Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 59


__ADS_3

''Bukan gagu kak Pinky...? tapi gugup so kak Pinky selalu memotong ucapan ku dari tadi,'' protes Sania yang mulai merajuk.


''Iya iya maaf, jangan ngambek gitu dong? makin jelek tau,'' Ujar Pinky mencubit pipi chubby Sania.


''Ada perlu apa kemari, atau jangan jangan kakak kamu sudah kembali ya ke Jakarta?'' cecar nya dengan beberapa pertanyaan.


''Kak Karan masih ada pekerjaan di sana kak, perusahaan kakek nggak ada yang pegang,'' jawab nya.


''Emang nya kalian sama kakek Sanjaya ada hubungan apa sich?'' tanya Pinky yang masih belum mengetahui identitas Karan dan juga Sania, kalau mereka adalah cucu dari kakek Sanjaya.


''Kak Karan tak pernah cerita sama kak Pinky?'' bukan nya menjawab Sania malah berbalik tanya pada Pinky sahabat sang kakak.


''Karan cuma bilang kalau kakek Sanjaya ingin dia kuliah di luar negeri saja, dan kamu juga bilang nya bekerja di restoran kakek Sanjaya,'' jawab nya dengan kebingungan nya.


''Kalau begitu biar kak Karan saja yang menjelaskan semuanya pada kak Pinky, Sania tak berhak untuk menjawab semua pertanyaan ini,'' ujar Sania menghela nafas panjang dan menghembuakan dengan kasar, karena Sania berpikir kalau sang kakak masih menyembunyikan identitas nya pada Pinky, seorang wanita yang cantik dan juga baik hati. Sania tersenyum melihat Pinky yang mulai di landa dengan penasaran dan dengan berbagai macam pertanyaan yang ada di otak nya.


'Biarlah kak Pinky penasaran dengan semua ini, aku tak punya hak untuk menjelaskan semuanya, mungkin ini adalah siasat kakak saja, kak Karan ingin melihat seberapa peduli kah gadis ini pada kak Karan,' gumam pelan.

__ADS_1


''Kamu ngomong apa sich Sania, kok pelan banget, aku nggak dengan kan?'' rengek Pinky.


''Kak, Sania boleh pinjam salah satu gau yang ada di sini nggak, atau nggak Sania cicil dech uangnya, kalau gaun nya sampai cacat,'' seru Sania, memulai obrolan nya dengan serius. Sebenarnya Sania bisa membeli beberapa gaun yang di pajang di butik Pinky ini, namun Sania mencoba untuk meminjam nya dari Pinky.


''Kenapa gitu sih Sania, pilih yang kamu suka dan ambillah, jangan sekali kali kamu ngomong mau pinjam lagi di butik ini, kamu adik Karan? dan Karan adalah sahabat ku, selama ini dia sudah baik sama aku, dan kamu juga selama ini sudah banyak membantu aku di butik ini, jadi jangan bicara seperti tadi lagi, atau aku akan marah sama kamu. Dan bahkan mungkin aku nggak mau berteman dengan kakak mu lagi,'' sahut Pinky dengan kemarahan nya, dia tidak menyangka kalau adik dari sahabat nya mengatakan ingin meminjam baju di butik nya, 'Adik Karan juga adik ku, sudah sepantasnya aku memberikan baju yang ia suka pada nya, tanpa bayaran sepeser pun.' bisik nya pada diri sendiri.


''Beneran kak? Sania boleh memilih salah satu gaun di sini?'' Ucap Sania senang.


Pinky mengangguk dan memegang tangan Sania, di tepuk nya telapak tangan Sania seraya berkata, ''Sania? kamu juga adik ku, sudah sepantasnya aku juga membahagiakan kamu juga, walau kakak kamu selama ini tak memberi kabar padaku, bahkan mungkin sudah melupakan aku, tapi kamu akan tetap menjdi adik ku untuk selama nya,''


''Terima kasih kak?'' Sania memeluk Pinky dengan erat, dan tanpa din sengaja air matanya menetea begitu saja, mungkin Sania terharu dengan sikap Pinky yang selalu mengabulkan apa yang ia ucapkan, walau tanpa di minta sekalipun.


'Ada apa sebenarnya dengan Sania? kenapa dia sampai nangis kayak gini, apa yang dia sembunyikan dariku, ada masalah kah di kampus atau di tempat kerjanya,' pikir Pinky yang merasakan tetesan air mata Sania yang terjatuh di punggung nya.


''Terima kasih ya kak, selama ini kak Pinky sudah baik sama kami berdua, Sania akan selalu mengingat kebaikan kak Pinky,'' tutur nya dengan lembut, dan menampakkan senyum manisnya pada Pinky.


''Iya sama sama Sania, ayo pilih baju yang kamu inginkan, emangnya buat acara apa sich?'' tanya Pinky mengambil tangan Sania dan di bawa nya ke tempat gaun gaun di letakkan.

__ADS_1


''Hanya pesta ulang tahun saja kok kak, tapi ini pesta akan sangat mewah, karena seorang pengusaha kaya kemungkinan besar juga bakalan datang,'' jawab Sania sambil terus melangkah, mengikuti langkah Pinky yang masih menggenggam tangan nya.


Pinky memilih 3 gaun yang indah dan juga elegan, ada warna navy, merah dan juga hitam yang sangat kontras dengan kulit Sania yang putih bersih, namun Sania menjatuhkan pilihan nya pada gaun yang berwarna hitam dengan taburan berlian.


''Yang ini saja dech kak, kayak jua bagus buat Sania,'' gumam Sania memegang gaun yang ada di depan nya.


''Jam berapa berangkat nya, sekalian biar aku make over kamu juga, biar sekalian kan?'' tanya Pinky menatap Sania.


''Emang boleh kak, kalau gitu nggak harus nunggu teman dong untuk merubah wajah ku yang pas pasan ini.


''Kamu tuh cantik Sania, cuma kamu saja yang malas merias wajah nya?'' jawab nya membawa Sania ke kamar pas, untuk mencoba gaun yang ia bawa saat ini.


''Sekarang kamu coba dulu sanah,'' Pinky mendorong Sania masuk ke kamar pas yang ada di dalam butik nya.


''Nggak usah lah kak?'' tolak Sania.


''Sania? aku nggak mau debat ya, sekarang cepatlah masuk atau aku batalkan saja untuk memberi mu gaun ini,'' tukas Pinky, Sania cemberut seraya mengikuti apa yang di perintahkan oleh sahabat sang kakak.

__ADS_1


Sania mulai mencoba gaun yang ia Terima dari Pinky baru saja, dia terlihat tersenyum melihat tampilan nya yang begitu cantik dengan gaun warna hitam nya, Sania emang tak pernah memakai gaun di hari hari biasanya, Sania selalu memakai celana jeans yang di padukan dengan kemeja kotak-kotak nya, Sania terbilang gadis tomboy yang tak suka memakai baju baju feminim seperti sekarang ini.


''Nampak nya kamu sangat cantik Sania dengan balutan gaun ini, tapi ini...? apakah ini nggak terlalu pendek ya?'' gumam nya yang melihat ke arah bawah yang menampakkan kaki jenjang dan juga kulit putih nya, lalu aku harus memakai sepatu apa, sedangkan aku tak punya high heels sama sekali,'' pikir nya bingung, dia mondar mandir di dalam kamar pas.


__ADS_2