Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 190 Rendang


__ADS_3

Sania dan Arlan berjalan perlahan menuruni anak tangga, di mana mereka baru saja keluar dari kamar nya, setelah membantu Arlan membersihkan tubuh nya yang berkeringat, Arlan terlihat menyunggingkan senyuman nya kepada Sania yang selalu membantu nya walau tidak di minta oleh nya.


Istri kecil Arlan memang sangat perhatian dan juga peduli dengan semua keluarga nya, bahkan bukan hanya keluarga nya sendiri yang mendapatkan perhatian dari Sania. Tapi keluarga Arlan juga mendapatkan kasih sayang dan juga perhatian yang lebih dari Sania.


''Apa sich Mas? kok liatin Sania seperti itu sich,'' tanya Sania yang menangkap wajah suami nya yang sedang memperhatikan nya sedari tadi.


''Mas hanya kangen saja sama kamu sayang? tak ku sangka kamu semakin hari semakin cantik saja,'' balas Arlan dengan senyum jail nya.


''Mas Arlan bisa saja dech, sudah tau masih sakit tapi masih saja ngegombal nggak jelas seperti itu,'' sela Sania mencubit perut suami nya. ''Sudah nggak usah kebanyakan gaya seperti itu lagi, sekarang lebih baik lihat jalan agar tidak kembali terluka karena jatuh dari tangga,'' tambah nya lagi dengan nada ketus nya.


''Aaaww,'' dingin nya saat jari kecil sangat istri beradab di perut nya, padahal Sania tidak menggunakan tenaga nya untuk mencubit sang suami, tapi Arlan saja yang lebay membuat beberapa pasang mata menoleh ke arah nya.


''Istri kecil ku sudah mulai berani sama Mas rupanya,'' gumam Arlan menghentikan langkah nya, yang otomatis langkah Sania juga ikutan berhenti karena suaminya yang tiba-tiba berhenti sebelum sampai di lantai dasar.


''Ada apa Arlan?'' tanya sang Bunda yang mendengar pekikan dari menantu nya.


''Nggak apa apa kok Bunda, mas Arlan saja yang memang mau berteriak seperti tadi,'' jawab Sania dengan senyuman canggung nya, karena dia tidak melihat beberapa orang yang sudah berkumpul di ruang makan.


''Ayo kita sarapan dulu, setelah itu ada yang Bunda ingin sampai kan pada kalian berdua,'' kata Bu Wati melambaikan tangan nya agar puteri dan menantu nya cepat bergabung di meja makan yang sudah terhidang beberapa makanan di atas nya.


Sania tetap memapah tubuh Arlan yang masih pincang saat berjalan. Karan yang melihat kebahagia'an sang adik hanya ikut tersenyum, di saat sang adik sedang mengembangkan swnyuman nya kepada suami nya.


'Mereka nampak bahagia sekali saat ini ya Allah, aku sudah berpikiran jelek dengan Arlan, yang nyatanya adalah sumber kebahagia'an adikku,' gumam Karan dalam hati.

__ADS_1


Sedangkan Pinky tengah menggendong baby Mikhael yang tengah ia suapin dengan bubur yang sudah di haluskan tadi oleh Pinky sendiri, Pinky adalah tipe orang tua yang tak ingin melibatkan orang lain dalam mengasuh putera nya, karena dia ingin melihat sendiri tumbuh kembang sang putra.


''Oagi baby Mikhael?'' sapa Sania mencium pipi tembem sang ponakan, yang tengah duduk dengan anteng di kursi yang emang khusus untuk dia, agar bisa lebih cepat bisa duduk nya.


''Pagi aunty?'' jawab Pinky menirukan suara anak kecil.


''Kak Pinky sudah sarapan?'' tanya Sania yang menghampiri kakak ipar beserta ponakan nya. Sania memang sengaja meninggalkan suami dan yang lain nya setelah mengamnilkan makanan untuk suami nya, kemudian dia menghampiri ponakan nya.


''Kakak belum sarapan, setelah ini akan sarapan kok? kamu sarapan dulu gih, kasihan dia kelaparan,'' ujar Pinky mengelus perut rata Sania adik ipar nya.


''Sania nggak nafsu makan kak, Sania ingin makan di luar? tapi--?'' Sania tidak melanjutkan ucapan nya karena dia takut membuat suami nya kecewa.


