
''Mau telfon siapa sich Pa?'' tanya Cinta setelah mengambil ponsel Pak Sanjaya Papa nya.
''Papa mau nelfon kakak kamu Citra, sudah lama sekali dia tidak menengok Papa di rumah,'' jawabnya mencari nomor ponsel Citra Puteri kedua nya.
''Mungkin kak Citra sedang sibuk Papa,'' Ucap Cinta membohongi sang Papa, karena dia tau kalau kakak nya tak akan datang ke rumahnya lagi, sejak Mamanya meninggal, Citra tak pernah datang lagi ke rumah besar itu.
''Papa kangen sama Andrian dan juga Andriana,'' sahutnya, Andrian dan juga Andriana adalah saudara kembar. Pak Sanjaya menunggu telfon nya di terima oleh puteri nya di seberang, namun sampai 4 kali menelfon, tak ada satupun yang di jawab oleh Citra puteri nya.
''Sudahlah Pa, sebaiknya Papa sarapan dan segera minum obat, biar maag nya tidak kambuh lagi seperti kemarin,'' kata Cinta mengelus punggung Papa nya.
Cinta membawa Pak Sanjaya ke ruang makan yang di sana sudah sang suami dan juga putri semata wayang nya, yang bernama Mikaela Ramadani.
''Ayo Kek sarapan, Mikaela sudah lapar ini,'' celetuk Mikaela yang emang bawel.
''Sebentar sayang, kakek masih jalan ini,'' sahutku menggeleng kan kepala melihat puteri nya.
''Aduhh, Mama nanti Mikaela telat sekolahnya kalau nunggu kakek?'' rengek nya, karena Pak Sanjaya sekarang ini jalan nya tertatih tatih.
''Mikaela, nggak boleh ngomong kayak githu,'' gumam Mas Fabian suami Cinta.
''Maafin kakek ya,'' Ucap Pak Sanjaya pada cucunya.
Mikaela cemberut, sembari berjalan menghampiri sang kakek yang duduk di kursi nya seperti biasa, ''Nggak apa apa kakek, harusnya Mikaela yang minta maaf sama kakek, Mikaela egois,'' Gumamnya tersenyum menatap wajah tua Pak Sanjaya kakek nya Mikaela.
''Sini sayang?'' sang kakek pun memeluk cucu perempuan nya yang masih kecil.
''Seandainya Candra ada di sini juga, pasti tambah rame dech rumah ini,'' Gumam nya pelan, namun masih di dengar Cinta dan Fabian menantu nya.
''Mungkin besok besok, kak Candra pulang Pa?'' kata Fabian. Pak Sanjaya hanya mengangguk dan menyuapkan nasi yang sudah di ambilkan oleh Cinta puteri yang sudah merawatnya selama ini.
__ADS_1
''Kakek, Candra itu siapa sich, Mikaela dengar nya hampir tiap hari, tapi Mikaela nggak tau orang nya, emangnya ada di mana dia Kek?'' tanya Mikaela polos, karena dia emang tidak tau menau Paman nya yang sudah 15 tahun pergi dari rumah, mengejar gadis puja'annya yang berada di desa.
''Candra itu Paman kamu sayang? beliau kakak nya Mama, yang sekarang tinggal di desa bersama istri dan juga anak anaknya,'' jelas Cinta pada Mikaela puteri kecilnya.
Mikaela hanya ber oh ria mendengarkan penjelasan ku. ''Ayo cepat di habiskan sarapan nya, setelah itu langsung berangkat ke sekolah,''
''Siap Ma.'' sahut Mikaela sembari memberi hormat pada sang Mama.
''Ma? liburan besok kita ke rumah tante Citra ya, Kaela sudah Kangen banget sama Kak Andriana dan juga Kak Andrian,'' rengek Mikaela pada Mama nya.
''Iya, minggu depan kita ke sana,'' sahut ku . ''Ya sudah habisin sarapan nya,'' lanjut Cinta Mama Mikaela.
''Pa? Fabian ke kantor dulu ya,'' pamit nya pada Pak Sanjaya sang mertua.
''Mikaela juga berangkat kakek, takut telat,'' mencium punggung tangan Pak Sanjaya kakek nya.
