
Matahari sudah mulai lengser dan akan kembali ke peraduan nya, di mana Arlan tengah membawa mobilnya dengan kecepatan kencang? agar dia dengan cepat sampai di kantor cabang yang pernah tuan Arzan bilang sebelum nya.
Selepas adzan maghrib Arlan tiba di penginapan, lebih tepat nya di penginapan yang di huni Sania saat ini. Arlan mendapatkan kamar tak jauh dari kamar Sania, itu semua sudah di atur oleh tuan Arzan agar Arlan bisa menjaga Sania lebih dekat.
''Alhamdulillah sudah sampai, aku akan mandi dulu, habis itu aku akan mencari makanan untuk makan malam,'' gumam Arlan mengambil handuk di dalam tas nya.
Sedangkan di luar, Sania tengah mengantri minuman kesuka'an nya, di saat sedang mengantri Ibunda nya menelfon hanya sekedar menanyakan keada'an nya sekarang.
-''Assalamu'alaikum?'' sapa seorang wanita paruh baya si sebarang telfon.
-''Wa'alaikum salam Bunda,'' jawab Sania dengan sumringah. Bu Wati melihat wajah sang puteri yang tengah tersenyum pun sangat bahagia.
-''Bagaimana kabarnya sayang, kamu nggak lupa untuk selalu minum obat kamu kan, dan kamu harus ingat kalau kamu nggak boleh terlalu capek disana?'' serentetan pertanyaan keluar begitu saja dari lisan Bunda nya yang begitu ketara sekali kalau beliau sangat khawatir pada nya.
-''Bunda, satunsatu nanya nya? Sania kan nggak tau mau jawab yang mana dulu sekarang,'' tukas Sania menampakkan deretan gigi putih nya.
Bu Wati hanya tertawa mendengar jawaban dari puteri kecilnya.
-''Jangan ketawa gitu Bunda?'' rengek Sania karena Bunda nya kini tengah meledek dirinya.
-''Lebih baik kamu kembali ke kamar sekarang, di luar dingin?'' Bu Wati memberi perintah. Karena Bu Wati paham apa yang tengah Sania pegang saat ini.
-''Bunda kok tau kalau Sania sedang berada di luar?'' tanya nya kaget.
-''Kan kelihatan dari sini sayang?'' kata Bu Wati membuat Sania celingak celinguk memperhatikan kiri dan juga kanan, lalu tak lama kemudian Sania terkekeh karena kebodohan nya. Ya--- jelas lah Bunda nya tau, kan video call? jadi terlihat semua nya, pikir nya.
-''Ya sudah kalau gitu Bunda tutup dulu, kamu segera kembali ke kamar kamu karena Bunda tak mau terjadi sesuatu sama kamu?'' titah Bu Wati yang di angguki Sania.
__ADS_1
-''Terima kasih ya Bunda, assalamu'alaikum,'' Ucap Sania yang langsung mendapatkan jawaban. ''Waalaikum salam?'' jawab Bu Wati dan memutuskan panggilan nya.
Sania sendiri langsung beranjak dari tempat nya, dan melangkah masuk menuju ke kamar nya, namun ketika melewati lobby penginapan nya Sania melihat Arlan yang tengah duduk di sofa sembari menerima kotak makanan yang di kirim melalui ojol.
Sania berusaha melewati Arlan begitu saja ketika tengah melewati nya, tapi Arlan mengetahui kalau wanita yang menutupi wajah nya dengan hijab nya itu adalah Sania, gadis yang ia kejar sampai kota ini.
Arlan melangkah menghampiri Sania yang belum terlalu jauh dari nya, ''Sania tunggu,'' panggil Arlan ketika sudah ada di dekat nya.
Sania pun menghentikan langkah nya dan langsung menoleh ke belakang, melihat siapa yang berada di belakang nya, syukur syukur kalau dia bukan Arlan? laki-laki yang ingin Sania jauhi.
Sania terkejut karena yang memanggilnya adalah Arlan. ''Kak... kak Arlan, kak Arlan sedang apa di sini,'' tanyanya gugup.
Arlan tersenyum senang karena kinindia sudah bertemu dengan gadis yang sejak kemarin ia cari ke mana mana. ''Saya di tugaskan di kantor cabang ini oleh tuan Arzan,'' jawab Arlan tersenyum smirk.
