli melihat kedua orang yang sedang berdebat.


''Apa sich Bi! sakit tau nggak?!'' desis Paiman mengelus punggung kiri nya yang sering di pukul oleh ketua pelayanan di rumah ini.


''Kamu yang apa apa'an! rumah ini bukan tempat orang mabuk mabukan!'' cetus nya seraya melempari Paiman dengan botol air mineral.


''Siapa yang mabuk Bi? aku nggak mabuk, lagian mana mungkin mabuk, lawong yang di minum saja kopi bukan yang ada alkohol nya,'' bela Paiman seraya menutupi wajah ganteng nya, menurut Paiman sich.


Penjaga satunya pun akhirnya mengangguk kan kepala nya pelan, ''Paiman hanya menirukan orang mabuk saja,'' sambung nya santai, karena sedari tadi dia hanya menjadi penonton yang baik, dan sesekali dia bertepuk tangan.


''Kamu bukannya dari tadi belain aku, malah tepuk tangan segala, bagaimana kalau aku mati di gebukin Bibi?'' sarkas Paiman melotot ke arah teman nya yang satu profesi.


''Iya itu derita lho Man? bukan deritaku,'' jawab nya tak berperi kemanusia'an.


Sang Bibi langsung memukul bahu Arto karena perkata'an nya tak ada setia kawan sama sekali.


*********


Hari yang mulai beranjak siang Sania dan Karan memilih tidur tiduran di dalam rumah kontrakan nya, karena hari ini adalah hari minggu, jadi semuanya bisa bersantai ria, mungkin semua orang pada libur bekerja, tapi Karan malah masuk kerja tapi nanti ketika jam sudah menunjukkan 4 sore.


''Karan?'' panggil sang Ibu dari belakang rumah kontrakan nya, karena beliau sedang menjemur pakaian yang selesai ia cuci.


''Iya Bu?'' sahut Karan, yang langsung menghampiri nya.


''Jemuran yang kering tolong di taruh di kamar ya, nanti saja Ibu lipat nya,'' suruh sang Ibu menunjuk baju yang sudah ada di keranjang pakaian.


Akau mengangguk seraya berkata, ''Baik Bu?'' aku langkah kan kakiku memasuki rumah dan menaruh keranjang yang aku bawa di kamar Ibu, yang sedikit lebih luas dari kamar ku.


Sampai suara ketukan pintu terdengar dari luar, Sania yang awalnya tiduran kini beranjak bangun dan berjalan menuju ke arah pintu yang di ketuk seseorang dari luar.


Tok tok tok


''Assalamu'alaikum,'' orang tersebut seraya mengucapkan salam saat mengetuk pintu rumah ku.

__ADS_1


''Waalaikum salam?'' nampak Sania menjawab salam orang yang mengetuk pintu rumah ku.


Kreet


Bunyi pintu di buka dari dalam, Sania melongok kan kepala nya keluar, melihat tamu yang datang ke rumah kontrakan nya.


''Maaf cari siapa?'' tanya Sania yang tak kenal dengan wanita yang berada di depan pintu.


Cinta sudah tak bisa menahan untuk memeluk sang ponakan yang sudah menginjak remaja itu. Cinta menghambur memeluk Sania ponakan nya, anak dari kakak nya.


''Sayang?'' sapa Cinta pada ponakan nya.


''Maaf anda siapa?'' tanya Sania bingung.


''Dia adik tante Sania?'' sambung kak Citra yang sedari tadi hanya menjadi pendengar yang baik.


''Tante Citra? Sania nggak faham yang di katakan tante,'' tanya Sania yang semakin bingung.


''Siapa dek??'' tanya Karan yang berjalan menghampiri sang adik.


''Tante Citra kak,'' sahut Sania, yang masih menatap ke arah Cinta.


