Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 159 Sikap aneh Pinky


__ADS_3

Di butik Pinky tengah membaringkan tubuh lelah nya, entah kenapa hari ini dia merasa begitu lelah dan juga sangat mengantuk, padahal hari ini masih pukul 10 pagi.


Pinky nampak memejamkan mata nya di atas kasur mini nya yang ada di dalam ruangan butik nya. Mungkin karena kelelahan juga sampai sampai Pinky tak menyadari kedatangan suami nya yang sudah ada di sebelah nya, Karan menatap wajah cantik istri nya tengah memejamkan matanya, sangat terlihat jelas bulu mata lentik dan juga bibir ranum Pinky yang membuat Karan selalu candu ingin terus menciumi istri nya.


Karan memegang dahi istri nya untuk mengecek keada'an nya, takut nya dia malah sakit karena setau Karan Pinky tak pernah tidur di jam jam seperti ini, pikir Karan. Dan dia mendudukkan dirinya di tepi ranjang yang di tiduri Pinky istri nya.


Pinky yang merasa terganggu tidur nya melenguh seraya membuka kelopak mata nya, ''Engh,''


''Mas Karan ngapain di butik Pinky,'' tanyanya lembut sembari membenarkan posisi nya saat ini.


''Mas lagi stres di perusaha'an, makanya mas datang ke sini,'' jawab nya santai dan masih terus saja menatap ke arah Pinky yang kini sudah menyandarkan kepala nya di kepala ranjang nya.


''Och cuma itu saja toh,'' tanya nya dengan nada tak semangat.


''Kamu kenapa sich sayang, sejak tadi pagi sifat kamu seperti anak kecil saja?'' gumam Karan menoleh ke arah istri nya yang tengah bersandar.


''Nggak tau, Pinky juga heran kok?'' jawab nya ngirit.


''Tapi kamu nggak apa apa kan?'' tanya Karan lagi.


''Sebenarnya aku nggak apa apa cuma lagi ngantuk saja, pengen tidur tapi pengen ngemil juga,''


''Lebih baik kita ke Dokter sekarang, takut nya kamu malah kurang darah lagi,'' ajak Karan mengulurkan tangan nya kepada istri nya.


''Bukan kurang darah Mas, tapi kurang dana?'' sambung nya dengan kekehan yang membuat Karan menggeram. Gimana nggak menggeram bahkan tiap bulan dia selalu mentransfer uang melebihi dari yang Pinky belanjakan.


''Peace, bercanda kali ach? kuy lah kita beli camilan saja di alpa depan,'' ajak Pinky, dan kini dia sendiri yang menarik tangan suami nya, Pinky lelah harus menunggu Karan bangun dari tempat duduk nya, makanya dia setelah menarik tangan suami di depan nya.

__ADS_1


''Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang, wajah kamu terlihat pucat,'' Gumam Karan yang masih mengikuti istri cantik nya dari belakang.


''Tapi aku ingin beli camilan sekarang,'' rengek nya membuat Karan memutar bola mata nya.


''Ya sudah terserah kamu saja dech, entar malah nangis lagi kayak tadi pagi,'' Ucap Karan meledek Pinky.


''Itu Mas Karan saja yang jahat sama Pinky, cuma buatin telor ceplok saja nggak mau, bikin nggak mood kan?'' kata Pinky mendudukkan diri si sofa nya.


''Ayolah, masak cuma gitu doang sedih gini sich,'' sela Karan yang masih berdiri di depan Pinky.


Pinky melipat tangan dan di taruh di depan dada nya, seraya berkata. ''Kalau Mas Karan hanya ingin membuat Pinky marah atau bikin Pinky nangis, mending Mas Karan pulang saja dech, lebih baik aku tidur di butik ini dari pada sekamar dengan orang nyebelin seperti Mas Karan?'' seru Pinky mencebikkan bibir nya.


''Jangan ngambek lagi, ayo beli camilan sekarang dan setelah itu kita pergi ke rumah sakit, takut nya kamu malah kenapa napa lagi, karena di lihat dari wajah kamu yang pucat seperti ini.'' sahut nya lembut, seraya meraih tangan Pinky.


