Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 54


__ADS_3

Tepat pukul 3 sore keluarga besar Sanjaya tiba di rumah besar kakek Sanjaya, aku menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan dengan perlahan.


Sebenarnya tante Cinta meminta kami untuk menginap kembali di rumah besar Papa nya, tapi aku tolak? karena besok aku harus sekolah dan aku juga harus belajar lebih giat lagi malam ini. Karena besok aku harus mengikuti ujian tulis di sekolah. Aku sengaja tak memberitahu yang lain, kalau aku bakalan ujian besok di sekolah, kalau sampai aku mengatakan nya? yang ada acara jalan jalan dan ziarah ke makam Ayah kan di tunda.


Selesai belajar aku berpamitan pergi ke restoran untuk bekerja di sana, ''Bu Karan berangkat kerja dulu ya?'' pamit ku dan mencium punggung tangan Ibu.


''Emang nya kamu nggak capek nak? kan baru sampai rumah masaknsudah mau berangkat kerja githu,'' Ucap Bu Wati mengelus puncak kepala Karan.


''Kalau Karan capek? Karan nggak mungkin kerja lah Bu, iya kan?'' jawab Karan meraih ponsel baru nya yang di belikan tadi siang oleh sang tante. Pertama aku nolak pemberian tante dan Om, tapi mereka bilang itu semua memang tak aku, karena perusahaan ayah selama ini Om Arzan dan Om Fabian yang menjalankan nya.


Sudah banyak pemberian Om dan tante untuk ku sekeluarga, ''Assalamu'alaikum,'' ucap ku menutup pintu rumah.


''Waalaikum salam?'' jawab sang Ibu.


''Ya Allah, sehatkan lah putera ku? kabulkan lah semua apa yang di inginkan dan di cita cita kan ya Allah?'' batin Bu Wati menghela nafas panjang melihat putera nya yang sudah pergi.


Di sisi lain tepatnya di kediaman Citra dan Arzan sedang memikirkan siapa orang yang berani menghina anak dari kakak nya, ''Siapa ya mas, yang menghina ponakan ku dulu, Citra pengen tau dia siapa,'' Ucap Citra memulai obrolan nya.


Citra dan suami nya kini sedang duduk santai di balkon rumah nya, dengan di temani secangkir kopi pahit dan teh manis, tak lupa juga beberapa cemilan yang di letakkan di piring.


''Mas juga belom tau sayang? mungkin setelah ini mas akan mencari tau siapa itu, mas janji dia akan merasakan apa yang dulu di rasakan Sania dan juga Karan.


''Iya mas! harus, orang itu harus merasakan betapa sakit nya di hina dan di caci, Sania sampai nggak mau ke tempat itu karena ulah orang itu. Mungkin Sania teramat sakit mas?'' Citra menyandarkan bahu nya ke sandaran kursi yang ia duduki. Namun sang suami meraih kepala Citra dan di taruh nya di bahu Arzan.


''Mas janji sayang?'' Ucap Arzan mengecup puncak kepala Citra sangat istri tercinta.


Malam kian terlihat dengan sinar Rembulan dan gemerlap bintang bintang di langit yang biru nanti luas.

__ADS_1


Dengan mobil mewah nya Kirana turun dari mobil nya, dengan memakai barang barang branded dia memasuki restoran di mana Karan bekerja saat ini.


''Kita duduk di sana saja yuk!'' ajak Kirana pada sepupu cewek nya yang emang ikut ke Jakarta.


''Terserah kamu sajalah, lagian aku juga sudah sangat lapar nich, buruan pesan!'' jawab sangat sepupu ketus dan mendaratkan bokong nya di kursi dekat jendela.


Kirana menjentikkan tangan nya, dan tak butuh waktu lama Karan menghampiri 3 gadis yang sedang duduk di meja 16 tersebut.


''Maaf permisi nona? ini buku menu nya?'' kata Karan sopan dan memberikan buku menu ke pengunjung restoran.


Kirana mengambil buku menu seraya mendongak, menatap siapa orang yang berada di depan nya saat ini. Kirana mengerutkan keningnya, karena yang ada di hadapan nya sekarang adalah Karan? teman kecil nya, anak laki-laki yang dekil, miskin dan yang sok ramah, pikir Kirana. Padahal Karan emang begitu baik dan tulus ingin berteman dengan Kirana kecil.


