Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 13


__ADS_3

''Bapak tidak makan?'' tanya Pak Candra ramah, pada kedua orang yang sudah menolong nya.


''Bapak makan dulu saja, saya mau menurunkan barang bawaan dulu,'' sahut sang sopir mobil bak.


''Ya sudah saya bantuin Bapak dulu kalau githu,'' tukas Pak Candra meletakkan bungkusan nasi yang sudah di terima nya.


''Kamu makan dulu saja, biar kami yang bawa semua barang barang ini ke dalam,'' kata Aziz yang biasa di panggil Pak Bos oleh sang sopir.


Pak Candra tak menghiraukan perkataan Pak Aziz, dia langsung membantu memanggul barang barang yang berupa sembako ke dalam pasar dan menaruhnya di toko yang memesannya beberapa hari lalu.


Pak Aziz memang seorang Bos, namun Pak Aziz juga ikut memanggul barang barang yang di pesan Ibu Ibu di pasar ini. karena sepulangnya dari desa Pak Aziz selalu membawakan hasil panen orang orang desa yang emang di titipkan secara langsung pada Pak Aziz, karena Pak Aziz sudah di percaya oleh orang orang kampung untuk membawa hasil panen nya.


''Kuli baru ya Pak,'' tanya seorang Ibu pemilik Toko tersebut.


''Kayaknya bukan dech Bu, penampilan nya saja seperti orang yang kerja kantoran githu,'' sahut Ibu Ibu yang punya warung di sebelah Toko tersebut.


''Saya hanya membantu Bapak saja untuk mengantarkan barang barang ke Toko ini saja Bu?'' jawab Pak Candra ramah, yang langsung di angguki oleh Pak Aziz.


''Dia orang kota Bu, dan dia kesini ingin mengejar pujaan hatinya yang kebetulan berada di kampung ini,'' jelas Pak Aziz pada Ibu pemilik toko dan juga pemilik warung yang biasa Pak Aziz duduki kalau sudah selesai dengan pekerjaan nya mengantar semua barang barang pesanan Ibu Ibu di dalam pasar.


''Gadis mana yang sangat beruntung, bisa mendapatkan laki-laki kota,'' gumam Ibu pemilik warung.


''Mungkin Ibu Ibu salah paham dengan penampilan saya, karena saya tidak seperti yang Ibu lihat saat ini. Saya baru di usir dari rumah Bu, jadi tidak memiliki barang apapun lagi kecuali pakaian yang saya kenakan sekarang,'' jawab Pak Candra melas, ia menundukkan kepala nya karena malu dengan kehidupan nya yang sekarang, di tambah lagi harus berterus terang dengan semua orang kalau dirinya di usir keluarga nya karena mengejar sang wanita yang begitu ia cintai.


''Sudah sudah, jangan di bahas lagi. Kita makan di sini sekarang,'' Ucap Pak Aziz menyudahi cerita sedih dari Pak Candra yang di usir keluarga nya karena lebih memilih wanita kampung dari pada gadis pilihan sang Ayah-nya.


Pak Candra berbalik dan melangkah kan kakinya untuk pergi, ''Pak Candra mau kemana, makan dulu di sini,'' Ucap Pak Aziz ketika melihat Pak Candra ingin pergi.

__ADS_1


Sebenarnya umur Pak Aziz dan juga Pak Candra sama, yakni 27 tahun hanya saja berbeda beberapa bulan dari Pak Candra.


''Saya mau mengambil makanan di mobil dulu Pak, karena tadi Candra taruh di sana,'' jawabnya pelan.


''Tidak usah di ambil, makanan itu entar entar saja di makannya,'' celetuk sang sopir merangkul bahu Pak Candra.


''Mubazir kalau nggak di makan sekarang Pak, lagian kan makan nya sekarang terus nasi yang di bungkus itu kapan mau di makannya,'' tanya Pak Candra pada sopir mobil bak yang juga kuli dari Pak Aziz.


