
Di perjalanan Karan selalu teringat wajah pucat sang adik, namun dia tetap mengembangkan senyum nya kepada keluarga yang lain nya.
''Ibu kita ke Mall saja, agar lebih cepat sampai nya,'' kata Karan kepada Bu Wati.
''Baiklah, lagian cuma mau beli beberapa gamis dan hijab saja kok buat adik kamu itu,'' balas sang Ibu tersenyum.
''Ibu, Ibu ngerasa nggak kalau kata kata Sania tadi membuat Karan takut Bu?'' tanya Karan tiba-tiba.
Bu Wati hanya tersenyum tanpa mau menanggapi ucapan putera nya, ''Kita nggak perlu merasa takut, ada Allah SWT yang selalu bersama kita, Ibu yakin adik mu bisa sembuh,'' jawab Bu Wati menatap ke arah putera yang terlihat khawatir.
''Sudah lah, lebih baik kamu mendo'akan adik mu, agar kembali lagi di tengah-tengah kita semua? dalam keadaan sehat wal afiat,'' tambah nya lagi, Karan pun mengangguk dan langsung memarkirkan mobil nya di Mall yang ia datangi malam ini.
Bu Wati dan Karan ke toko yang menyediakan baju muslim dan juga syar'i, bermacam-macam gamis dan juga hijab yang tersedia di toko itu, Bu Wati memilih beberapa gamis dan juga hijab yang menurut dia cocok untuk Sania puteri kecil nya.
''Kita ke kasir sekarang?'' ajak Bu Wati pada Karan.
''Cuma segini Bu?'' tanya Karan melihat beberapa gamis di tangan Ibu nya.
''Sudah cukup segini saja dulu, nanti adik mu bisa membeli sendiri kan?'' balas Bu Wati menarik tangan Karan dan membawa nya ke kasir. Karan memberikan kartu pada penjaga kasir. Setelah membayar Bu Wati dan Karan langsung melangkah pergi menuju mobil nya, mereka berdua kembali ke rumah sakit untuk memberikan gamis gamis yang ia bawa untuk Sania, orang tersayang dan tercinta nya.
Di rumah sakit sendiri hanya tinggal beberapa orang saja yang berjaga di luar ruangan Sania, karena Sania harus beristirahat total dan tidak ada orang yang mengganggu nya.
Arlan, Riana, Rian dan juga Pinky yang tengah menjaga Sania di sana, Riana sendiri sudah menyandarkan kepala nya di sandaran kursi yang ia duduki saat ini, Rian menyanggah kepala Riana agar sang adik tidak terjatuh.
__ADS_1
Sedangkan Arlan sendiri masih terus menatap pintu tuangan Sania, karena tadi dia belum sempurna menengok nya di dalam ruangan. Arlan merasa malu untuk menemui Sania karena kesalahan nya kemarin yang sudah keluar begitu saja dari restoran Sania.
''Betapa bodoh nya aku saat itu Sania, aku sudah berpikir buruk ketika kamu tidak sengaja menolak ku. Tapi saat ininakunsudah tau semua nya, dan aku tak kan meninggalkan kamu lagi? aku ingin hidup bersama kamu Sania. Aku sayang kamu Sania,'' gumam Arlan pelan, dia mendongakkan kepalanya agar air mata yang kini sudah menggenang tidak terjatuh dan membuat nya tambah malu lagi pada semua nya.
''Arlan? lebih baik kamu pulang saja, ini sudah malam,'' sela Pinky menatap Arlan yang terus menatap pintu ruangan Sania adik ipar nya.
'Aku tau kamu Arlan, kamu mencintai Sania? tapi kamu masih saja pura pura dan hilang begitu saja,' ucap Pinky dalam hati.
''Aku ingin di sini Pinky, aku juga ingin tau keada'an Sania? tadi kamu kan lihat sendiri aku belum bisa menjenguk Sania di dalam, sebelum dokter datang dan melarang semua keluarga masuk ke dalam lagi karena Sania harus beristirahat,'' jelas Arlan yang di benarkan oleh Pinky.
