
Nampak kak Citra duduk di jok belakang sang supir, dia sesekali melihat keluar siapa tau anak kecil yang bernama Karan lewat di samping mobilnya.
Andrian melihat sang Mama di dalam mobil, diapun tersenyum melihat Mama nya juga menjemput di sekolah.
''Mama juga ikut?'' tanya Andrian ketika sampai di samping mobilnya, sebenarnya Andrian sudah tau kalau sang Mama datang ke sekolah nya hanya ingin melihat Karan yang mirip dengan pamannya, yang tak lain adalah kakak dari Mama nya.
''Iya sayang? sekalian Mama juga langsung ke rumah sakit hari ini, kalian mau kan ikut Mama ke rumah sakit,'' sahut kak Citra lembut.
''Mau dong Ma? Riana sudah tak sabar melihat adek Riana di dalam sini,'' sambung Riana dengan senyuman yang mengembang di kedua bibir nya.
''Lho kalian belum pulang?'' tanya Karan yang melihat Riana dan Rian masih berada di luar mobil nya.
''Belum kak, ini masih nunggu Pak Dadi,'' sahut Riana ramah dan sekilas melirik sang Mama yang bahagia menatap Karan di depan nya.
''Oiya kak Karan? di dalam mobil ada Mama juga lho, mungkin kak Karan ingin bertemu dengan Mama kita,'' lanjut nya lagi.
''Och, tante ikut jemput kalian juga ya?'' jawab Karan antusias. ''Boleh dech?''
Karan mengajak Pinky dan juga Sania ke mobil Riana, di mana kak Citra sudah berdiri di luar mobil.
''Siang tante?'' sapa ketiganya.
''Siang juga nak?'' jawab kak Citra tersenyum manis pada ketiga anak tersebut.
''Nak Karan? ini siapa,'' tanya kak Citra menunjuk ke arah Sania. Mereka bertiga mencium punggung tangan kak Citra secara bergantian.
__ADS_1
''Oiya kenalin tante, ini Sania adik Karan, dan yang sebelah nya Pinky teman kelas Karan,'' jelas Karan mengenalkan 2 wanita yang selalu menempel pada dirii ketika pulang sekolah.
''Och githu ya, tante Mama nya Rian dan juga Riana,'' balas Kak Citra lembut.
''Ya sudah kalau githu Pinky pamit dulu ya tante? soalnya supir Pinky sudah nungguin,'' pamit Pinky seraya menciun tangan kak Citra.
''Iya, hati hati di jalan,'' sahut kak Citra yang di angguki Pinky. Pinky segera melangkah menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari mobil kak Citra.
''Karan dan Sania pulangnya pakek apa sayang?'' tanya kak Citra yang melihat mereka tak membawa sepeda ataupun di jemput oleh seseorang.
''Kami berdua jalan kaki tante?'' jawab Sania pelan.
''Rumah kalian jauh nggak dari sekolah ini,'' tanya kak Citra lagi, yang di angguki Karan dan juga Sania.
''Setiap hari kalian jalan kaki ke sini nya,'' tanya kak Citra memastikan. Lagi lagi di angguki oleh mereka berdua.
''Maaf tante? di rumah hanya ada kita dan Ibu saja, beliau kalau pagi bekerja di sebuah pabrik garment, jadi hanya tinggal kami berdua di rumah, itupun kalau kak Karan nggak bekerja, kalau kak Karan pergi kerja jadi hanya aku sendiri di rumah tante?'' Ucap Sania lirih.
Kak Citra memeluk Sania yang sudah sedih menceritakan kehidupan nya, kak Citra juga merasa sedih mendengar cerita Sania barusan.
Tiba-tiba Pak Dadi datang menghampiri nya dengan membawa minuman dingin, ''Maaf nyonya, ini minuman nya?'' Ucap Pak dadi memberikan sebotol minuman dingin yang di minta kak Citra tadi.
''Terima kasih pak,'' jawab nya.
''Ya sudah, ayo masuk tante antar kalian ke rumah nya,'' ajak kak Citra.
__ADS_1
''Maaf tante merepotkan,'' Ujar Karan tak enak hati pada kak Citra, tanpa sepengetahuan mereka kak Citra adalah tante dari Karan dan juga Sania.
''Ya Allah, Karan begitu mirip dengan kak Candra, dan sekarang Sania juga mirip dengan dengan kak Candra namun dalam versi wanita, aku yakin mereka adalah anak anak dari kak Candra, orang yang selama ini aku cari? semoga aku dapat bertemu dengan kakak ku yang selama ini ninggalin aku sendiri, tanpa kabar,'' Gumam kak Citra pelan.
Karan duduk di samping sang sopir, sedangkan Sania, Andrian dan Andriana duduk di belakang bersama kak Citra.
''Di depan belik kiri Pak,'' Ucap Karan pada Pak dadi memberitahu arah rumah nya, Pak dadi mengangguk mengikuti arahan dari Karan, di perjalanan kak Citra nampak bertanya-tanya pada Sania yang berada di samping nya.
''Tante boleh tanya nggak Sania, selain Ibu kalian sama siapa lagi di rumah,'' kak Citra memulai pembicaraan nya.
''Nggak ada lagi tante, ayah Sania meninggal waktu Sania berumur 3 tahun, jadi selama ini hanya Ibu yang kami punya,'' jawab Sania memaksakan senyuman nya.
''Meninggal, emangnya Ayah Sania sakit?'' sambung Riana yang mulai penasaran dengan kehidupan Sania dan juga Karan.
''Kata kak Karan, Ayah meninggal akibat kecelakaan lalu lintas, dan Ayah tak terselamatkan. Beliau meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit,'' lanjut nya dengan suara parau nya Sania menjawab pertanyaan dari Riana.
''Waktu itu Ayah mau mengirim sayur mayur ke kota tante, namun sebelum berangkat beliau sudah berpesan pada Ibu agar selalu menjaga kami berdua, mungkin itu pesan yang teraktir yang di ucapkan almarhum Ayah kami tante,'' sambung Karan. ''Kami bertiga tidak mempunyai firasat apapun pada saat itu, apalagi adek masih berumur 3 tahun, tapi Ayah tak pernah pulang selama itu, Ayah selalu pulang tepat waktu karena ingin segera menemani kita bermain di sela sela kesibukan nya sebagai supir, tapi Ayah tak ada kabar sama sekali, sekali ada kabar ternyata beliau sudah meninggal, kami bertiga hanya menangis pada saat itu karena tak ada uang untuk menyusul ke Jakarta menengok Ayah yang sedang kecelakaan, bersyukur bos Ayah orang baik yang meminta almarhum Ayah di antar ke rumah, jadi sejak saat itu kami hidup bertiga setelah sepeninggal Ayah kami tante,'' Karan menceritakan kejadian yang membuat Sania menangis mengingat dia masih terlay kecil dan masih sangat butuh kasih sayang Ayah nya. Kak Citra juga ikut meneteskan air mata nya mendengar kisah sedih dari Karan.
''Kalian sudah lama tinggal di sini,'' tanya kak Citra mengalihkan pembicaraan agar tak terlalu melow.
''Ach, maaf tante Karan bikin tante menangis dengan cerita Karan?'' Ujar nya meminta maaf tanpa menjawab pertanyaan dari kak Citra.
''Kalian sudah lama tinggal di sini,'' tanya kak Citra lagi seraya menunjuk rumah sederhana.
''Kami baru 3 bulan berada di kota ini tante,'' jawab Karan membuka pintu mobil dan melangkah menuju ke rumah nya.
__ADS_1
BERSAMBUNG