
Tuan Bagas dan Nyonya Helena mendatangi rumah Karan. Setelah Karan sendiri yang mengundang kedua nya untuk datang ke rumah nya, sedangkan di sisi lain Andriana dan dokter Michael sudah ada di rumah Karan sejak tadi sore, mereka semua sudah sangat mengenal dokter Michael yang lain adalah dokter yang menangani penyakit Sania sebelum nya, keluarga Karan menerima dengan tangan terbuka kedatangan sangat dokter seraya tak henti henti nya meledek adik sepupu nya Andriana.
''Sore kak?'' sapa dokter Michael kepada Karan yang tengah menemani Mikhael di halaman rumah nya.
''Sore juga dokter?'' jawab nya seraya menerima uluran tangan dari dokter Michael. ''Sama pacar nya ya,'' pedek nya dengan kekehan kecil nya.
''Apa'an sich kak, dokter Michael hanya teman kok,'' sahut Andriana yang tak terima dengan ledekan Karan kakak sepupu nya.
''Teman tapi mesra Mas,'' sambung Pinky dari ambang pintu yang sudah melihat kejailan suami nya.
''Ach, sudahlah suami sama istri sama saja!'' dengan nya dan melangkah pergi meninggalkan ketiga nya di teras rumah besar Bunda nya.
''Bunda!!'' seru Andriana ketika sudah ada di dalam rumah, Bunda Wati yang mendengar segera keluar dari kamar Sania yang sedang menggendong cucu kembar nya.
''Apa sich sayang? jangan teriak teriak kayak gitu dong, entar ponakan ponakan kamu pada bangun lagi,'' gumam nya pelan, sembari menghampiri Andriana yang berdiri tak jauh dari kamar Sania, bibir nya sedikit di manyun kan karena kesal dengan sikap Karan kakak sepupu nya.
''Kalau seperti ini kamu sangat jelek tau nggak?'' sela Bunda Wati kepada ponakan nya.
''Itu Bunda? kak Karan dan kak Pinky meledek Andriana?'' rengek nya dan memeluk tubuh sang Bunda.
''Ngadu terus kerja'an nya?'' Ujar Pinky yang sudah memegang bingkisan dari dokter Michael dan juga bingkisan dari Andriana.
''Ech kak Pinky, itu punya Andriana? kenapa di ambil sich!'' jawab nya dan menghampiri Pinky yang sedang berjalan ke arah nya.
''Enak saja, kamu tu ya kerja'an nya hanya ngaku ngaku saja dech, mana ada nama Andriana di bingkisan ini?'' sela Pinky melanjutkan kan kejailan nya kepada Andriana.
''Emang tidak aku kasih nama sich, cuma bingkisan itu Riana yang beli?'' rengek nya dan ingin mengambil bingkisan yang di pegang istri dari kakak sepupu nya.
''Kak Pinky sekarang sudah mulai jahat dengan Riana Bunda? itu beneran Riana yang beli,'' lagi lagi Riana hanya bisa mengadu kepada sang Bunda yang menit dia akan membela nya.
''Sudah sudah, kalian selalu saja bertengkar kalau sedang berkumpul seperti ini, jauh saja kalian pada bilang kangen?'' celetuk Bunda Wati dengan mengambil kedua bingkisan dan membawa ke dalam kamar Sania dan juga baby triple.
Riana menjulurkan lidah nya kepada sang kakak, Riana juga mengikuti langkah sang Bunda ke dalam kamar adik sepupu nya, dia juga ingin menemui ketiga ponakan nya yang sudah beberapa hari tidak ia temui.
''Kakak ke sini?'' seru Sania yang duduk di sofa seraya memainkan ponsel nya.
__ADS_1
''Iya dek, kamu apa kabar?'' tanya Riana dan melangkah kepada adik sepupu nya , Riana mengecup pipi Sania kanan dan juga pipi kiri nya.
