Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 108 Cerita Riana


__ADS_3

''Kamu kenapa mas?'' tanya ku pada mas Karan.


''Ach, aku nggak bisa terus terusan disini sayang? besar kemungkinan Sania sedang butuh kita di rumah?'' jawab nya mengacak-acak rambut nya.


''Kenapa gitu Mas, kita baru tiba tadi lho, masak iya kita mau pulang githu aja sich.'' aku merengek layaknya seperti anak kecil yang ingin meminta permen Loli, bagaimana tidak? hotel sudah di booking selama 5 ke depan, dan belum juga 1 hari sudah mau di tinggal githu saja sich.


''Lebih baik kamu video call saja dengan adik di rumah sekarang? untuk memastikan dia baik baik saja atau tengah sakit?'' lanjut ku memberi ide pada suamiku yang kini tengah di landa kegundahan.


Aku mengambil handuk di dalam tas selempang ku, dan aku pun mencari nomor ponsel Sania dan seketika itu juga aku mendial nomor tersebut.


Tut tut tut


Panggilan tersambung dan tanpa harus menunggu waktu lama Sania pun menjawab panggilan tersebut.


-''Assalamu'alaikum, ada apa kak?'' jawab Sania ketika sudah menggeser layar hijaunya.


-''Waalaikum salam, adek apa kabar di rumah?'' tanyaku tho the poin.


-''Sania sehat, emang nya kenapa kak? kan semalam kita baru ketemu masak sudah kangen sama Sania sich?''


-''Kakak kamu mengajak pulang besok, dia khawatir sama keadaan kamu sekarang?''


-''Emangnya Sania kenapa kak? Sania sehat kok,''


Aku memberikan handphone pada mas Karan yang tengah duduk di samping ku.


-''Adek kamu nggak apa apa kan?''


-''Aku sehat sehat saja kok, emangnya Sania kenapa kok kak Karan khawatir sama Sania,''

__ADS_1


-''Kata kakak ipar nya, kamu mimisan kamu baik baik saja kan? nggak seperti biasanya kamu mimisan seperti itu dek?'' Ujar kak Karan dengan nada khawatir.


-''Sudah? kak Karan dan kak Pinky senang senang di sana, jangan mikirin Sania, lawong Sania nggak apa apa juga, ya sudah Sania matiin ya? soalnya Sania ingin pergi kerumah tante,'' ucap Sania berbohong, dan memperlihatkan baju yang sudah ia kenakan.


Sania dengan segera mematikan panggilan nya, dan bergegas pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajah sembab nya.


''Kamu sudah percaya sekarang kan Mas, adik baik baik saja dirumah, dan di sana juga banyak orang yang akan menjaga adik,'' ucapku memasukkan handphone ku ke dalam tas selempang ku.


Mas Karan terlihat menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. ''Syukur lah dia baik baik saja, aku takut dia kenapa napa saja,'' sambung mas Karan merasa lega.


''Lagian Mas di bilangin nggak percaya sich,'' ucap ku beranjak pergi.


''Sayang, jangan ngambek dong? iya iya aku minta maaf,'' cegah nya memegang tangan ku erat.


''Sudahlah, aku tak benar-benar marah kok? hehehe,'' aku terkekeh karena melihat mimik wajah mas Karan yang sedang cemberut.


Akhirnya mereka berdua melakukan pergulatan yang entah ke berapa kalinya, mereka menyelesaikan pergulatan nya hingga dini hari.


''Astaghfirullah hal adzim, serasa remuk badan ku kalau terus terusan seperti ini,'' gumam Pinky disaat dia ingin turun dari ranjang tidur nya, Pinky segera masuk ke dalam kamar mandi untuk melepas rasa lelah nya karena pertempuran yang membuat dia menghabiskan seluruh tenaganua dibataa ran**jang tadi.


Pinky mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin yang membuat tubuh nya terasa segar kembali, sedangkan Karan sendiri sudah tepar? mungkin dia sudah mengelilingi alam nirwana nya yang sempat ia tunda akibat menginginkan hal yang sangat mustahil di dapat oleh orang orang lainnya.


Selesai dengan ritual mandinya Pinky menuju kamar mandinya dan ingin membangunkan sang suami dari tidur nya, namun ia tak lanjutkan karena dia merasa kasihan pada suaminya yang tengah tertidur pulas.


''Pasti kamu sangat lelah ya mas, kamu bahkan begitu kuat dan perka**sa di atas tempat tidur tadi,'' gumam Pinky mengelus puncak kepala Karan.


