Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 195 Masalah yang tiada habis nya


__ADS_3

Berita Sania yang tengah mengandung bayi kembar tiga sudah terdengar ke telinga keluarga besar Sanjaya, mereka semua nampak bahagia mendengar nya, karena akan mendapatkan keturunan kembar tiga, terutama kakek Sanjaya yang teramat bahagia mendengar nya.


''Apakah cucu ku sudah oulang ke rumah,'' tanya kakek Sanjaya kepada Cinta puteri nya.


''Sania masih di rawat di rumah sakit Pa? mungkin lusa dia akan pulang ke rumah Mbak Wati,'' jawab tante Cinta yang baru saja pulang dari rumah sakit menjenguk ku.


''Papa boleh lihat ke rumah sakit?'' tanya kakek Sanjaya kepada tante Cinta.


''Sudah lah Pah, do'akan saja Sania dan juga bayi nya sehat sampai lahiran nanti. Kondisi Papa juga tidak memungkinkan untuk datang ke rumah sakit, mungkin lusa kita datang ke rumha Mbak Wati saja bagaimana?'' jawab nya dengan memberikan pengertian kepada Papa nya, agar tidak terlalu kecape'an. Mengingat kondisi kakek Sanjaya yang belum terlalu pulih dari sakit nya.


Minggu kemarin kondisi kesehatan nya menurun, sedangkan tante Cinta tengah sendirian di rumah, kedua puteri nya kini sudah berada di luar negeri untuk menempuh pendidikan nya di sana, sedangkan Om Fabian sangat sibuk dengan perusaha'an yang harus ia kelola dengan sendirinya, tanpa bantuan dari siapapun, karena Om Arzan juga tengah di sibukkan dengan kantor cabang yang mengalami masalah, akibat salah satu orang kepercaya'an nya tengah menyeleweng kan sebagian dana perusaha'an nya.


Di kantor Om Fabian tengah mengobrol dengan tuan Arzan yang tak lain adalah saudara ipar dari tante Citra dan juga tante Cinta.


''Bagaimana ini Mas?'' tanya tuan Fabian kepada tuan Arzan di dalam ruangan nya.


''Kamu selidiki dulu dalang dari sumber masalah ini, baru kita bisa menyimpulkan semua nya kalau sudah ada bukti yang kuat juga, kita tinggal menyeret nya ke markas, karena aku juga sudah lama sekali tidak melakukan latihan dengan kedua tangan ku ini,'' Ucap tian Arzan kepada tian Fabian.


''Menurut aku ini sudah cukup kuat Mas, bagaimana kita bisa mengumpulkan bukti lagi kalau dalang nya yang sudah cukup bukti melakukan kesalahan di kantor kita di biarkan lari begitu saja,'' kata tuan Fabian yang belum mengerti dari ucapan tuan Arzan.


''Kita masih harus mengumpulkan sedikit bukti lagi Fabian. Ada dalang di balik ini semua jadi satu orang yang kita tangkap tidak akan bisa kita tidur enak sebelum kita menemukan dalang yang sesungguhnya, mungkin orang yang sudah ada di dalam sini tidak akan membuka mulut nya karena dalang yang sesungguh nya akan mengancam dia dengan keluarga nya,'' terang nya dengan cukup jelas.


''Kita harus menyelesaikan ini semua secepatnya Bian, sebelum semua nya bertambah menjadi jadi,'' tambah nya lagi, membuat tuan Fabian mengernyit dahinya, dia masih bingung dengan semua ucapan tuan Arzan tadi.


''Maksud nya bagaimana ya,'' tanya nya penasaran.


''Kantor yang ada di Australia juga mengalami masalah yang mengakibatkan kerugian yang cukup besar di sana, orang kepercaya'an kita sedang bermain main dengan kita Bian? kita harus menyelesaikan urusan di sini dan kita lanjut urusan yang di sana. Atau kita urus pekerja'an kita masing-masing biar cepat selesai,'' tawar tuan Arzan memandang tuan Fabian yang masih bingung di tempat nya.

__ADS_1


Tuan Fabian memang terbilang cukup lemot dalam menghadapi semua urusan seperti ini sendirian, makanya dia tidak akan gegabah dalam menjawab iya. ''Tapi aku takut salah ambil tindakan Mas,'' jawab nya membuat tuan Arzan mendengus kesal.


''Lebih baik kamu hubungi Arkan dan minta tolong sama dia, minta dia untuk menangani semua urusan di sini kepada Arkan saja,'' Ujar tuan Arzan menatap wajah adik ipar nya.


''Apa tidak apa apa, kalau aku menghubungi Arlan?'' tanya nya dengan ragu.


''Kenapa harus bertanya seperti itu sich, perusaha'an yang sedang dalam masalah ini bukan perusaha'an kita saja, perusaha'an ini masih ikut dalam perusaha'an Sanjaya, dan harus ada campur tangan juga dari Arlan? bagaimana pun juga Arlan adalah masih keluarga dari Sanjaya, karena sudah menikah dengan Sania cucu Papa,'' tuan Arzan menjelaskan semua nya kepada tuan Fabian, karena perusaha'an yang mengalami masalah masih tergolong perusaha'an Sanjaya, karena mereka beli itu semua menggunakan uang kantor juga kan.