Sedangkan Cinta mengekor Fabian suaminya keluar dari rumah, untuk berangkat ke kantor, ''Hati-hati ya sayang?'' Ucap Cinta pada Fabian suaminya seraya mencium tangan Fabian.
''Iya, kamu juga baik baik dirumah, jaga Papa jangan biarkan Papa terus terusan memikirkan mbak Citra, kasian beliau,'' pesan Fabian pada Cinta istri nya.
''Iya sayang, kamu kan tau mbak Citra kayak gimana,'' jelasku.
*-*-*-*-*-*-*-*
Masih di sekitaran kota Jakarta, Karan, Sania dan juga Ibu Wati menyantap sarapan pagi nya dengan gembira, walaupun sarapan nya hanya terdiri dari nasi dan lauk pauk berupa tempe dan sayur bening, namun terasa sangat nikmat ketika di santap bersama orang terkasih dan juga orang yang tersayang. Seperti halnya Karan dan Sania, mereka selalu merasa bersyukur atas nikmat yang Allah berikan padanya selama ini.
Ya Ibu Wati memilih pindah ke Jakarta untuk mensejahterakan hidup nya beserta kedua putera dan juga puteri nya.
Ibu Wati bekerja di sebuah pabrik Garment sebagai buruh, sejak Karan kelas 2 SMP Bu Wati memutuskan untuk merantau ke ibukota Jakarta. Otomatis Karan dan Sania harus pindah sekolah juga, hampir satu bulan Bu Wati membuat keputusan untuk mengadu nasib di kota besar seperti ibukota Jakarta, sejak teman nya menawari dia untuk bekerja di pabrik Garment tersebut.
__ADS_1
''Maaf ya, Ibu hanya bisa memasak seadanya saja saat ini, mungkin kalau sudah gajian Ibu akan membelikan makanan enak buat kalian berdua,'' gumam Bu Wati mengelus punggung Karan dan Sania.
''Nggak apa apa kok Bu? ini saja sudah cukup buat kita berdua, iya kan Dek,'' kata Karan dan meminta pendapat dari sang Adik yakni Sania.
''Benar Kak, kita sudah bisa makan saja sudah bersyukur banget Bu, masih banyak yang nggak bisa makan seperti kita saat ini,'' jawab Sania yang mencuci tangannya di kobokan yang berada di depan nya, karena sang Ibu selalu menyediakan kobokan untuk mencuci tangan untuk putera dan juga puteri nya.
Karena Bu Wati tau kalau mereka berdua lebih senang makan pakai tangan ketimbang pakai sendok yang ada di depan nya.
''Ya sudah kalian berangkat sanah, Ibu juga mau berangkat ke pabrik juga,'' Bu Wati memgambilkan tas punggung kedua anaknya.
Ya sekarang Sania sudah duduk di bangku kelas satu SMP, Karan dan Sania mendapatkan beasiswa dari sekolah tersebut, uang saku Sania tak jauh berbeda dengan Karan sang kakak.
Maka dari itu Karan memilih bekerja paruh waktu agar bisa membantu Ibu nya di rumah. Karan mulai bekerja di sebuah Restoran siap saji, dia di terima kerja karena rekomendasi dari teman cewek nya di sekolah SMP Negeri 1, Sebut saja Pinky karena dia sangat menyukai warna pink tersebut.
''Karan!!'' panggil Pinky yang terlihat ngos-ngosan karena berlari dari Gerbang sekolah nya.
Karan menghentikan langkah nya sejenak sembari menunggu Pinky.
''Karan... huch untung tidak telat,'' Ujar Pinky masih dengan nafas memburu.
''Kamu kenapa?'' tanya Karan lembut pada Pinky.
''Aku berlari dari lampu merah tadi, soalnya mobilku mogok,'' Jelasnya sambil mengatur nafasnya.
''Kenapa tidak naik taksi saja,'' tanya Karan lagi.
''Sudah, tapi nggak ada taksi yang lewat, jadi aku memutuskan untuk lari menuju ke sekolah ini,'' jawabnya seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelasnya.
BERSAMBUNG
__ADS_1