
Setelah dua hari di rawat di rumah sakit kini keada'an Sania sudah cukup membaik dari sebelum nya, dia juga sudah melakukan kemoterapi atas perminta'an sang Bunda, dan juga para keluarga besar Sanjaya. Mereka silih berganti menjaga Sania di rumah sakit agar tidak merasa sendiri, wajah Sania saat ini terlihat begitu cantik walau masih terlihat pucat namun tidak meninggalkan kesan cantik nya, apalagi sekarang Sania sudah mantap untuk mengenakan hijab di sisa umur nya, pikir nya.
Hari ini Sania sudah di perbolehkan pulang ke rumah besar nya, senyuman begitu manis di kedua bibir nya, nampak sekali aura keceria'an di diri Sania karena sudah di perbolehkan pulang oleh dokter yang selama dua hari ini menangani nya, sebut saja Samuel, teman kuliah Riana yang kini menjadi dokter spesialis kanker.
''Beneran Sania sudah di perbolehkan kan pulang sekarang?'' tanya Riana memastikan, saat melihat Sania sudah siap siap untuk pulang.
''Sebenarnya belum boleh pulang? tapi dia memaksa tadi,'' jawab Samuel membuat Sania yang mendengar nya mendengus kesal.
''Enak saja, semalam dokter sendiri yang memperbolehkan Sania pulang?'' sela Sania menggembung kan pipi tirus nya.
''Sudah sudah, iya aku yang memperbolehkan dia untuk pulang hari ini, asal obat nya di minum rutin setiap hari dan juga kamu harus ingat? tidak boleh terlalu capek,'' pesan sang dokter pada Sania.
''Cich...'' Sania berdecih. ''Bawel banget jadi orang?'' gerutu Sania. Riana hanya terkekeh memperlihatkan deretan gigi putih nya.
''Sudah siap?'' tanya seseorang dari belakang mereka.
Sania menatap ke arah Arlan yang kini tengah berada di ambang pintu ruang rawat Sania.
''Kak Arlan ngapain di sini?'' tanya Riana balik. Sania masih terus saja terdiam, tanpa menoleh ke arah Arlan sama sekali, entah kenapa dia tidak mau menatap Arlan yang sudah dua hari ini selalu menemani di rumah sakit.
''Aku di suruh jemput kalian di sini,'' bohong Arlan? karena dia sendiri yang menelfon Karan yang mengatakan kalau dia yang akan menjemput Sania di rumah sakit.
''Lho kan sudah aku di sini kak?'' protes Riana, karena sejatinya Riana juga akan menjemput Sania dan juga Bunda nya di rumah sakit Pelita ini.
__ADS_1
''Ya sudah, lebih baik Bunda saja yang ngikut mobil kamu, biar Sania sama nak Arlan saja?'' Ujar sang Bunda memberikan solusi.
''Tapi Bunda?'' sahut Sania pelan.
''Kasihan nak Arlan sudah jauh jauh datang ke sini hanya untuk menjemput kita kan?'' potong sang Bunda? agar puteri nya tak meneruskan ucapan nya.
Arlan mendorong kursi roda nya ke dekat Sania berdiri. ''Duduklah?'' kata Arlan, namun Sania masih terdiam di tempat nya.
''Nak? nak Arlan sedang berbicara sama kamu, dan kenapa kamu malah melamun gitu sich?'' kata Bu Wati menyadarkan Sania dari lamunan nya.
''Lebih baik Sania jalan kaki saja Bunda? Sania sudah sehat kok,'' jawab Sania lembut pada Bunda nya.
''Sudah lah sayang? kasihan nak Arlan juga sudah membawa nya ke sini juga kan?'' Ujar Bu Wati mengelus punggung Sania pelan. Dengan sedikit bujukan dari sang Bunda akhirnya Sania mengangguk dan duduk di kursi roda yang di pegang Arlan dari belakang.
''Bunda, mungkin kak Arlan jatuh cinta pada Sania, coba lihat dia selalu menatap Sania begitu,'' bisik Riana pada Bu Wati yang ia panggil dengan Bunda.