''Bahkan aku masih nggak percaya kalau kamu adalah suami ku mas?'' lanjutnya lagi bermonolog dalam kesendirian nya, dia lantas mencium kening Karan dan dia memilih membaringkan tubuhnya kembali di samping Karan suami nya itu.


Pinky memeluk kembali Karan yang masih tertutup dengan selimut tebal nya, dia merasa terganggu dalam tidur nya, akhirnya diapun memutuskan untuk mengeratkan pelukan nya pada istri tercinta nya.

__ADS_1


''Rupanya kamu sudah mandi sayang? bau badan kamu menjadi candu ku sekarang,'' bisiknya tepat di telinga kanan nya.


Karan mengendus-endus bau sabun yang menempel di tubuh istri nya, layak nya seekor kucing sedang mengendus bau ikan dan akan segera menerkam nya kembali.


''Mas...? Pinky capek mau istirahat dulu,'' lirih nya membalas pegangan suami nya yang sudah menjelajah kemana-mana.


Karan menghentikan sejenak, namun dia menelusup kan kembali tangan kanan nya ke dalam baju Pinky, meremas daging kenyalnya sehingga sang pemilik di buat menggelinjang karena permainan Karan yakni suaminya sendiri.


Pinky pura pura tak merespon dia terus terdiam dan menutup matanya, agar sang suami menghentikan permainan nya.


''Kamu beneran lelah sayang?'' bisik Karan kembali seraya mencium kening Pinky sang istri.


''Tidurlah, aku nggak akan mengganggu tidur kamu, aku akan kembali setelah selesai membersihkan tubuh lengket ku ini,'' Ucap nya setengah berbisik.


...****************...


Sania kini tengah berada di kamar Adriana, dia sedang berbaring karena rasa pusing nya yang tengah bersarang di kepalanya. Dia memejamkan matanya sejenak untuk mengusir rasa sakit nya walau hanya sebentar saja.


''Kamu jadi nginap di sini kan dek?'' tanya Riana yang kini tengah berbaring juga di kasur empuk nya.


''Iya kak, lusa kak Riana dan kak Rian kan sudah kembali ke kampus nya, lagian kakak pakek meneruskan segala kuliah nya.'' Ucap Sania cemberut, lalu menyembunyikan wajahnya ke bantal yang tengah ia pegang.


''Mau bagaimana lagi Sania, ini sudah keputusan kakek dan juga Papa, agar kami bisa sukses seperti kak Karan. Sebenarnya aku kalau boleh memilih, pasti akan memilih diam di rumah menemani Mama dan juga adik bungsu ku di sini, tapi aku nggak bisa menolak nya, aku ingin berbakti kepada mereka semua sebelum aku mendapatkan laki-laki yang akan menjadi suamiku kelak, emangnya kamu sendiri nggak ingin sukses seperti kak Karan?'' jawab Riana panjang kali lebar. Sania hanya bisa mencerna sebagian dari ucapan Riana barusan, akhir akhir ini otaknya sangat lemot untuk berfikir yang lebih jauh lagi, dia tak bisa memikirkan hal yang akan membuat otak nya seakan-akan di peras karena memikirkan hal semacam itu.


''Sania nggak memikirkan lagi tentang kesuksesan lagi kak, saniy sudah ingin nyerah? dan Sania juga sudah memegang restoran itu, jadi Sania sudah memikirkan untuk menjabat sebagai CEO lagi di perusahaan Ayah, biar kak Karan saja yang mengelola perusahaan Ayah,'' sambung ku, Sania mengalihkan pandangan nya karena dia tak ingin terlihat sedih di depan kakak sepupu nya.


''Kamu nggak boleh pesimis seperti itu Sania, kamu juga punya hak atas perusahaan itu, kita sama Sania? namun aku di tuntut agar lebih tegas dalam bersikap, dan menjadi sosok pemberani dalam mengambil dalam semua keputusan kelak, tapi kamu masih beruntung banget, karena Bunda tak menjadikan kamu sebagai boneka karena kak Karan tak memperbolehkan mereka bersikap tegas pada kamu selama ini, kak Karan bilang kalau Sania tidak akan kuat dengan ajaran kakek dan juga Papa Arzan, biarlah kami semua yang akan menjadi seperti kemauan kakek dan Papa?'' Riana menceritakan semua nya kepada Sania, membuat Sania mengembangkan senyum sedih nya.


'Mungkin kak Karan sudah punya firasat kalau aku nggak akan kuat untuk menjalani semua ajaran Om Arzan dan kakek, tak mendapatkan ajaran keras saja aku sudah lemah seperti ini, apalagi mendapatkan nya,' ucapnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2