''Mau makan di mana? biar aku antar,'' sahut Arlan tiba-tiba membuat Sania menolehkan wajah nya ke belakang dan menatap wajah suami nya.


Arlan mendengus kesal ketika istri kecil nya menolak nya, walaupun Sania menolak tawaran dia secara tidak sengaja.


Pinky mengedipkan mata nya agar Sania menghampiri Arlan suami nya yang tengah bersedih.


Sania yang mengerti kedipan mata dari kakak ipar nya segera beranjak dari tempat duduk nya dan menghampiri Arlan yang tengah menyuapkan makanan nya dengan tidak berselera.


Sania mengambil sendok dan langsung menyuapi suami nya sarapan, Arlan tak menolak dia hanya menatap wajah cantik istri kecil nya yang mengenakan hijab berwarna merah maron.


''Mas Arlan nggak usah berpikiran yang macam macam oke, Sania nggak apa apa kok? nanti Sania makan kalau sudah lapar,'' gumam Sania pelan, dia melirik ke arah depan nya yang ada Bunda nya dan juga Karan yang sedang menatap nya dengan penuh tanda tanya.

__ADS_1


''Sebenarnya kamu mau makan apa nak?'' tanya sang Bunda yang menatap ke wajah cantik puteri nya.


''Sebenarnya--?'' ucapan Sania terhenti.


''Mau makan apa, biar mas antar ke tempat yang kamu ingin kan, Mas sudah tidak apa apa kok sayang? hanya saja jalan Mas saja yang belum benar,'' potong nya. Sania menatap suami nya yang benar-benar ingin mengantarkan dia pergi ke warung tersebut, tapi Sania tidak tega melihat keada'an suami nya yang belum pulih benar.


''Sania hanya ingin makan rendang saja kok Mas, Bunda bisa masakin itu buat Sania nanti? jadi Sania masih nunggu Bunda selesai makan dulu,'' jawab nya sedikit berbohong.


''Kenapa kamu nggak bilang dari tadi sayang? Bunda bisa bikinin untuk kamu kok,'' sambung Bu Wati yang sudah menggeser kursi nya ke belakang.


''Bunda, tidak usah terburu-buru? Sania belum terlalu lapar kok, lebih baik Bunda melanjutkan sarapan nya dulu,'' tukas nya dengan mengulas senyum di kedua bibir nya, dia merasa tidak enak hati dengan Bunda nya karena sudah membuat sang Bunda menghentikan menyuapkan makanan nya.


'''Tuh kan? makanya Sania tidak mau bilang dulu sama Bunda aku mau makan apa, takut nya seperti ini dech?'' tambah nya lagi.


Aelan memegang tangan Sania dan menatap nya lekat lekat, seraya berkata, ''Kamu nggak bohong kan, kalau kamu ingin makan rendang bukan yang lain,'' tanya Aelan memastikan kemauan sang istri.


''Sania beneran pengen rendang Mas? emang nya Sania terlihat berbohong gitu,'' sanggah Sania tak mau memperpanjang obrolan nya, ''Lebih baik Mas Arlan habiskan makanan nya dan minum obat juga, aku sudah membawa obat nya ke sini,'' gumam nya dan beranjak dari duduk nya, meraih obat yang ia taruh di atas meja, dan tak lupa juga ia mengambilkan segelas air putih untuk minum suami nya.


Sania memberikan obat dan segelas air putih kepada suaminya, Arlan menatap wajah Sania. ''Minumlah Mas, dan jangan banyak pikiran? setelah ini lebih baik Mas Arlan istirahat di kamar yang adandi lantai bawah saja ya, agar Mas bisa leluasa kalau mau bergabung dengan yang lain nya nanti,'' gumam Sania dan segera membantu nya masuk ke dalam kamar yang sudah di bereskan oleh Bibi pekerjaan di rumah nya itu.


Arlan hanya mengangguk dan mengikuti kemauan istri nya tanpa banyak bicara.


''Mas, Sania bantuin Bunda dulu di dapur? karena Sania Bunda jadi repot seperti ini sekarang,'' ucap nya dengan lembut, dan mengambil kan selimut untuk suami nya, Sania melangkah pergi dari kamar yang mulai sekarang akan menjadi kamar nya. Sania sebenarnya ingin pergi keluar sebentar untuk membeli susu hamil dan juga beberapa vamilan yang ia inginkan? tapi Sania merasa tidak enak hati harus meninggalkan suami nya di rumah sendirian.

__ADS_1


__ADS_2