
Di tempat lain Arlan tengah kesal, karena telfon dan juga chat nya tak ada yang di balas oleh Sania, wanita yang sudah memporak porandakan hatinya selama ini, Arlan mengira hubungan nya akan baik baik saja setelah beberapa hari bersama nya, namun tebakan Arlan salah besar. Kini Sania mengabaikan Arlan lagi? tapi untuk saat ini Arlan memilih untuk bersabar menghadapi Sania, ketimbang dari bukan bulan sebelumnya nya? sebelum dia mengetahui penyakit yang di idap pujaan hati nya.
''Sania, aku harap kamu baik baik saja di sana,'' gumam Arlan memegang erat ponsel nya, berharap Sania akan menelfon balik.
Tepat jam 12 malam Sania sudah menyelesaikan pekerja'an. Dia merentangkan tangan nya agar semua otot-otot yang kaku bisa kembali normal kembali. Sania terbelalak melihat ponsel nya dengan panggilan tak terjawab yang lumayan banyak, di tambah lagi dengan chat yang sudah puluhan yang terkirim di gadget nya.
''Emang nggak ada kerja'an lain lagi apa? sampai sampai menghubungi ku sebanyak ini,'' gumam Sania pelan. ''Aku balas nggak ya, dan aku takut dia sudah terlelap dalam tidur nya,'' pikir Sania menimang nimang kembali keinginan nya.
''Aku coba saja dech?'' gegas Sania membalas chat yang di kirim Arlan tadi.
📤-''Sorry tadi aku sibuk menyelesaikan pekerja'an yang belum aku selesaikan?'' isi chat Sania.
Arlan yang emang belum tidur pun segera membalas chat Sania.
📩-''Iya nggak apa apa kok, kamu nggak apa apa kan?'' balas Arlan.
📩-''Tadi bagaimana ceck up nya?'' tanya Arlan lagi.
📤-''Tadi nggak sempat cek up, Sania lupa kalau jadwal cek up nya masih lusa,'' balas Sania.
Di sisi lain Arlan merasa kecewa karena Sania mengatakan akan pulang untuk cek up kesehatan nya dirumah sakit, namun ternyata Sania malah membohongi nya lagi.
📩-''Bukan nya tadi pagi kamu bilangnya akan cek up,'' lagi lagi Arlan memberi pertanya'an kepada Sania.
📤-''Dokternya tadi sedang sibuk dengan pasien yang sedang kritis jadi nggak bisa ninggalin pasien nya begitu saja, jadi lebih baik cek up aku saja yang di undur menjadi lusa,'' bohong Sania melihat Arlan akan terus menerus akan bertanya padanya.
📩-''Och githu ya, ya sudah lebih baik kamu istirahat saja, ini sudah larut malam,'' titah Arlan yang sudah tidak di balas lagi boleh Sania. Arlan berpikir Sania sudah terlelap dalam tidur nya, tapi kenyataan nya Sania malah terdiam memikirkan ucapan Arlan beberapa hari yang lalu, Arlan bukan sekali dia kali mengungkap kan rasa cinta dan sayang nya kepada Sania, namun Sania merasa ragu dan Sania juga berfikir tidak akan merepotkan orang lain.
__ADS_1
Memikirkan hal itu Sania mengeluarkan air matanya yang sedari tadi ia bendung di depan Bunda nya.
''Sania harus apa ya Allah, hamba bingung dengan jawaban yang akan hamba berikan kepada laki-laki yang juga hamba sayang,'' Ucap Sania lirih.
Sania lalu bergegas melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat malam nya.
Hanya di dalam sujudnya Sania bisa merasaka ketenangan di dalam hatinya. Ayat demi ayat di lantunkan Sania selesai melaksanakan sholat sepertiga malam nya.
Lagi lagi Sania terlelap dengan masih memakai mukenah nya, sang Bunda yang sengaja berdiri di depan pintu kamar puteri nya pun tak henti hentinya mengeluarkan air matanya, ketika mendengar do'a do'a yang di panjatkan kepada Allah SWT.
