Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 49


__ADS_3

''Maafkan kakek yang sudah menelantarkan kalian selama ini,'' ucap nya sedih. Sania menghapus air mata sang kakek sambil memperlihatkan senyum manis di bibir tipis nya.


''Nggak apa apa kek? kita sudah berkumpul di sini niya kak, meski tanpa kehadiran ayah di sekeliling kita saat ini,'' ucap Sania dengan bijak.


''Iya, kakek jangan sedih lagi ya? oia Karan akan kenalkan Ibu Karan pada kakek, itu kalau kakek nggak keberatan kalau Karan menelgenalkan wanita hebat, yang selama ini sudah mengurus Karan sendirian.''Jelas Karan yang di angguki langsung oleh kakek nya.


''Ibu, ayolah?'' kata Karan menghampiri sang Ibu yang berdiri di samping sang tante. Mbak Wati tetap berdiri di tempat nya, tanpa mau melangkah kan kakinya walau hanya satu langkah saja.


''Ibu?'' ucap Karan lagi mengangguk kan kepala nya, agar sang Ibu mau mengikuti ajakan Karan.


Mbak Wati tersenyum menatap sang putera yang bisa bersikap bijak pada semua orang, tak terkecuali pada diri nya sendiri.


''Wati...? kemarilah?'' panggil pak Sanjaya pelan. Mbak Wati tak bisa menolak panggilan tersebut, dia menghampiri ayah mertuanya yang dulu begitu membencinya karena dia dari keluarga miskin.


''Wati... maafkan aku yang sudah jahat sama kamu, aku benar-benar menyesal dan aku juga ingin menebus semua kesalahan ku yang dulu, maukah kamu memaafkan aku yang sudah egois mau memisahkan kalian berdua??'' Ucap Pak Sanjaya dengan lirih.


''Wati sudah memaafkan bapak kok, yang lalu biarlah berlalu pak, lagi pula sekarang mas Candra sudah tenang di alam sana,'' jawab mbak Wati memegang tangan sang mertua.


Kak Citra meneteskan air mata karena terharu melihat kakak ipar nya yang sudah memaafkan Papa nya, ''Sudah sayang? kamu jangan nangis terus ya, lagi pula Papa sudah menerima mbak Wati dengan tangan terbuka, dan yang ada di fikiran kamu tak benar, apa yang di khawatirkan kamu selama ini salah sayang, mungkin Papa sadar kalau dirinya sudah berbuat salah, dan sekarang lah dia ingin memperbaiki semua nya dari sekarang,'' gumam mas Arzan pelan pada kak Citra.


Kak Citra mengangguk seraya berkata, ''Iya mas? Citra salah sudah menilai Papa dengan buruk,'' jawab nya lirih, dan menyadarkan kepala nya ke bahu suami nya.


''Ya sudah ayo kita makan dulu, Cinta sudah laper nich??'' celetuk Cinta yang membuat mereka semua menatap ke arah Cinta.


''Kok pada lihatin Cinta githu sich? Cinta tadi berangkat nya belum makan, jadi sekarang cacing cacing di perut Cinta sudah berdiaco ria nich?!'' cerocos Cinta melangkah pergi ke meja makan.

__ADS_1


''Ayo semua nya makan, ngobrol nya di lanjut nanti lagi,'' lanjut Cinta yang sudah berada tak jauh dari meja makan.


''Bi...? semua nya sudah siap kan?'' tanya Cinta pada asisten rumah nya.


''Sudah Nona? sesuai pesan Nona juga,'' jawab sang asisten yang sudah lama bekerja di rumah besar Sanjaya.


''Nona, apa anak laki-laki itu putera dari tuan Candra?'' tanya sang asisten lagi.


''Iya Bi, dia anak dari kak Candra? mirip kak Candra kan,'' jawab Cinta ramah.


