
''Dia nggak suka sama laki-laki hanya menjadi manajer restoran Karan? kurang lebih nya githu sich, emang aku orang menengah dan dia orang dinatas aku.'' sambung kak Arlan membut kak Karan semakin bingung.
''Apa kamu sudah mengatakan cinta sama gadis itu,'' tanya kak Karan mengangkat satu alis nya ke atas.
Kak Karan terkejut dengan pengakuan kak Arlan, kak Arlan menggeleng dan berkata, Aku belum mengungkapkan isi hati ku apda gadis itu Karan, namun dia dengan berkata pada teman nya aku sudah mengerti kalau dia hanya mau dengan laki-laki yang sebanding dengan dia,'' Gumamnya seraya menundukkan kepalanya
''Arlan? tidak semua seorang gadis memandang rendah laki-laki, mungkin dia nggak tau isi hati kamu itu sekarang, makanya kamu harus mengungkapkan isi hati kamu sekarang, atau kamu makan menyesal karena dia lebih memilih laki-laki yang sudah mengungkap isi hatinya pada dia.'' Ucap kak Karan panjang lebar, mengingat kan kak Arlan yang kini tengah di landa kegalauan.
''Dia masih ingin mengejar cita citanya Karan?'' jawab kak Arlan lirih.
Kak Karan tertegun dan kini dia tengah memeras otak nya untuk berpikir siapa gadis yang di maksud teman nya itu, sampai akhirnya dia berpikir kalau kalau yang di maksud kak Arlan adalah adik nya.
''Apa yang kamu maksud itu adalah Sania Arlan?!'' tanya kak Karan yang secara menebak begitu saja.
Benar saja, perkataan kak Karan membuat kak sontak kaget mendengar nya, ''Maksud kamu apa Karan?'' jawab kak Arlan pura pura tak mengerti.
''Mungkin kamu saat ini pura pura bodoh atau be**gok saat di tanya oleh ku? gadis yang kamu maksud itu Sania kan Arlan?'' tanya kak Arlan sekali lagi, kak Karan menatap kak Arlan lekat lekat, kak Karan tau kalau kak Arlan begitu menyukaiku.
...****************...
Di sisi lain aku sedang bergelut dengan selimut tebal ku yang masih membungkus tubuh kecil ku.
Hari ini tubuhku terasa sakit sekali, dan suhu tubuh ku juga memanas, mungkin aku sekarang demam.
tok tok tok
Pintu kamar kundi ketuk dari luar, aku sudah tau siapa yang akan datang ke kamar ku sekarang. ''Sayang? bangun sudah siang lho,'' teriak Bu Wati sambil mengetuk pintu kamar ku.
Aku nggak menjawab karena menjawab pun percuma karena suaraku tak mungkin terdengar. Sampai akhirnya aku mendengar suara pintu kamar di buka.
Bu Wati menghampiri sisi ranjang ku dan duduk di sampingmu seraya berkata, ''Sayang? kamu masih tidur, ini sudah siang lho. Emangnya kamu nggak kuliah hari ini,'' tanya Bu Wati lembut, aku hanya menggeleng menanggapi ucapan Ibu. Karena aku sudah sangat tidak tahan dengan tubuh ku sekarang yang semakin panas.
__ADS_1
Ibu menyingkap selimut ku seraya memegang tubuhku yang saat ini panas sekali, pikirku.
''Kamu kenapa sayang? badan kamu panas sekali,'' Ucap Bu Wati khawatir dengan keadaan puteri kecilnya.
Aku memegang tangan Ibu dan bergumam kecil, ''Sania nggak apa apa kok Bu, Ibu jangan khawatir seperti ini ya,''
''Nggak, badan kamu sangat panas, ayo kita ke dokter sekarang?'' ajak Bu Wati memapah tubuh ku agar bisa bangun dan duduk.
''Ibu? Sania nggak apa apa kok, Sania hanya demam dan kepalaku sangat pusing sekarang. Mana bisa Sania jalan kaki ke depan?'' jawab ku memegang tangan Ibu, seraya mengelus pelan.
