Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 9


__ADS_3

Bu Wati hanya bisa mengelus dadanya karena hinaan dari Pak Sanjaya. ''Apa maksud Bapak, sedangkan saya tidak mengenal Bapak, lantas kenapa Bapak bisa menghina saya begitu saja,'' jawab Bu Wati menahan buliran air matanya agar tidak jatuh karena ucapan Pak Sanjaya.


''Tinggalkan anak saya sekarang juga! kamu nggak pantas bersanding dengan Putera saya, atau kamu hanya mau menguras harta benda anak saya saja, karena kamu tau kalau anak saya orang kaya!!'' ketus nya melipat kedua tangan ke dadanya.


''Aku harap kamu punya rasa malu, karena sampai kapan pun kamu nggak bakalan bisa sejajar dengan keluarga kami,'' tambah nya, Pak Sanjaya terus menghina Bu Wati saat itu, sampai akhirnya Ayah Bu Wati datang dari ladangnya, dan segera menghampiri puterinya yang sedang ketakutan.


''Wati, ada apa ini,'' tanya Ayah Bu Wati.


''Kebetulan sekali Bapak datang tepat waktu, bilang sama anak Bapak agar segera meninggalkan Putera saya, karena sebentar lagi Putera saya akan menikah dengan seorang Puteri dari keluarga yang terpandang, dan selevel dengan saya tentunya,'' Ucap nya pada Ayah Bu Wati.


''Maaf Bapak salah paham, Puteri saya tak pernah mengejar ngejar Putera Bapak, Putera Bapak yang selalu mengejar Putera saya,'' balas Ayah Bu Wati tak mau kalah.


''Aku akan memberi kamu sejumlah uang, tapi dengan satu syarat, kamu segera meninggalkan Putera saya,'' tunjuk Pak Sanjaya pada Bu Wati.


Bu Wati yang mendengar hanya terisak dengan tangis nya, sang Ayah menatap nanar pada Pak Sanjaya, karena ucapan nya yang sudah sangat keterlaluan. Ayah Bu Wati mengepalkan kedua tangan nya dan bersiap untuk menghajar mulut kotor Pak Sanjaya.


''Kamu jangan kurang ajar terhadap Puteri saya, mentang-mentang sekarang kamu sedang di atas awan, dan menginjak nginjak harga diri keluarga ku, memang kami orang miskin, tapi jangan sekali kali kamu menghina keluarga ku,'' Ucap geram Ayah Bu Wati saat itu.


Bu Wati memeluk sang Ayah dengan erat, karena Ayah-nya akan menghajar Pak Sanjaya Ayah dari Candra.


''Bapak tenang saja, aku akan menjauhi anak Bapak, dan tolong sekarang keluar dari rumah ku, karena aku tak mau ada keributan di rumah jelek ku ini,'' tutur Bu Wati pada Pak Sanjaya,yang tak sengaja sudah mengusir Ayah Candra, laki-laki yang sempat ada di dalam hatinya, namun sekarang ia harus membuang jauh jauh rasa itu, karena tak ingin melihat Ayah-nya kesakitan karena sudah di hina oleh keluarga Candra Ayah Karan.

__ADS_1


Sebelum Pak Sanjaya melangkah pergi dia berkata lagi dan sedikit mengancam juga pada keluarga Bu Wati. ''Ingat!! kalau misalnya kalian masih mendekati Putera saya, kalian akan menanggung nya sendiri, karena aku nggak akan tinggal diam, keluarga kalian nggak setara dengan keluarga kami,'' perkataan yang membuat Bu Wati ketakutan, takut terjadi sesuatu pada Ayah dan juga Ibu nya, karena Bu Wati anak tunggal dari keluarga Pak Yusuf.


Pak Sanjaya melangkah pergi menuju mobil nya yang terparkir di pinggir jalan, dengan keangkuhan Pak Sanjaya masuk ke dalam mobil nya seraya berkata, ''Ingat perkataan ku yang barusan,'' Ucap nya mengingat kan kembali perkataan yang tadi ia katakan.