''Alhamdulillah baik, kakak sendiri apa kabar, dan kak Rian kemana? kok nggak ikut sich?'' gumam nya pelan dengan melepaskan pelukan nya.
''Kak Rian bantuin Papa untuk meng-handle pekerja'an nya di kantor, mungkin sepulang dari kantor dia akan mampir ke sini,'' jawab Riana dengan memgulas senyum dan kembali memeluk adik sepupu nya.
''Dek, kakak bisa gendong si kecil nggak?'' tanya nya dengan hati hati, takut nya mereka masih belum bisa di gendong lain nya kecuali sang suster.
''Bisa kok kak? tapi nggak boleh si dedek ya,'' gumam nya merubah posisi nya dengan bersandar di sandaran sofa.
Riana yang mendengar segera beranjak dari duduk nya dan melangkaj ke dekat box di mana di sana sudah ada sang Bunda yang sedang mengambil si boy untuk di kasihkan ke Sania, karena harus meminum Asi nya.
''Bunda, biar Riana saja yang gendong? tapi ngomong ngomong bisa di bawa keluar nggak?'' tanya nya setelah mengambil si girls ke gendongan nya.
''Boleh kok kak, dia juga mulai berjemur di halaman mulai tadi pagi sich,'' sahut Sania dengan cepat.
Riana sangat senang ketika mendengar boleh di bawa keluar, karena dokter Michael juga ingin melihat nya juga.
''Bunda, nanti kalau si boy sudah minum Asi, bawa keluar juga ya Bunda?'' Ucap nya yang menghentikan langkah nya yang sudah sampai di dekat pintu.
''Lebih baik Bunda juga ikut keluar saja, biar aku yang bawa si boy keluar nanti, karena Sania juga ingin ketemu dengan dokter Michael, so kangen banget karena sudah lama tidak bertemu dengan dokter tampan yang selalu bisa menghibur dia di saat penyakit nya sedang kambuh, apalagi dia juga tau kalau dokter Michael suka dengan kakak sepupu nya.
''Baiklah Bunda akan keluar, lagi pula Bunda juga harus memasak untuk makan kita di sini,'' sahut sang Bunda memberikan bayi perempuan untuk menyusu.
Bunda Wati berjalan menuju ruang tamu di mana di sana sudah ada Riana dan juga dokter Michael yang sedang menatap wajah tampan bayi laki-laki Sania dan Arlan.
''Lebih kalian segera resmikan hubungan kalian, sebelum Riana adik sepupu ku ini berpindsh kelain hati, yang ada kamu bakalan menyesal tau nggak dokter?'' Ujar Karan bkepadansang dokter, Karan lebih suka dengan dokter Michael, di bandingkan pacar Riana yang dulu hanya cinta dengan uang nya saja, entah kenapa Karan sangat mendukung dengan kedekatan yang di lakukan dokter yang pernah menangani adik nya dan juga dokter Michael sendiri adalah kakak tingkat Riana di kampus nya dulu.
''Apa'an sich kak Karan ini, lawong orang nya hanya menganggap aku teman nya kok,'' sahut Riana yang masih belum percaya sepenuhnya dengan ucapan dokter Michael beberapa hari yang lalu.
''Ya di tunggu saja tian Karan, Riana sendiri masih belum mau dengan ku, masak iya aku harus memaksanya sich,'' jawab dokter Michael dengan menatap wajah Riana yang masih terlihat biasa biasa saja.
''Sudah nggak usah ngomong itu lagi dech, Riana masih ingin berkarir dulu kak? proyek yang di sana belum juga kelar tapi aku dan kak Rian bela belain pulang karena mendengar adik berada di rumah sakit, aku harus menyelesaikan proyek itu dulu baru memikirkan masalah percinta'an.'' jawab Riana yang tak mau terpojok dengan kata kata dari kakak sepupu nya itu.
