
''Pinky kamu mencari apa? aku ada di depan mu sekarang,'' gumam kak Karan bingung melihat Pinky seperti mencari seseorang di sana.
''Karan? kamu nggak usah bercanda kayak gini, malu di lihatin keluarga besar kamu?'' gumam Pinky pelan.
''Pinky siapa yang bercanda? aku serius ingin melamar kamu, dan ingin menjadikan kamu istri dan juga Ibu dari anak-anak ku,'' jawab kak Karan menyakinkan kak Pinky.
''Karan kamu?'' ucap Pinky.
''Kak Pinky nggak usah khawatir, ini serius kok? kak Karan ingin melamar kak Pinky malam ini, emangnya kak Pinky nggak mau sama kak Karan?'' sambung ku menghampiri kak Pinky yang sedang bingung.
''Bagaimana, kamu terima apa nolak nich,'' sambung Bu Wati yang kini ada di samping kak Pinky juga.
''Bunda? tapi Karan nggak bilang sesuatu sama Pinky sebelumnya,'' jawab kak Pinky ragu ragu.
''Kalau bilang dulu bukan nya suprise lagi dong kak?'' balas ku menggelengkan kepalanya.
''Terima apa enggak, kakiku mulai pegel nich?!'' seru Karan yang terus berlutut di depan kak Pinky.
''Ya elah gitu saja sudah capek?'' aku menggerutu pelan. Kak Pinky tersenyum lalu mengangguk pelan.
''Maksud nya apa Pinky?'' tanya kak Karan tak mengerti.
''Iya, aku menerima nya,'' jawab kak Pinky dengan senyum manisnya.
''Maaf aku nggak dengar?'' Ujar Karan menjaili sang kekasih.
''Iya, aku mau...? jadi istri dan Ibu dari anak-anak mu,'' jawab kak Pinky dan mengambil bucket bunga yang di pegang kak Karan.
Kak Karan berdiri dan menatap Pinky dengan senyum manisnya. Namun dalam sekejap senyuman kak Karan menjadi sedih, karena sang kakek mengomeli Karan.
__ADS_1
''Karan? masak iya acara lamaran nggak ada cincin nya sich,'' tegur kakek Sanjaya membuat kak Karan melongo karena kaget dan malu juga tentunya.
''Kakek? tunggu sebentar,'' balas kak Karan menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.
''Nggak apa apa kok, walaupun tanpa cincin,'' sambung kak Pinky menengahi kakek Sanjaya dan juga kak Karan.
''Tenang? aku sudah menyiapkan ini semua dari dulu kok,'' bisik kak Karan pada kak Pinky. Kak Karan mengeluarkan kotak merah dari saku jas nya, kak Karan membukanya dan semua orang pada ngiler lihatnya, ia itu cincin yang kak Karan beli waktu dia berada di Jerman dulu, tapi semua orang yang hadir hanya tersenyum melihat saudara ataupun ponakan nya menunjukkan sebuah cincin berlian pada tunangan nya saat ini.
''Karan? kapan lho ke Jerman lagi?'' tanya saudara yang lain karena melihat cincin tersebut.
''Kenapa emang dengan cincin nya?'' sambung yang lain.
''Itu perhiasan unlimited yang ada di Jerman kemarin,'' balasnya dengan kekehan.
''Lho bisa saja dech, di sini cincin itu banyak kok,'' candanya yang lain. karena mereka semua sudah pada tau kalau kak Karan sudah mempersiapkan ini semua dari bulan lalu.
''Aku kan pengusaha perhiasan, jadi taulah semua perhiasan,'' lanjutnya.
''Cincin itu emang di beli di Jerman, ketika Karan mau pulang kemarin, jadi sudah tentu kalau dia sudah jatuh cinta dari dulu sama wanita di depan nya?'' celetuk kakek Sanjaya jujur.
''Kakek buka kartu dech!'' kesal kak Karan menatap tajam sang kakek.
''Sudah nggak usah menatap kakek seperti itu, lebih baik kamu tautkan cincin butuh ke jari Pinky sekarang,'' sela kakek Sanjaya menunjuk cincin yang di pegang kak Karan saat ini.