''Pergi sanah,'' usir Pak Yusuf dengan mengambil sebuah batu bata di depan rumah nya.


''Bapak, sudah jangan hiraukan perkataan Bapak yang barusan, aku nggak mau Bapak kenapa napa,'' Ucap Bu Wati pada Ayah-nya, yang mulai meneteskan air matanya.


''Sudah, kamu jangan menangis lagi, laki-laki itu bukan jodoh kamu, jdi mulai sekarang lupain laki-laki itu, masih banyak laki-laki yang mau menjadi suami mu kelak,'' sahut Pak Yusuf menepuk punggung Puteri nya.


''Iya Pak, Wati akan melupakan laki-laki itu, karena Bapak paling berharga di hidup Wati,'' Gumam nya pelan dan menundukkan kepala nya.


Dengan langkah lesu Bu Wati memasuki rumah nya, ''Biarlah aku pergi dari laki-laki itu, dari pada membahayakan Ayah dan juga Ibu,'' batin Bu Wati berjalan menuju ke kamar yang berukuran 2 meter per segi tersebut.


''Sudah lah ndok? mungkin Candra bukan jodoh kamu, lagian kalaupun dia sayang sama kamu, kalian nggak bakalan bisa bersatu karena orang tua Candra akan menentang kalian untuk bersama sama,'' tutur Pak Yusuf pada Bu Wati puteri semata wayang nya.


''Wati sudah melupakan Candra kok Pak,'' sambung Bu Wati pada Ayah-nya.


''Do'ain saja Pak, agar Wati cepat melupakan laki-laki yang sempat mengisi hari hari Wati selama beberapa hari yang lalu,'' tambah nya menatap sedih pada sang Ayah.


''Sudah sore, kamu pulang dulu nanti Bapak menyusul,'' kata Pak Yusuf merapikan peralatan ladangnya.

__ADS_1


''Sini biar Wati saja yang bawa Pak,'' kata Bu Wati mengambil alih semua peralatan yang di pegang sang Ayah.


''Ya sudah Wati pamit duluan ya Pak,''


Pak Yusuf mengangguk seraya berkata, ''Hati-hati di jalan,'' kata Pak Yusuf mengingat kan puteri nya.


Sementara di rumah nya sudah ada Pak Candra yang setia menunggu nya di halaman rumah nya, Ibunya Bu Wati sebenarnya ada di dalam rumah, namun karena kejadian 3 hari lalu, namun Bu Imah nggak membukakan pintu rumah nya.


Dari jauh Bu Wati melihat sebuah mobil mewah yang terparkir di pinggir jalan depan rumah nya, pikiran Bu Wati mulai memikirkan hal yang macam macam.


''Mungkinkah Pak Sanjaya datang lagi ke rumahku, aku kan sudah bilang akan menjauhi Candra,'' Gumam nya sambil terus melangkahkan kakinya menuju rumah yang sempat di juluki gubuk oleh Pak Sanjaya.


Pak Candra yang melihat Bu Wati berjalan pun segera membuka pintu mobil nya dan bergegas keluar dari mobil tersebut.


''Mau apa lagi kamu datang ke mari,'' Ucap Bu Wati dengan ketus.


''Aku ke sini untuk menemui calon istri ku yang cantik ini,'' jawab Pak Candra menyunggingkan senyum.


''Kenapa kamu marah marah kayak gini sich Dek, biasanya kamu nggak seperti ini kalau aku datang menemuimu,'' tanya Pak Candra heran, karena Bu Wati yang tiba-tiba pembawaan nya sangat jutek githu.


''Mending kamu urus saja sanah calon istri kamu yang sama-sama kaya itu, lagian kita nggak selevel,'' ketus nya sembari membuka pintu rumah nya yang emang tak di kunci oleh sang Ibu.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2