''Masalah proyek bisa Rian saja yang meng-handle semua nya, dia bisa meski itu semua tanpa campur tangan dari kamu?'' balas Karan sang kakak yang tak mau kalah dengan adik sepupu nya.
__ADS_1
''Sudah sudah, kalian ini kalau sedang berkumpul selalu begitu, kayak kucing dan tikus saja,'' veletuk Bunda Wati yang datang menghampiri nya dengan memakai celemek yang sudah menempel di tubuh nya.
''Bunda nanti malam bakalan ada takut kolega Karan yang akan datang ke rumah ini untuk menjenguk Sania dan juga ponakan ponakan Karan juga, Bunda masak yang lebih banyak ya, biar dokter Michael dan juga adik bawel Karan ini juga makan malam di sini,'' kata Karan dengan menekankan kata adik bawel nya, seraya menatap ke arah Bunda nya yang sedang menatap nya juga.
''Kak Karan suka gitu kalau ngeledek Riana, jadi malas aku datang ke sini sekarang,'' balas nya dengan cemberut.
''Kalau malas ke sini ya jangan datang dong?'' sela Karan lagi tak mau kalah dari adik sepupu nya.
''Sudah bertengkar nya!'' tanya Bunda Wati menatap Karan dan juga Riana, ''Kalau kalian berdua masih mau berdebat keluar saja, di halaman depan masih luas kok dan tunggu sebentar, Bunda akan ambilkan pisau untuk kalian berdua,'' lanjut sang Bunda.
''Pisau buat apa Bunda?'' seru Karan ketika Bunda nya sudah menuju ke dapur.
''Buat kalian saling bacok kalau mau,'' jawab nya ngasal sambil terus melangkah pergi.
''Tuh kan, Bunda jadi marah gitu kan?'' sela Riana menatap horor ke arah kakak sepupu nya.
''Sudahlah Mas, aku titip Mikhael dulu,'' kata Pinky menaruh Mikhael di pangkuan Karan suami nya.
''Kamu mau kemana?'' tanya Karan mendongakkan kepalanya menatap wajah istri nya yang masih sedikit menunduk karena masih benerin duduk ny Mikhael putera kecil nya.
''Pinky mau bantuin Bunda dulu Mas, tuh kembaran yang bikin kamu semakin ribet sudah datang?'' ucap nya dengan terkekeh sembari menunjuk ke arah Rian yang baru sampai di ambang pintu.
''Tambah lagi satu orang yang bikin aku sebel,'' gumam Karan dengan tersenyum smirk.
''Sedang ngomongin aku ya,'' tanya Rian tiba tiba sambil melangkah menghampiri Riana sang adik yang sedang memangku bayi perempuan Sania.
''iya tuh kak, mereka semua mulai dari tadi nyebelin banget karena sudah bikin aku kesal?'' sambung Riana merajuk kepada sang kakak yang baru datang.
''Sudah, jangan ndengerin kak Karan, memang nya kamunbatunyau kalau dia sangat jail, kan? sikap jail nya sudah semenjak kita sekolah dek, jadi kamu jangan terkejut lagi dengan sikap kak Karan dengan kamu, itu sudah biasa? benar kan dokter Michael,'' jawab nya dan meminta persetujuan dari dokter Michael yang ada di samping adik nya.
Dokter Michael yang di mintai persetujuan, hanya mengangguk kan kepala nya pelan sebagai jawaban.
''Kak Rian dari rumah?'' tanya Riana yang tak mau memperpanjang perdebatan nya karena si kembar yang ia pangku sedang tidur di dalam gendongan nya.
''Iya, tadi kakak sengaja pulang dulu ke rumah untuk bersih bersih dulu, masak iya kakak mau bertemu dengan cewek cantik imut ini belum mandi sich, kan acem?'' jawab nya dengan gemas di akhir kalimat nya .
__ADS_1
Andriana tersenyum melihat kakak kembar nya begitu gemas melihat ponakan nya yang baru beberapa hari lahir itu.