''Maaf ya, kakek emang githu,'' bisik kak Karan. Kak Karan pun langsung memasangkan cincin yang ia pegang.
''Alhamdulillah ternyata pas banget?'' lanjut kak Karan ketika melihat cincin yang sudah melingkar di jari manis kak Karan.
Kak Pinky mengambil tangan kak Karan dan mencium punggung tangan nya. Kak Karan hanya tersenyum melihat gadis yang kini sudah menjadi tunangan nya.
__ADS_1
''Kalau sudah selesai, sekarang tinggal mencari tanggal pernikahan nya saja,'' Ucap kakek Sanjaya tiba-tiba.
''Nggak secepat itu kek?'' jawab kak Karan. ''Pinky juga masih kuliah sekarang,'' lanjutnya lagi.
''Jangan lama lama nikahnya, entar malah di embat orang lagi,'' ledek para saudara nya. Mereka semua yang hadir pada tertawa, sedangkan Bu Wati sedang berbincang-bincang dengan calon besan nya, yakni Mama dari Pinky sendiri.
''Bagaimana kalau dua bulan dari sekarang?'' sambung kakek Sanjaya.
''Tapi kek?''
''Nggak ada tapi tapian, kakek bilang dua bulan ya dua bulan, kakek tak menerima penolakan ya, ini semua berlaku pada cucu cucu kakek semua nya.
''Lah kok semuanya sich kek? kami kan nggak mau buru-buru nikah kek?'' jawab Andrian dan juga Andriana, yang tak terima dengan ucapan sang kakek.
Kak Pink meneteskan air matanya begitu saja, membuat kak Karan bingung dengan sikap kak Pinky sekarang.
''Kamu kenapa nangis, ada yang salah dengan ucapan kakek barusan?'' tanya kak Karan khawatir.
''Nggak kok? aku bahagia melihat semua keluarga mu yang rukun seperti ini, dan aku juga iri karena keluarga ku nggak bsehanhat keluarga besar kamu Karan,'' jawab kak Pinky lirih.
''Semuanya akan menjadi keluarga kamu juga Pinky, jadi kamu jangan nangis lagi ya, entar yang ada malah aku di kira nyakitin kamu lagi,'' sela kak Karan mengelus punggung kak Pinky, dan dia juga sesekali mengusap air mata kak Pinky yang masih mengalir di kedua pipi nya.
Mam Wanda menghampiri puteri nya kini tengah menangis di pelukan kak Karan. ''Kamu kenapa sayang?'' tanya Mama Wanda pada kak Pinky. Mama Wanda adalah Mama kak Pinky.
''Pinky nggak apa apa kok Mah? Pinky hanya terharu saja di beri kejutan seperti ini sama Karan?'' jawab nya mengelap air matanya.
''Selamat ya sayang? kamu sekarang sudah punya pasangan untuk hidup kamu, dan maafin sikap Mama selama ini ya?'' tambahnya dan memeluk Pinky puteri satu satunya yang kini sudah tak pernah pulang ke rumahnya lagi, karena keegoisan sang Mama sendiri, sang Mama mengacuhkan kak Pinky karena sang Mama mengira kak Pinky lah yang menjadi penyebab perceraian nya dengan sang suami, yakni Ayah Pinky sendiri.
''Sudah nggak apa apa kok mah, Pinky juga egois sama Mama?'' balasnya tambah mengeratkan pelukan nya.
__ADS_1
Kak Karan yang melihat keduanya sedang melepas rindu hanya bisa pergi membiarkan mereka berdua. Kak Pinky dan Mama Wanda berada di halaman samping rumah kakek Sanjaya, sedangkan sebagian keluarga besar nya sudah adanyang pulang dan badan juga memilih menginap di rumah kakek Sanjaya, karena rumah mereka ada yang dari luar kota juga, jadinwajarlah kalau ada yang memilih menginap di sana, disana kan luas dan kamarnya juga banyak. Kakek Sanjaya membangun rumah tersebut sengaja di banyakin kamar agar semua keluarga nya yang pada dateng ke rumah besarnya tidak harus menginap di hotel lagi.