''Iya Nona, sangat mirip dengan dengan tuan Candra?'' balas nya tersenyum. Mbak Wati menyalami semua orang yang bekerja di rumah besar ini. Mbak Wati memang baik dan ramah orang nya.


''Bi? istri mendiang tuan Candra sangat cantik ya, dia juga baik orang nya?'' bisik salah satu pelayan di sana.


Semua orang sedang menikmati makan siang nya dengan lahap, ya walaupun tak lagi siang sich soalnya jam sudah menunjukkan angka 2:10. Tapi mereka benar-benar menikmati masakan Bibi yang bekerja di rumah Sanjaya.


Tuan Sanjaya menatap Karan dan juga Sania yang duduk di depan nya, tuan Sanjaya merasa bersalah dan begitu sedih melihat kedua cucunya yang sudah tak lagi mempunyai ayah, di saat mereka masih sangat kecil.


''Ayo di tambah lagi makanan nya, ini masih banyak lho?'' Ucap tuan Sanjaya pada kedua cucu nya.


''Rian, Riana dan Mikaela juga tambah nasinya,'' tambah nya lagi pada ketiga cucu yang selama ini yang selalu menemani nya.


''Sudah kenyang kek?'' sahut Sania menaruh piring kosong nya.


''Setelah makan kita ngobrol di ruang keluarga ya,'' ajak tuan Sanjaya.

__ADS_1


Semua nya menganggukkan kepala nya, seraya menghabiskan makanan nya masing-masing.


Selesai makan Bu Wati membantu para asisten rumah untuk membereskan piring piring kotor yang ia gunakan barusan.


''Nyonya, biar saja yang beresin semua ini saman yang lain,'' Ujar kepala pelayanan tersebut.


''Nggak apa apa kok Bi? oia jangan panggil saya nyonya dong, saya bukan nyonya di rumah ini?'' tolak Bu wati. ''Panggil saja wati Bi, Bibi kayak nya seumuran sama Ibu saya?'' tambah nya lalu ia pun tersenyum. Bu Wati melanjutkan mencuci piring kotor walaupun ia tidak di perbolehkan sama para asisten yang bekerja di sana.


''Mbak? ayo ke depan, Papa sudah nungguin kita lho,'' ajak Cinta yang datang menghampiri nya ke dapur.


''Sebentar lagi dek? nanggung nich,'' jawab nya lembut.


''Tadi Bibi sudah larang Non? tapi neng Wati nggak denger,'' sambung kepala pelayan tersebut.


''Mbak Wati emang kayak githu Bi orang nya, pantesan aja kak Candra suka banget sama mbak Wati,'' Ucap ku. ''Selain dia cantik dia juga baik Bi?'' lanjut ku, merangkul pundak kakak ipar yang selama ini ia cari.


''Sudah? jangan memuji aku terus kayak githu, aku sebenarnya nggak githu kok,'' balas mbak Wati yang tak mau di puji itu.


''Ayo, aku sudah selesai nich,'' ajak mbak Wati memegang tangan Cinta adik ipar nya, yang begitu cantik dan baby Face.


Di sana orang orang sudah berkumpul sedang menunggu kedatangan ku dan juga mbak Wati.


''Mbak, masih ngapain sich di dapur?'' tanya kak Citra menarik tangan kakak nya agar ia duduk di samping nya, sedangkan Aku memilih duduk di dekat Mas Fabian. Kini kita menunggu Papa untuk mengutarakan apa yang ingin ia katakan pada kami semua hari ini.


''Kalian semua Papa kumpulkan di sini, karena Papa ingin mengatakan satu hal pada kalian semua, karena ini menyangkut Karan dan juga Sania cucu Papa yang baru saja di temukan. Sebenarnya ini hak mereka berdua, karena kakak kalian Candra berusaha sendiri untuk merintis perusaha'an nya sendiri tanpa bantuan Papa, kemarin Papa memang egois karena menentang keinginan kakak kalian berdua.'' Ucap nya memulai pembicaraan.

__ADS_1


__ADS_2