''Semoga Allah mengabulkan semua do'a do'a kamu sayang?'' gumam Bu Wati menutup mulut nya agar tangisan nya tidak mengeluarkan suara, yang akan menambahkan rasa sedih puteri kecil nya.
''Bunda harus apa sayang? seandainya penyakit kamu bisa Bunda tukar? pasti dengan senang hati Bunda akan menukar nya dengan ikhlas,'' gumam nya lagi dan kini beliau memilih turun ke lantai dasar, takut takut puteri nya tiba-tiba membuka pintu dan dia pun mengetahui apa yang di lakukan oleh sang Bunda.
''Besok aku harus bertanya kepada dokter?'' bisik nya pada diri sendiri.
Mendapatkan pesan dari kakak ipar nya Citra merasa senang, apalagi kakak ipar nya mengatakan akan ke dokter yang menangani Sania saat ini.
''Siapa sayang?'' tanya tuan Arzan lembut di saat melihat sang istri tersenyum.
''Mbak Wati mengajak aku untuk ke rumah sakit?'' jawab Mama Citra menatap suaminya dengan senyum nya.
Mama Citra juga tengah melaksanakan sholat malam bersama sang suami, dan saat ponsel nya berbunyi Mama Citra baru selesai melaksanakan sholat sunnah itu.
''Rumah sakit?'' tanya tuan Arzan dengan mengerutkan kening nya heran.
''Iya, mbak Wati ingin bertanya langsung kepada dokter nya besok, aku juga ingin bertanya seperti mbak Wati yang menginginkan Sania cepat sembuh Mas?'' balas Mama Citra yang kini tengah membuka mukenah nya.
__ADS_1
''Ya sudah, kalau begitu lebih baiknkalaian bawa supir saja ya? kamu nggak boleh bawa mobil sendiri,'' titah tuan Arzan yang langsung di angguki oleh Mama Citra, karena percuma kalau dia melawan semua ucapan suaminya, nggak bakal menang.
''Lebih baik kamu tidur lagi, aku akan ke ruang kerja dulu?'' kata tuan Arzan mencium kening Mama Citra lembut.
''Masih malam masak kamu mau bekerja sich mas?'' sela Mama Citra tak terima yang akan ditinggal pergi.
''Hanya sebentar saja kok,'' sahut nya beranjak pergi dengan kopyah dan juga sarung nya. Mama Citra hanya mendesah kesal karena suaminya yang terus melangkah pergi meninggalkan nya.
...****************...
Pagi menjelang dan Sania sudah terbangun dari tidur nya, karena dia sudah ada janji untuk pergi ke rumah yang merawat anak anak yang menderita kanker. Dengan menenteng kantong plastik yang ukuran besar Sania kini tengah berada di halaman depan rumah sakit tersebut. Hati inindia akan bertemu dengan saudara saudara yang senasib dengan nya.
''Hore...? kak Sania datang?'' teriak bocah kecil yang sudah cukup lama menghuni rumah sakit ini.
''Hallo sayang? apa kabar nya nich,'' sapa Sania dengan menundukkan tubuh nya, mensejajarkan dirinya dengan bocah kecil yang kini sudah plontos akibat pengobatan yang ia terima selama beberapa tahun lalu.
''Saya sangat sehat kakak? buktinya saya sekarang bisa main di halaman ini, dan tentunya juga menunggu kedatangan kakak juga,'' balas nya dengan senyuman yang menghiasi di bibir nya.
Tak ada rasa sedihnya nggak terlintas di benak bocah laki-laki plontos itu, setiap hari dia selalu merasa bahagia ketimbang dengan dirinya, pikir Sania menatap lekat wajah bocah di depan nya.
''Karena kamu sudah sehat dan begitu bahagia? hati ini kakak akan memberikan makanan yang kamu suka,'' kata Sania menghapus air mata nya yang tiba-tiba luruh begitu saja.
''Kak Sania,'' panggil lagi bocah perempuan di belakang nya.
.
.
__ADS_1
.