''Iya juga ya Pak,'' jawabnya terkekeh ketika memikirkan perkataan Pak Candra barusan.


''Bos, saya nganterin Pak Candra dulu ke mobil, takutnya di gondol Ibu Ibu yang ada di pasar ini, lagian suruh siapa ganteng gini malah ada di dalam Pasar,'' celetuk Pak sopir, yang membuat Pak Candra mendengus mendengarkan celotehan nya.


''Ya sudah, aku tunggu kalian di sini,'' jawab Pak Aziz duduk di Warung Ibu di sebelah Toko di mana barusan mengantarkan barang pesanan nya.


Setelah kepergian Pak Candra Ibu pemilik warung berkata, ''Kasihan sekali Pak Candra ya nak Aziz, di usir dari rumah nya hanya gara gara ingin menikahi gadis kampung,''


''Kasih pekerjaan saja nak Aziz, kasihan dia, terus sudah bertemu dengan gadis pujaan nya belum,'' tanya Bu Ranti pemilik Toko sembako.


''Belum, habis ini akan saya antar ke rumah sang wanita, agar dia tak salah paham, semoga wanita pujaan nya bisa menerima Pak Candra ya Bu,'' jawab Pak Aziz.


''Kok belum makan bos, nungguin kita ya?'' kata sopirnya tiba-tiba.


''Sudah, ayo makan, aku sudah sangat lapar ini, kalian kenapa begitu lama sich cuma ke depan saja,'' gumam Pak Aziz yang sedang mengalihkan pandangan nya.


''Di depan ada gadis cantik bos, mereka ngerubungi Pak Candra,'' kata sopir yang biasa di panggil Tole, karena dia juga pendatang dari desa.


''Kayak ikan saja di kerubungi,'' sahut Bu Ranti.

__ADS_1


''Kerubungi apa Bu?'' tanya Tole pada Bu Ranti yang tak meneruskan ucapannya barusan.


''Lalat,'' Ucap nya singkat.


''Apanya lalat Bu?'' tanya Pak Aziz penasaran dan mengerutkan kening nya.


''Maksudnya di kerubungi lalat ikannya githu Aziz, masak githu saja nggak ngerti,''


''Sudahlah makan saja kalian, capek aku ngomong nya,'' kata Bu Ranti mengakhiri perbincangan nya.


''Gara-gara Bu Ranti ngomong terus, jadi nggak ingat kalau kesini niatnya mau makan,'' celetuk Tole mendudukkan diri di bangku samping bos nya, sedangkan Pak Candra hanya tersenyum melihat orang di depan nya pada berdebat.


''Selesai makan, saya antar kamu ke rumah wanita pujaan kamu yang sudah bikin kamu di usir keluarga mu di kota,'' Gumam Pak Aziz yang di angguki oleh Pak Candra. Sebenarnya Pak Candra tak enak hati pada Pak Aziz, karena sudah terlalu banyak membantunya, dan sekarang dia juga ingin mengantarkan aku bertemu dengan gadis pujaan hatiku.


*-*-*-*-*-*-*-*


Siang itu Bu Wita sedang duduk di teras rumah nya, sambil membersihkan kuku kuku tangan nya.


Dahi Bu Wita mengerut, ketika melihat ada mobil bak terbuka (pick up) berhenti di depan rumah nya.


Tak lama Pak Candra, Pak Aziz dan juga Tole turun dari mobil tersebut, seraya melangkah menghampiri Bu Wita yang sedang duduk di teras rumah nya. Karena sang bapak sedang istirahat di dalam kamar.


''Assalamu'alaikum,'' Ucap ketiga nya yang hampir berbarengan.


''Waalaikum salam,'' jawab Bu Wita beranjak dari duduk nya, seraya berkata dan berkacak pinggang di hadapan Pak Candra.


''Mau apa lagi kamu datang ke sini, kurang puas keluarga kamu menyakiti keluarga ku, mentang mentang dirinya punya banyak uang, dan menindas ku layaknya semut yang tiada artinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2