''Ya sudah kalau githu? Ibu akan menelfon kakak mu sekarang,'' ucap Ibu seraya beranjak dari tempat tidur ku. Ibu melangkah pergi menuju ke kamar nya untuk mengambil handphone.
Ibu mencari nomor handphone kak Karan dan mendial nya ketika sudah menemukan nomor handphone kak Karan.
Tut... tut... tut...
Panggilan pun tersambung dan tak butuh waktu lama kak Karan menjawab handphone Bu Wati.
-''Hallo Bu,'' jawab kak Karan yang lupa mengucapkan salam terlebih dulu.
-''Assalamu'alaikum,'' Ucap Bu Wati di seberang.
-''Waalaikum salam Bu?'' jawab Karan.
-''Karan cepat pulang! adik kamu sakit dia nggak mau di bawa ke rumah sakit.'' Ucap Bu Wati dengan nada khawatir nya.
-''Ibu tenang saja, Karan akan segera pulang sekarang, dokter akan segera datang Bu, jangan cemas ya,'' sahut kak Karan menenangkan Ibu.
Kak Karan memutuskan panggilan nya secara sepihak, dan dengan segera menelfon dokter pribadinya.
-''Cepat datang ke rumah sekarang,'' ucap kak Karan dingin.
__ADS_1
-''Saya masih dinas tuan muda?'' jawab sang dokter takut.
-''Aku nggak mau, sekarang juga kamu harus ke rumah, adikku sakit?'' Ketus nya dan segera mematikan handphone nya.
''Orang kaya mah bebas kalau nyuruh nyuruh,'' keluh sang dokter merapikan meja kerja nya dan menyambar jas putih nya yang di taruh di sandaran kursinya.
Sedangkan kak Karan dan kak Arlan kini tengah mengendarai mobilnya menuju ke rumah, ''Arlan ayo cepat aku takut Sania kenapa napa dirumah,'' Ucap kak Karan pada kak Arlan yang tengah mengemudi mobil kak Karan.
''Iya sabar Karan, ini sudah kenceng kok?'' jawab kak Arlan menatap kak Karan sekilas, dan kembali fokus ke depan. Kak Arlan kembali meng fokuskan untuk menyetir mobil nya.
Kak Arlan membunyikan klakson mobilnya, agar penjaga rumah membukakan pintu gerbang nya.
Pak Udin berlari membuka Gerbang, karena yang menjaga tengah pergi ke kamar kecil.
''Pak Udin, dokter sudah datang belum?'' tanya kak Karan pada supir pribadi Ibu nya.
''Sudah Tuan?'' jawab Pak Udin ramah. Kak Arlan melajukan kembali mobilnya dan berhenti di teras rumah.
Kak Karan berlari menaiki anak tangga guna menuju ke kamar ku, begitu juga dengan kak Arlan? dia mengikuti langkah panjang kak Karan.
''Ibu? bagaimana keadaan adik sekarang?'' tanyanya khawatir lalu menghampiri ku.
''Adik kamu nggak apa apa kok? dia cuma kelelahan dan juga demam. Panasnya juga sudah mulai turun untuk saat ini,'' jawab Ibu menatap kak Karan.
''Syukur lah kalau begitu, aku sangat khawatir tadi Bu?'' balas Kak Karan mengelus puncak kepala ku dengan lembut.
''Biarkan adikmu istirahat dulu sebentar? dan saya permisi dulu Nyonya,'' Ujar sang dokter berpamitan pada kak Karan dan juga Bu Wati.
''Mari saya antar keluar,'' jawab Bu Wati lalu mengantarkan dokter keluar rumah.
''Terima kasih ya dok?'' Ucap Bu Wati ketika sang dokter sudah berada di teras rumahnya.
__ADS_1
''Sama sama Nyonya? mari Assalamu'alaikum,'' kata sang dokter berpamitan dan dia pun masuk kedalam mobilnya, melaju perlahan sampai akhirnya keluar dari gerbang. Bu Wati menatap kepergian dokter pribadinya yang sudah sangat lama mengabdi di keluarga Sanjaya.