''Och! selamat dech kalau kayak githu,'' kata Sania singkat, ''Ya sudah Sania ke kamar dulu, selamat malam?'' pamit Sania yang langsung di cegah oleh Arlan dengan mencekal lengan nya.
''A...aku sudah makan kok baru saja selesai?'' balas Sania bohong, diankeliar hanya untuk membeli minuman kesuka'an nya saja yang ada di depan penginapan nya.
''Jangan bohong padaku, kamu belum makan dan sekarang kamu harus temani aku makan?'' paksa Arlan, mau tak mau Sania mengikuti langkah Arlan dari belakang nya, karena Arlan sendiri memegang lengan tangan nya. Arlan mendudukkan Sania di sofa yang ada di lobby penginapan, Arlan membuka bungkusan yang di kirim ojol barusan, nampak sekali makanan itu masih ngebul karena Arlan meminta makanan yang panas tadi sebelum memesan nya.
Arlan memberi satu kotak untuk Sania makan? dan satu kotak lain nya untuk dirinya sendiri.
Sania menarik nafas panjang dan menghembuskan secara perlahan, Sania memulai menyiapkan makanan yang di sodorkan Arlan barusan. Seperti nya makanan tersebut sangat lah menggugah selera makan nya, karena makanan yang ndi pesan Arlan adalah makanan kesuka'an Sania, yakni masakan padang.
''Bagaimana rasa nya,'' tanya Arlan pelan.
''Lumayan?'' jawab nya singkat.
__ADS_1
''Lumayan kenapa,'' Arlan bertanya balik pada Sania.
''Lumayan enak lah? emang lumayan kenapa lagi gitu,'' kata Sania mencebikkan bibir tipis nya.
''Kirain lumayan banyak, soalnya aku lihat porsinya lebih banyak yang di sinindari pada di Kota.'' sela Arlan yang sukses membuat Sania tersedak.
''Huk huk huk,'' Sania terbatuk batuk mendengar ocehan Arlan barusan. ''Kenapa dia sekarang malah lebih banyak ngomong nya, dari pada dulu waktu masih bekerja di restoran,'' Gumam Sania dalam hati nya, sedang kan bibir hanya menampakkan senyum kecut nya.
''Jangan ngobrol terus, lebih baik kamu habiskan makanan mu sekarang juga, agar tidak mubazir,'' lanjut Arlan. Sania menatap makanan nya dan setelah itu dia menatap wajah Arlan yang tengah terkekeh.
''Mana muat perutku makanan sebanyak gini di suruh habiskan,'' sarkas nya dan membuang muka ke arah lain.
'Gila ya, aku di suruh habisin semuanya,' batin nya.
''Sudah jangan banyak berpikir lagi, setelah itu kamu harus minum obat, agar kamu kembali menjadi Sania yang dulu lagi,'' cetus Arlan, Sania kini sudah menghentikan suapan nya, karena perutnya sudah kenyang? dan nggak mungkin juga dia bisa menghabiskan satu kotak makanan yang lumayan banyak isinya.
''Lebih baik sisa nya aku bawa ke kamar saja, mungkin nanti bisa aku makan lagi,'' tawar Sania yang di angguki oleh Arlan.
''Kalau gitu Sania kembali ke kamar dulu, dan terima kasih makanan nya,'' Ucap Sania beranjak dari sofa, dan melangkah pergi menuju ke kamar nya, Sania langsung mengunci pintu kamar nya.Agar acara istirahat nya tidak ada yang mengganggu nya nanti. Sania duduk di tepi ranjang dengan menengadahkan kepalanya ke atas, Sania nampak menatap langit langit kamar nya seraya memutar otak nya agar dia terhindar dari Arlan.
''Aku harus bagaimana ya Allah? laki-laki yang ingin aku hindari, saat ini malah berada di tempat ini juga. Hamba tidak mau belas kasih dari laki-laki itu, hanya karena penyakit yang aku derita saat ini,'' pikir Sania dan menjatuhkan tubuh nya ke atas kasur dengan kaki masih bergelantungan di bawah.
.
.
.
__ADS_1