
"Kamu jangan mikirin tentang biaya sekolah lagi, Insya Allah akan Ibu usahakan, kamu hanya harus belajar dan belajar saja,'' Ucap Ibu menepuk pelan punggung ku.
''Tapi Bu? di sana pasti sangat mahal, lebih baik Karan pindah sekolah saja ya, mumpung belum masuk juga di sekolah itu,'' jawabku pelan, agar Ibu tak merasa bersalah karena aku pindah sekolah sebelum masuk ke sekolah yang kemarin nerima aku.
''Sudah lah, jangan di fikirkan lagi soal biaya, sudah malam cepat tidur gich, takutnya kamu malah telat lagi ke sekolah nya besok,'' tuturnya.
Aku tak berkata sepatah katapun lagi dan segera memasuki kamar guna mengistirahatkan tubuh lelah ku walau hanya sejenak. Aku yang sangat kelelahan langsung berkeliling di alam Nirwana.
Adzan subuh berkumandang dengan sangat merdu nya, aku menggeliat dari tidur ku. mengerjapkan mata dan menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 5 pagi, Akupun bergegas beranjak dari tempat tidur ku seraya menggerutu padaku sendiri, karena aku tak melaksanakan sholat sunah sepertiga malam, ''Lelap banget sich aku tidurnya, jadi melewatkan hal yang harus aku tak di lewatkan,'' gumam ku menuju ke belakang rumah untuk membersihkan diri dan menunaikan kewajiban ku yang lain, sebelum berangkat ke sekolah.
5 menit kemudian aku sudah selesai membersihkan badanku dan langsung melakukan sholat subuh di dalam kamar,
sedangkan Ibu sudah berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan kami berdua.
''Karan...? teh nya nak,'' Ucap nya ketika aku melewati nya.
''Karan sholat dulu Bu, takutnya nggak ke buru lagi,'' jawabku melangkah ke kamar.
Aku menyambar baju koko dan juga sarung yang ada di gantungan baju, setelah itu aku mengambil sajadah dan peci yang sengaja aku taruh di atas meja belajar ku.
Ku bentangkan sajadah yang sudah kusam, karena sajadah tersebut adalah peninggalan Ayah-nya yang sengaja Karan simpan untuk di pakai sendiri.
Tak butuh waktu lama, aku menyelesaikan sholat subuh ku dan bermunajat kepada Allah SWT.
*-*-*-*-*-*-*-*
Sedangkan di belahan dunia ada seseorang sedang mencari seorang Putera nya yang sudah lama tak kunjung pulang ke rumah mewah nya.
__ADS_1
''sebenarnya kamu pergi kemana sich Candra, Bapak ngaku salah karena tak pernah merestui kalian berdua, sehingga membuat kamu pergi dari rumah saat itu, kini Bapak sudah sangat sadar, pulanglah Nak, Bapak sudah sangat kangen sama kamu,'' Gumam Pak Sanjaya di dalam rungannya.
Pak Sanjaya adalah kakek dari Karan, dulu Pak Sanjaya sangat menentang hubungan antara anaknya dengan seorang gadis kampung yang begitu di cintai oleh Pak Candra ayah dari Karan.
*14 Tahun silam*
Sewaktu Pak Candra mendatangi kampung Ibu nya Karan, untuk sebuah urusan Kantor nya, saat itu Pak Candra tak sengaja bertemu dengan Ibu Wati yakni Ibu Karan.
Pak Candra pun akhirnya jatuh hati pada Bu Wati, pandangan pertama membuat dada Pak Candra berdegub sangat kencang, seminggu sudah Pak Candra berada di kampung halaman Bu Wati, kini tiba saatnya Pak Candra untuk kembali ke Jakarta, karena urusan kantor nya sudah selesai ia tangani.