''Baiklah kalau begitu, akan aku hubungi Arlan, semoga saja dia mau pergi ke sana?'' gumam nya tidak yakin kalau Arlan akan mau ikut pergi ke sana langsung, mengingat istri nya sedang hamil besar pasti Arlan sangat khawatir dan tidak akan tega untuk meninggalkan Sania untuk keluar kota.


Tiba-tiba ponsel tuang Arzan berdering. Ternyata yang menghubungi tuan Arzan adalah tante Citra.


-''Hallo sayang?'' Ucap tuan Arzan setelah menggeser layar ponsel nya ke warna hijau.


-''Sudah pulang belum Mas?'' tanya Citra tho the poin kepada suami nya.


-''Nanti jemput aku di rumah sakit ya, aku sekarang ada di rumah sakit salah satu milik Papa,'' jawab nya dengan santai.


Sedangkan tuan Arzan sudah sangat terkejut mendengar istri nya sedang ada di rumah sakit Papa mertuanya.


-''Kamu sakit!'' tanya nya yang kini suaranya sudah naik satu oktaf dari sebelum nya.


-''Bukan aku yang sakit kok Mas, Sania hati ini di rawat di rumah sakit akibat pendarahan tadi, tapi sudah baikan kok sekarang?'' jawab nya lagi, membuat tuan Arzan bernafas lega.


-''Bukannya kandungan Sania sudah sangat besar, kenapa masih mengalami pendarahan seperti itu sich?'' tanya tuan Arzan dengan penasaran.


-''Aku juga nggak tau kenapa? yang pasti kita akan segera punya cucu, dan cucu kita sekarang ada tiga Mas,'' Ucap nya dengan suara yang sangat bahagia, sesekali tuan Arzan mendengar tawaan dari istri nya yang menyebutkan kata cucu ada tiga.

__ADS_1


-''Sebentar, sebentar?'' potong nya membuat istri nya yang ada di seberang menghentikan celotehan nya. ''Kamu tadi bilang akan punya cucu tiga, siapa saja yang hamil sayang?'' tanya nya melanjutkan ucapan nya.


-''Ya Sania lah Mas, siapa lagi memang nya. Anak anak kita saja belum pada berkeluarga dan kini yang sedang hamil hanya Sania, anak Sania kembar tiga,'' terang nya membuat tuan Arzan percaya dan tidak kepada istri nya.


-''Ya sudah, kalau gitu Mas segera selesaikan pekerja'an Mas dulu di kantor sekarang, dan secepat nya ke rumah sakit, aku ingin melihat langsung Sania di sana sekarang,'' gumam nya dan langsung mematikan sambungan telfon nya dengan sang istri.


''Kenapa Mas, kayak nya nggak percaya gitu,'' tanya tuan Fabian yang masih setia duduk di ruangan Tuan Arzan.


''Mungkin saat ini Arlan tidak akan bisa pergi dengan kamu Bian, anak yang di kandung Sania kembar tiga dan tadi dia mengalami pendarahan? tapi kamu coba saja dulu, apa Arlan mau pergi dengan kamu atau kamu harus pergi dengan Alex ke sana nya,'' Ucap nya dengan nada lirih.


''Apa boleh membawa Alex, akun takut Karan tidak memperbolehkan dia untuk ikut dengan ku,'' sahut nya pelan, tuan Fabian pun menghembuskan nafas nya dengan kasar. 'Andai saja aku sepintar kamu Mas, akun tidak akan meminta bantuan kamu saat ini, tapi aku akan pergi sendiri dan menyelesaikan ini semua dengan sendiri juga,' batin tuan Fabian mengingat dirinya tidak sehebat kakak ipar nya dalam menghadapi semua masalh yang kini sedang menimpa salah satu perusaha'an Sanjaya.


''Kamu sabarlah dulu, nanti aku bicarakan dengan Karan, bagaimana enak nya? kita akan berjuang bersama sama membesarkan perusaha'an ini, karena bagaimana pun juga perusaha'an ini nantinya akan di kelola anak anak kita, jadi kita harus bahu membahu untuk membesarkan lagi perusaha'an yang sudah di tintis dari nol oleh Ayah Sanjaya, kita tidak bisa menganggap remeh masalah ini, terlalu banyak cabang yang harus kita pantau mulai dari sekarang, mengingat orang yang kita percayai selama bertahun-tahun sudah berbuat kecurangan, dan aku takut di kantor cabang yang lain nya juga ada orang yang berbuat nekat melakukan seperti itu juga?!'' jelas Tuan Arzan dengan menarik nafas panjang nya lalu kemudian menghembuskan dengan perlahan, tuan Arzan tidak bisa terlalu percaya terhadap orang lain mulai sekarang, dia harus lebih berhati-hati lagi dalam memilih orang orang yang akan memegang anak cabang nya.


Lantas tuan Arzan menghubungi putera nya yang tengah ada di luar negeri, Andrian dan juga Andriana sedang menangani proyek besar di sana, mungkin akan meminta bantuan untuk sementara waktu kepada anak anak nya.


Sedangkan putera yang kecil sedang mengenyam pendidikan S2 nya di negara Jerman, jadi tuan Arzan mau tak mau harus menghubungi Andrian saja untuk meminta dia pulang sebentar.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2