Pinky beranjak dari duduk nya, mereka akhirnya pergi dari butik dengan gandengan tangan, Karan dan juga Pinky memutuskan untuk jalan kaki untuk ke alpa membeli camilan yang di minta sang istri, yang entah kenapa hari ini sikap istri nya sangat nyebelin.


''Mas tolong bawain satu kantong dong?'' pinta Pinky dan langsung si ambil semua oleh Karan.


''Kan aku cuma minta stu yang di bawakan?'' sela Pinky ketika melihat suami nya mengambil semua kantong kresek nya.


''Sudah ayo kita sekarang ke rumah sakit, aku khawatir banget dengan kesehatan kamu, karena akhir akhir ini kamu sok sibuk gitu,'' bisik Karan memasukkan kantong kresek ke dalam mobil nya.


Pinky sebenarnya ragu ragu ingin pergi ke rumah sakit, karya dirinya yang tidak merasa sakit, cuma rasa kantuk nya saja yang sangat menggangu. ''Nanti aku tanya dech, kenapa aku sekarang gampang lelah dan juga gampang ngantuk,'' gumam Pinky yang di dengar Karan.


''Makanya kamu jangan terlalu memfirsir kerja'an kamu dong sayang, di butik kerja di rumah juga kerja, kan jadi gini dech?'' balas Karan yang di benarkan oleh Pinky sendiri.


Hanya membutuhkan waktu 30 menit mereka berdua sudah berada di rumah sakit, tepatnya di poli umum, karena Pinky sendiri nggak tau sakit apa, karena dia hanya merasa ngantuk saja.

__ADS_1


''Keluhan nya apa nyonya?'' tanya sang dokter di depan nya.


''Sebenarnya saya nggak apa apa dokter, tapi suami saya saja yang khawatir karena melihat wajah ku yang terlihat sedikit pucat,'' jawab Pinky panjang lebar.


''Kalau gitu nyonya berbaring saja, biar saya periksa dulu,'' kata dokter di hadapan Pinky.


''Dokter, boleh suster saja yang periksa istri saya di dalam?'' ujar Karan kepada dokter laki laki yang memeriksa istri nya.


''Baiklah, suster tolong periksa nyonya ini,'' perintah sang doky yang di angguki suster yang emang bertugas membantu sang dokter di poli umum.


Suster pun memeriksa keada'an Pinky normal normal saja, bahkan darah nya saja normal, hanya saja suster itu sedikit ragu untuk bertanya kepada Pinky.


''Bagaimana suster, saya nggak apa apa kan?'' tanya nya lembut.


''Biar dokter saja yang menjelaskan nyonya,'' jawab sang suster tak kalah lembut nya, karena suster di depan nya sudah tau di depan nya ini adalah istri dari Karan yang emang super galak, bahkan dokter saja di larang untuk memeriksa istri nya saat ini.


Pinky mengangguk dan berjalan mengikuti sang suster dari belakang, sesampai nya di depan dokter Pinky langsung mendapat kan bokong nya di kursi yang tadi ia duduki.


Sang suster memperlihatkan catatan yang baru ia tulis kepada Dokter di samping nya. ''Nyonya Pinky tidak apa apa kok, tapi ada yang mengganjal saat tadi suster memeriksa nyonya,'' ucap nya memulai obrolan nya.


''Kenapa dokter, istri saya nggak apa apa kan?'' tanya Karan dengan nada khawatir nya.


''Jangan terlalu khawatir seperti itu tuan, istri anda sehat kok cuma kalau suster ini nggak salah? istri kamu saat ini tengah mengandung, dan untuk memastikan lebih jelas nya nyonya dan tuan bisa ke poli kandungan, agar dokter di sana bisa menjelaskan nya.


''Apa dok--? istri saya hamil!'' pekik Karan tanpa sadar.


''Iya bisa di bilang seperti itu, namun lebih baik tuan dan nyonya menanyakan langsung ke dokter kandungan yang bertugas di poli kandungan.'' tambah nya.

__ADS_1


Karan dan Sania berjalan menuju ke poli kandungan dengan apa yang di rekomendasikan dokter tadi.


__ADS_2