Setiba nya di Jakarta Pak Candra langsung membicarakan itu semua pada sang Ayah, pertama dengarnya Pak Sanjaya senyum senyum karena mengetahui sang Putera kesangan nya sudah mulai membuka hatinya kembali, setelah di tinggal pergi oleh sang kekasih Pak Candra menutup hatinya rapat pada semua gadis gadis yang mengejar nya, karena kekayaan dari Pak Candra, banyak gadis berbondong-bondong mengejar Pak Candra, ada juga yang mau naik ke ranjang Pak Candra juga, agar ia di jadikan wanita nya.
Pak Candra tak terbuai dengan kecantikan yang di miliki setiap gadis yang mencoba mengejar nya, namun kini Pak Candra malah kepincut dengan Bu Wati yang notabene nya orang kampung.
''Apa kamu bilang!!'' teriak Pak Sanjaya ketika Pak Candra sudah selesai menceritakan tentang keadaan Bu Wati yang orang miskin.
Pak Candra hanya bisa menunduk pasrah, karena menurut Pak Candra itu semua hal yang sangat wajar, karena sang Ayah belum tau seperti apa kepribadian Bu Wati.
''Papa? tapi Candra sangat suka sama Wati, Candra cinta banget sama Wati Pa?'' jawabnya menatap wajah sang Ayah.
''Sekali Papa bilang tidak ya tidak!!'' teriak nya semakin menjadi jadi.
''Papa kan belum tau sama Wati, Wati orang nya sangat baik Pa, dia juga ramah dan penyayang,'' Ucap Pak Candra ketika itu.
''Pokoknya Papa bilang nggak setuju ya nggak setuju?!'' jawabnya ketus dan langsung meninggalkan Pak Candra di ruang tamu sendirian.
Sejak penolakan dari Pak Sanjaya saat itu, Pak Candra selalu murung, ia tak bersemangat lagi untuk pergi ke kantor nya. Sedangkan sang Ayah sudah menyelidiki keberadaan Wati di kampung, Pak Candra kemudian pergi keluar kota karena cabang perusaha'an nya ada yang bermasalah.
__ADS_1
Saat itu juga Pak Sanjaya memutuskan untuk pergi ke kampung Bu Wati, sesampainya di sana Pak Sanjaya berdecih ketika melihat rumah jelek Bu Wati.
''Cich...!! Aku tau akal bulus dari keluarga ini pada anak saya, mereka hanya mau morotin harta saya dengan bersikap baik pada Candra,'' gumam nya dengan nada penuh keangkuhan.
''Jangan harap bisa main main di keluarga besar ku,'' Ucapnya lagi sebelum memutuskan untuk masuk dan bertemu dengan Wati, pujaan dari Putera kesayangan nya.
Pak Sanjaya mengetuk pintu rumah kumuh Bu Wati Ibu nya Karan.
Bu Wati yang sedang berada di belakang langsung menghampiri pintu yang di ketuk oleh seseorang dari luar.
''Iya, tunggu sebentar,'' ucap Bu Wati berjalan tergesa-gesa.
Ckleek... Suara pintu di buka dari dalam.
Pak Sanjaya memandangi penampilan Bu Wati dari atas ke bawah, ''Cewek jelek kayak gini bisa memikat anak saya,'' Gumam nya, yang di dengar oleh Bu Wati.
Sedangkan Bu Wati terperangah karena mendengar ucapan seorang bapak yang seperti nya begitu benci padanya.
''Siapa Bapak Bapak ini, datang datang sudah mengina aku jelek segala,'' batin Bu Wati seraya memberanikan diri untuk bertanya pada Pak Sanjaya yang masih berdiri di depan pintu.
''Maaf, Bapak cari siapa?'' tanya lembut Bu Wati, namun tak mendapatkan respon dari Pak Sanjaya.
''Kamu Wati kan!'' tanya Pak Sanjaya ketus dan acuh tak acuh pada Bu Wati.
''Iya saya sendiri Pak, ada apa ya Bapak mencari saya,'' jawabnya masih dengan nada lembut nya.
'''Langsung saja, karena aku nggak mau buang buang waktu hanya dengan gadis jelek seperti mu!''
__ADS_1
BERSAMBUNG