Karan menatap rombongan orang yang masih berada di luar rumah nya pun berkata, ''Kok nggak disuruh masuk sich dek?'' Ucap Karan. ''Tante, om dan adik adik ayo masuk, maaf kalau rumah nya kecil,'' Ucap Karan lagi mempersilahkan para tamu nya.


Mereka semua mulai memasuki rumah kontrakan nya yang tak begitu luas itu. Sania mengambil tikar yang di gulung dan di letakkan di belakang pintu, Sania menggelar tikar tersebut karena kursi nya tidak cukup dengan kehadiran 7 orang yang datang ke rumahnya.


''Maaf tante, kalian harus duduk di lantai kayak gini,'' Ujar Karan merasa tak enak hati, seorang pengusaha terkenal duduk di lantai rumah kontrakan nya.


''Nggak apa apa? kamu lagi nggak ke restoran?'' tanya kak Citra tersenyum.


''Nanti Sore tante, Karan lagi chif malam di restoran,'' jawab Karan. Sedangkan Sania sudah pergi ke belakang untuk membuat minuman, walau itu hanya teh manis saja.


''Bikin teh buat siapa?'' tanya sang Ibu yang baru masuk ke dalam rumah nya.

__ADS_1


''Itu di luar ada banyak tamu Bu? gelasnya kan kurang, jadi Sania bikin di ceret saja biar di tuang sendiri,'' balas Sania mengaduk teh hangat nya. Tak butuh waktu lama kini Sania sudah membawa ceret dan beberapa gelas yang sudah di taruh di atas nampan.


Sania menaruh nampan yang berisi teh di tengah-tengah mereka. Ibu Wati mengikuti langkah puteri nya yang menaruh teh yang ia bikin barusan.


''Maaf, jadi duduk di bawah gini,'' kata Bu Wati menjabat tangan mereka semua nya.


''Lho Ibu ini yang semalam ngasih nasi sama bebek goreng itu kan?'' ucap Andriana mengingat seorang Ibu yang sudah baik padanya semalam.


''Ach iya, kok kamu tau rumah Ibu di sini,'' balas Bu Wati seraya tersenyum.


''Jadi mbak dan adik sudah bertemu sebelum nya?'' tanya kak Citra mengerutkan kening nya.


''Iya Ma, nasi yang semalam tuh pemberian Ibu ini,'' jelas Andriana pada Mama nya.


''Och Terima kasih mbak kalau begitu, oiya kami datang ke sini mau memberi tahu sesuatu, namun sebelum nya kami mau bertanya pada mbak, tentang suami mbak atau lebih tepatnya ayah anak anak?'' Ucap kak Citra memberanikan diri untuk bertanya.


''Apa yang kalian mau tanyakan tentang suami saya?'' jawab Bu Wati bingung sekaligus penasaran.


''Apa benar ini suami Ibu?'' lanjut kak Citra menyodorkan sebuah foto Candra kakak nya.


Bu Wati terkejut melihat foto yang di perlihatkan oleh kak Citra, 'Dari mana mereka mendapat kan foto mas Candra?' batin Bu Wati mengerutkan kening nya.


''Kalian dapat dari mana foto suami saya?'' tanya Bu Wati datar dan penuh selidik.


''Jadi benar, orang yang ada di foto ini suami mbak?'' tanya kak Citra sekali lagi. Bu Wati mengangguk dan menatap satu persatu orang yang sedang bertamu ke rumah nya itu.


''Saya adik dari orang yang ada di foto ini mbak?'' jawab kak Citra mencoba untuk tetap tenang.


''Nggak, nggak mungkin kamu adik mas Candra? Mas Candra tak pernah bercerita kalau dia punya adik perempuan, lagi pula Mas Candra sudah di usir oleh tuan Sanjaya dulu,'' kata Bu Wati menggeleng geleng kan kepalanya tak percaya.


BERSAMBUNG


Terima kasih untuk yang selalu dukung karya receh ku, makasih banyak 🙏🙏🙏😘

__ADS_1


__ADS_2