''Iya aku tau kok, tapi kamu bisa datang lagi besok?'' sela Pinky lagi.
''Sayang kok di luar githu,'' tanya Karan setelah berada tak jauh dari tempat yang di duduki mereka ber empat.
''Dokter menyuruh kita untuk tidak masuk ke dalam Mas, Sania sedang beristirahat sekarang?'' sahut Pinky yang sudah beranjak dari duduk nya dan menghampiri sang suami yang baru datang dari mengantarkan mertuanya ke Mall.
''Ibu ke Mall hanya beli bebey gamis untuk Sania, dia yang minta jadi Ibu belikan beberapa saja, biar dia sendiri yang beli sendiri kalau dia sudah sehat,'' balas Bu Wati.
''Bunda aku boleh lihat nggak, gamis seperti apa yang Sania minta?'' tanya Riana yang kini sudah bangun dari tidur nya.
Riana membuka gamis yang di bungkus dengan plastik, Riana melihat nampak cantik sekali gamis yang Bunda nya beli.
''Sania yakin ingin memakai baju ini Bunda?'' tanya Riana memastikan.
__ADS_1
''Iya, tadi dia bilang sendiri sama Bunda, kalau dia ingin memakai hijab dan gamis seperti Bunda, jadi Ibu belikan seperti ini. Bunda kan nggak tau selera Sania seperti apa, jadi Bunda ngasal aja ngambil nya.'' jelas Bu Wati yang di angguki semuanya.
''Bagus kok Bun, tapi Riana anech saja kenapa dia meminta gamis tiba-tiba? perasa'an Riana tidak tenang sekarang,'' sela Riana menatap semua orang yang ada di sana.
''Jangan berpikiran jelek, kita berdo'a saja demi kesembuhan Sania, Sania sekarang hanya butuh suport dan do'a dari kita semua, semoga Allah SWT segera mengangkat penyakit Sania?'' sambung Bu Wati sembari mengembangkan senyuman manis nya.
Semua nya menganggy mengerti dengan apa yang di ucapkan Bu Wati barusan.
''Ary lho masih di sini,'' tanya Karan yang baru melihat Arlan yang berada tak jauh darinya.
''Iya Karan, aku ingin disini dan tau keadaan Sania,'' sahut Arlan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
''Mas, kayak Arlan ada rasa pada Sania?'' bisik Pinky membuat Karan menoleh ke arah istri nya.
''Sudah lah, Sania saat ini nggak bakalan mau menerima laki-laki, mengingat penyakit yang ia derita. Mungkin dia kemarin menjauh pada Arlan gara-gara sudah mengetahui masalah ini, jadi dia menjawab ala kadarnya yang membuat Arlan pergi dari restoran,'' gumam Karan sedih, mengingat sang adik sekarang. Hanya keajaiban yang mereka tunggu saat ini, keajaiban yang dengan bim salabin menghilangkan penyakit Sania dari dalam tubuh nya, dan menjadikan Sania yang dulu kembali. Sania yang cerewet, periang, tomboy, dan juga pemberani. Semua yang ada di dalam diri Sania dulu kini tengah di rindukan oleh Karan dan juga Bu Wati sang Bunda.
Kini yang ada hanyalah senyuman palsu yang di paksakan, hanya untuk menyembunyikan penyakit ganas yang sedang menyerang dalam tubuh nya, senyum yang di buat buat agar keluarga beserta tidak merasa curiga dengan apa yang dia sembunyikan selama beberapa bulan ini. Kecerewetan Sania membuat mereka tertawa lepas dan suasana menjadi hidup di saat wanita tomboy itu sudah mengeluarkan kekonyolan demi kekonyolan untuk selalu menghibur keluarga besar Sanjaya.
Akan kah Sania bisa sembuh dari penyakit nya???
.
.
__ADS_1
.
.