''Kirana?'' ucap Karan tersenyum.


''Karan, lho!''


''Lho kerja di sini ternyata!'' ucap nya sinis.


''Aku memang cantik Karan, akun juga banyak berubah, tapi lho! lho masih seperti yang dulu, miskin dan kayaknya masih jadi sampah!'' Ujar Kirana sinis.


''Sampah ya bakalan tetap sampah Kirana?'' sambung teman nya seraya terkekeh.


''Ya sudah aku pesan makanan terenak yang ada di restoran ini, nggak pakek lama, inget nggak pakek lama,'' tukas Kirana ketus dan melemparkan buku menu ke hadapan Karan.


''Baik lah, tunggu sebentar,'' jawab Karan mengambil buku menu yang di lempar oleh Kirana barusan.


Karan melangkah pergi dari hadapan Kirana dan 2 teman nya. ''Benar yang di katakan Sania kemarin? dia sudah berubah dan tak pernah menghargai ketulusan ku dulu, untuk berteman dengan dia, mungkin inilah takdirku yang di hina tiada habis nya, namun aku sudah tau siapa dia sebenarnya, mulai saat ini aku harus mulai melupakan dia untuk selama nya, tiada guna menaruh hati pada gadis seperti itu,'' gumam Karan pelan.

__ADS_1


''Siapa Karan?'' tanya salah satu teman kerja nya.


''Och itu kak pengunjung, Karan kira salah satu dari mereka teman Karan kak, ternyata bukan? hehehe,'' ucap nya terkekeh dan menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.


''Ech beneran dia itu Karan teman kamu waktu kecil itu?'' tanya teman nya mengerutkan kening nya.


''Iya dia Karan yang itu, dia tetap miskin saja sampai sekarang, hem... bilang nya mau ngalahin Papa, tapi ternyata dia masih begitu begitu saja!'' jawab nya tersenyum kecut.


''Dia ganteng sich Kirana? tapi ya itu dia miskin buat apa coba!'' sahut yang lain.


''Ya itu dia, emang kita bisa hidup enak dengan cinta doang! enggak kan!''


''Benar kamu Kirana, kita tidak bisa hidup tanpa uang!'' mereka bertiga tertawa sehingga menjadi pusat perhatian.


''Ech dia selebgram itu kan?'' bisik beberapa pengunjung.


''Iya benar, dia selebgram yang terkenal itu.''


''Cantik ya dia,'' puji salah satu pengunjung.


Di saat yang lain sedang memuji Kirana yang cantik, Karan datang dengan teman nya yang membawa pesanan Kirana dan kedua teman nya di meja tersebut.


''Permisi,'' ucap Karan lalu meletakkan semua pesanan yang di pesan Kirana barusan.


''Silahkan nona?'' lanjut Karan setelah selesai menaruh semua makanan di atas meja, namun di saat Karan mau melangkah kan kakinya dia menyenggol gelas yang berisi jus orange, jus tersebut tumpah di baju mahal Kirana.


''Lho buta ya! lho sengaja kan menumpahkan jus ini ke bajuku. Lho dendam kan sama saya karena tadi aku mengatakan sampah!''

__ADS_1


''Bahkan gaji lho selama setahun nggak bakalan cukup untuk mengganti baju mahal ku ini!!'' sarkas Kirana, Karan hanya menundukkan kepalanya dan berkata maaf, maaf dan maaf. Karan mengepalkan tangan nya dengan erat menghadapi hinaan yang Kirana lontarkan sekarang ini.


'Orang memang bisa kapan saja berubah, namun aku akan mengingat semua ini Kirana? dulu ayah mu yang menghina aku dan juga Sania adikku, tapi sekarang kamulah yang menghina aku, akan aku buktikan kalau aku akan menjadi orang yang lebih sukses dari mu dan juga ayah mu, itu janjiku?!' batin Karan. Nafasnya naik turun mendengar kan setiap kalimat yang di lontarkan Kirana padanya.


__ADS_2