Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 62 Restoran


__ADS_3

''Halo,'' sapa Sania. ''Happy birthday ya,'' lanjut nya lagi.


''Hay... Sania? kamu cantik banget malam ini,'' jawab Gita sang teman yang sedang berulang tahun.


''Alah! paling nie gaun cuma minjem doang, mana bisa dia beli gaun sebagus ini, iya kan?'' Ujar Gayatri yang emang selalu iri pada Sania, karena Sania selalu mendapatkan perhatian lebih dari teman teman nya di kampus.


''Iya, mana bisa dia beli gaun mahal kayak itu,'' jawab Silvia teman akrab Gayatri.


''Apa'an sich? kalian nggak boleh githu pada Sania, lagian mau dia beli atau yang lain nya aku nggak peduli, yang dia sudah hadir dalam acara ini,'' jawab Gita menegur Gayatri dan juga Silvia.


Arlan sang manajer mendengar hina'an yang di tujukan pada Sania pun beranjak dari tempat nya, dia ingin membela sang bos? karena semua yang ia dengar tidak benar adanya.


Arlan menghampiri Sania dan juga yang lain nya yang sedang berkumpul bersama. Sania membelalakkan matanya melihat kedatangan manajer restoran nya, 'Mau apa Mas Arlan kemari, jangan jangan dia ingin membela ku karena ucapan Gayatri barusan?' Gumam Sania dalam hati.


''Maaf Nona, kalau saya ikut nimbrung dalam pembicaraan ini. Tapi saya hanya mengatakan...?'' Arlan berhenti berucap, dia menatap Sania yang menggeleng kan kepala nya pelan.


''Mengatakan apa pak?'' tanya Gita yang mulai penasaran. Sedangkan Gayatri dan Silvia menatap kagum akan ketampanan Arlan.


''Saya ingin mengatakan, jangan melihat orang dengan segi penampilan nya, tapi lihat lah dia dengan ketulusan hati nya,'' tutur Arlan ramah namun masih dengan aura dingin nya. Sania menutup mukanya karena dia takut manajer nya akan membongkar identitas aslinya, Sania tak mau berteman dengan orang-orang yang tak tulus berteman dengan diri nya, hanya karena harta kekayaan orang tuanya, yang Sania ingin kan hanyalah berteman dengan orang-orang yang benar-benar tulus ingin berteman dengan nya, tanpa memandang status sosial nya.


''Ya sudah kalian lanjutkan saja pesta nya, maaf kalau saya mengganggu waktu kalian?'' Arlan bertutur kata dengan ramah, namun tatapan nya begitu dingin pada kedua gadis yang berada di depan nya. Gayatri hanya mengerutkan kening nya, melihat tatapan dingin tersebut.


''Sudah lah Gita, cepat mulai acara nya. mood Saya sudah hilang untuk mengikuti acara kamu ini!'' Ucap Gayatri ketus seraya berjalan menuju meja di mana di sana sudah tertata rapi? segala macam minuman di sediakan di restoran tersebut, atas permintaan klian nya.

__ADS_1


''Ech Gayatri, cowok barusan tu tampan banget ya? ya walaupun dia terlihat dingin kayak kutub utara, tapi aku jadi penasaran dan ingin memiliki nya?'' Ujar Silvia mengambil salah satu gelas yang berisi jus jeruk, sedangkan Gayatri sudah menegak habis minuman nya, dan dia juga sudah berpindah ke meja yang terdapat makanan dan beberapa kue di sana.


''Aku penasaran sama cowok tadi itu, menurutku dia ada hati pada gadis gembel yang memakai gaun mahal malam ini,'' gumam Gayatri pelan. ''Gadis kampung tak berhak bahagia dengan laki-laki kaya dan tampan seperti dia, harus nya dia juga dapat laki-laki kampung sama seperti nya.'' lanjut nya, sembari memakan kie yang ia ambil.


Sedangkan Sania mengobrol dengan Gita masih di tempat nya, dan tak lama kemudian cowok yang di tunggu tunggu pun akhirnya memperlihatkan batang hidung nya.


''Akhirnya lho nongol juga,'' celetuk Sania yang mengenal cowok tersebut.


Cowok yang baru datang pun hanya mengangkat satu alis nya mendengar ucapan wanita cantik di depan nya, dia tidak mengenali wanita tersebut.


''Sayang? siapa ini, kayak nya dia sangat mengenal ku?'' tanya Fahri pada Gita sang kekasih.


''Fahri dia tu Sania? teman aku, masak kamu lupa sich,'' jawab Gita menatap aneh sang cowok.


''Enak saja lho kalau ngomong! emang nya gue nggak boleh berpenampilan cantik kayak sekarang ini,'' celetuk Sania meninju lengan atas Fahri.


''Auww...'' Fahri meringis mendapatkan tinjuan dari wanita di depan nya.


''Itu hukuman buat lho yang sudah meremehkan aku Fahri!'' sarkas Sania, lalu dia pergi meninggalkan Fahri dan juga Gita, Sania menghampiri sang manajer yang sedang memperhatikan nya sejak tadi.


Sania duduk tepat di hadapan Arlan, seorang laki-laki tampan dengan perawakan tinggi. Arlan di tugaskan untuk membantu Sania di restoran yang ia kelola saat ini, Arlan adalah anak buah dari Arzan malik Narendra, cowok yang terkenal dingin dan di takuti oleh semua rekan bisnis nya.


''Mas Arlan kenapa melamun?'' tanya Sania yang sudah mendaratkan bokong nya di kursi hadapan Arlan.

__ADS_1


''Nggak? aku nggak melamun, aku hanya menatap wanita cantik malam ini,'' ujar nya tanpa menatap wajah Sania.


''Siapa mas? apa Sania kenal dengan wanita itu, wanita mana yang beruntung mendapatkan laki-laki dingin seperti mas Arlan?'' tanya Sania dengan berbagai macam pertanyaan.


''Pokok nya adalah? dia gadis yang selama ini membuat hatiku tak karuan, ketika harus bertemu dengan wanita itu,'' balas Arlan yang kini menatap Sania dengan intens.


''Isshh... kalau mas Arlan nggak mau memberi tahu Sania jangan di katakan mas, bikin penasaran kan jadi nya,'' ucap nya cemberut, dia memanggil salah satu pegawai yang sedang membawa nampan yang berisi minuman dan camilan.


''Ada bos?'' tanya sang pegawai.


''Ish... sudah aku bilang jangan panggil aku bos di sini, awas saja kalau ada salah satu teman ku yang mendengar,'' ucap Sania dengan kesal.


''Minuman sama camilan nya taruh di sini saja, aku haus?'' tambah nya lagi, membuat sang pegawai menatap ke arah Arlan sang manajer.


''Tuan minuman ini mengandung kadar alkohol,'' bisik sang pegawai pada Arlan.


''Sania? biar pegawai yang lain saja ya yang bawakan minuman lain, minuman ini mengandung alkohol?''


''Sedikit sajalah mas, aku haus nich? kerongkongan ku juga sudah sangat kering?'' jawab Sania pelan.


''Cepat ganti minuman yang lain nya, aku nggak mau? tuan Arzan tau kamu minum minuman yang ber alkohol,'' tutur nya lembut seraya menepuk tangan Sania, Sania hanya mengangguk menuruti semua yang di katakan Arlan.


Gayatri dan Silvia melihat keakraban Arlan dan juga Sania dari jauh. ''Emang dasar gadis kampung itu, pinter banget cari muka pada laki-laki kaya,'' sarkas Gayatri yang kesal melihat Sania bersama cowok incaran nya.

__ADS_1


__ADS_2