''Sudahlah, kita do'a kan saja yang terbaik buat mereka berdua ya, dan kamu juga semoga cepat mendapatkan calon imam mu yang baik dan mengajarkan kamu agar tidak bergosip terus,'' ledek Bu Wati membuat Riana cemberut dan memeluk tubuh Bu Wati yang berjalan di samping nya.
''Amiin Bun? Semoga do'a Bunda cepat di kabulkan ya,'' sela Riana mengamini ledekan Bunda nya.
Bu Wati dan Riana satu mobil, sedangkan Sania dan Arlan juga satu mobil, di perjalanan ke rumah nya Sania terus terdiam tanpa mengatakan sesuatu. Arlan hanya sesekali mencuri pandang pada Sania yang sudah memakai hijab. ''Cantik,'' gumam Arlan pelan, hanya dia saja yang mendengar gumaman nya sendiri.
''Sania,'' panggil Arlan memecahkan keheningan di dalam mobil nya.
__ADS_1
''Iya,'' jawab Sania singkat dan tanpa menoleh ke asal suara.
''Aku boleh bertanya sesuatu pada kamu?'' tanya Arlan meminta persetujuan terlebih dulu pada Sania.
''Tanya saja kak?'' kini tatapan Sania mengarah ke jalanan depan yang nampak kemacetan yang panjang di depan nya.
''Kenapa kamu menyembunyikan tentang penyakit mu selama ini,'' tanya Arlan menatap Sania sekilas, lalu kembali fokus pada jalanan yang sudah bergerak walau seperti kura kura.
''Emang nya kenapa? aku harus bilang bilang tentang penyakit ku,'' tanya Sania balik.
''Ya nggak apa apa, cuma aku merasa kamu selalu menghindar dariku waktu itu, atau kamu sudah tau tentang penyakit kamu,'' sela Arlan penuh selidik.
''Nggak juga kok, bukan nya kak Arlan sendiri yang menghindar dari Sania,'' jawab nya ketus. ''Aku juga sangat bersyukur sekali waktu kakak menghindar dari ku, karena aku tak perlu mencari alasan lagi untuk menghindar dari kak Arlan kan,'' jawab Sania santai namun membuat hati Arlan tercabik-cabik mendengar nya.
''Waktu itu aku bukan menghindar dari kamu Sania, aku pulang kampung karena Ayah di sana sedang sakit. Dan aku kita kamu sudah menemukan pengganti ku? makanya aku nggak balik lagi ke restoran itu dan mencari pekerjaan lain nya.
''Nggak usah bohong lah kak, akuntau kalau kamu menghindari ku. Karena itulah kamu mengundurkan diri dari restoran, dan kenapa kak Arlan jadi baik sama aku?'' kata Sania membuang muka ke samping. 'Aku benar-benar tidak mengerti sama pemikiran kamu kak? dan aku juga harus mulai melupakan mu mulai dari sekarang?' batin Sania.
''Sania aku benar-benar minta maaf sudah pergi begitu saja dari restoran kamu, tapi aku nggak bermaksud berbuat itu sama kamu dan juga Bunda?''
''Sudahlah kak? lebih baik kak Arlan tidak lagi menemuiku mulai saat ini, karena aku tidak mau di kasihani karena penyakit yang aku derita?'' gumam Sania lirih, tanpa sengaja air mata nya sudah menetes begitu saja.
''Sania, andai kamu tau tentang perasa'an ku padamu selama ini, sungguh aku sangat tersiksa ketika kamu mengatakan akan memilih laki-laki yang sudah mapan dan lebih dari kamu, itu mengingat kan aku tentang keada'an ku, yang selalu ada di bawah kamu, aku malu saat itu Sania? namun batinku tersiksa karena selalu menghindar dari kamu, tapi aku sudah sangat yakin sekarang, bahwa aku benar-benar jatuh cinta sama kamu,'' jawab Arlan menjelaskan semua yang selama ini ia pendam, kini dia merasa plong setelah mengungkapkan isi hatinya pada gadis yang tengah duduk di samping nya.
__ADS_1