Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 148 Persiapan acara


__ADS_3

Setelah di rasa cukup mengobrol di dalam mobil nya, Sania dan Arlan berjalan masuk ke dalam rumah nya dengan menggenggam erat tangan satu sama lain nya.


''Ya elah pasangan baru mau masuk?'' ledek Pinky seraya menahan kekehan nya.


''Apa sich kak Pinky, iri aja lihat orang lagi gandengan seperti ini.'' tukas Sania mencebikkan bibir nya.


''Sudah, lebih baik kamu ke kamar dulu istirahat biar besok acaranya lancar,'' kata Arlan lembut, Arlan juga tengah mengelus puncak kepala Sania dengan lembut nya, membuat gadis yang sebentar lagi akan menjadi istri dan juga Ibu dari anak anak nya. ''Kalau begitu aku pamit dulu ya, sampai ketemu besok dirumah kakek?'' tambah Arlan yang di angguki Sania.


Sebelum Arlan benar-benar pergi dari hadapan nya Sania terlihat mengulurkan tangan nya kebarah Arlan, Arlan menerima uluran tangan dari gadis nya, Sania mencium punggung tangan calon suami nya. Sania sendiri tidak percaya dengan semua yang terjadi hari ini, ini seperti mimpi dan Sania juga tak ingin bangun dari tidur nya, namun Sania tersadar kalau ini semua bukan mimpi, ini adalah kenyata'an yang sesungguhnya, pikir Sania.


Setelah kepergian Arlan dari rumah Sania, Pinky menghampiri adik ipar nya yang sebentar lagi bakalan jadi nyonya Arlan tersebut. ''Nyonya Arlan masih tidak percaya dengan kejadian hari ini?'' tanya Pinky dengan berbisik.


''Apa sich kak? tapi yang di katakan kak Pinky ada benar nya sich, Sania masih belum percaya kalau Sania akan menikah dengan kak Arlan?'' jawab Sania membenarkan semua ucapan Pinky barusan.


Pinky mengapit hidung mancung Sania sehingga berubah menjadi merah, ya walaupun Pinky mengapit tidak terlalu keras, tapi masih nampak jejak jari nya di hidung Sania, ''Maaf, apa ini sakit?'' tanya Pinky mulai khawatir melihat hidung adik ipar nya memerah karena kejailan diri nya.


''Nggak apa apa kok kak? Sania memang tidak bisa terkena benturan atau pukulan, yang akan bisa meninggalkan jejak,'' ungkap Sania dengan senyuman nya, agar kakak ipar nya tidak merasa bersalah dengan sikap nya barusan? padahal Pinky hanya menjepit hidung nya dengan pelan bukan memukul nya, dan kenapa masih harus meninggalkan jejak seperti ini sich, pikir Sania dalam hati nya.


'Apa penyakit aku bertambah parah karena beberapa hari ini tidak mengkonsumsi obat-obatan yang di resep kan oleh dokter,' ucap Sania dalam hati. Pinky masih berada di depan sangat adik ipar dengan rasa bersalah nya, karena sudah membuat sang adik kesakitan.

__ADS_1


''Sudah nggak apa apa kok kak? kak Pinky tenang saja ya, ya sudah kalau gitu Sania kembali ke kamar dulu, mau istirahat?'' Ujar Sania menepuk pelan lengan kakak ipar nya yang masih terlihat khawatir dengan perbuatan nya kepada adik ipar nya.


''Beneran kamu nggak apa apa kan?'' tanya Pinky memastikan lagi kalau adik ipar nya tidak kenapa napa.


''Kak Pinky nggak khawatir seperti itu, Sania benar-benar tidak apa apa kok, ini hanya merah dan sebentar lagi akan ilang kok, tenang saja? lebih baik kak Pinky kembali ke kamar nya sekarang, ini sudah larut kan?'' sela Sania dengan terus mengembangkan senyuman manis nya.


Pinky mengangguk dan berjalan beriringan menuju ke anak tangga, untuk sampai ke dalam kamar nya yang memang ada di lantai atas.


Pinky terus saja memandang ke arah sang adik ipar nya, 'Semoga dia benar-benar baik, aku merasa bersalah sekali sudah berbuat sepet itu? tapi aku juga nggak terlalu mengetahui tentang itu,' Pinky nampak merutuki kejailan yang ia lakukan kepada adik ipar nya.


Sania yang sudah sampai di depan pintu pun berpamitan kepada kakak ipar nya setelah membuka pintu kamar nya, Pinky hanya mengangguk pelan dengan masih menatap ke arah Sania yang pintu nya sudah tertutup dengan rapat. Buru buru Pinky masuk ke dalam kamar nya, di sana sudah mulai mengeluarkan air mata nya sejak tadi ia tahan di depan Sania, karena Pinky tak mau menambah kesedihan Sania, setelah seharian ini Sania di kelilingi dengan kebahagia'an, ''Masak iya aku harus menghancurkan senyuman manis Sania yang sesungguh nya sich,'' gumam Pinky di dalam kamar nya.


Ketika melihat Om Arzan dan juga tante Citra nya juga sudah berada di sana, Karan merasa sangat bersyukur di kelilingi keluarga yang sangat menyayangi keluarga nya, semua keluarga nya terbilang selalu kompak dalam melakukan semua nya secara bersama sama, itu membuat Karan meneteskan air mata, mengingat sang Ayah yang sudah tiada dan sudah tak bisa berkumpul lagi dengan mereka semua.


''Ayah sangat beruntung mempunyai saudara yang sangat menyayangi Ayah, bahkan mereka juga begitu menyayangi ku dan juga adik, Karan tidak tau harus berbuat apa kalau tidak ada mereka semua Yah, aku harap Ayah juga senang dengan pernikahan adik besok sore, Karan akan menjadi wali nikah Sania besok di hari pernikahan nya.'' gumam nya pelan, sehingga hanya dirinya yang mendengar gumaman nya sendiri.


''Karan disini juga, sama siapa?'' tanya tante Cinta yang baru melihat Karan di pelataran rumah nya yang tengah di dekor semenatik mungkin untuk acara besok sore.


''Iya tante, maaf Ibu nggak bisa ikut ke sini, beliau hatus menjaga Sania di rumah, dan istri Karan harus mengurus baju untuk kita pakai di acara besok?'' jelas Karan tanpa melebih lebihkan ucapan nya.

__ADS_1


''Bagaimana, sudah nemu kebaya yang akan kita kenalan besok?'' tanya tante Cinta lagi.


''Alhamdulillah sudah tante, Pinky sudah dapat? dan dia juga besok harus mengantarkan baju kerumah Arlan juga,'' kata Karan yang di angguki tante Cinta.


''Bagaimana semua nya tante, apa masih ada yang kurang buat acara besok?'' tanya Karan memastikan tidak ada yang kurang di saat acara sudah di mulai.


''Alhamdulillah, sampai saat ini masih aman aman saja? catering dan lain nya Mama Citra yang handel semua nya. Kamu tenang saja, walaupun acara nya dadakan kakek kamu sudah merencanakan semua nya dengan begitu baik, bahkan semua kolega dan rekan bisnis nya sudah di undang semua oleh nya, jadi kamu harus siap mental dengan semua pertanya'an mereka semua besok sore, karena dari mereka masih belum ada yang tau? kalau kamu juga sudah menikah?'' Ucap nya panjang lebar.


Sampai pukul 1 dini hari, mereka semua berkutat dengan pekerja'an masing-masing, Karan yang sudah merasa sangat mengantuk memilih untuk menbaringkan tubuh nya dinatas sofa di ruang tengah, sedangkan Mama Citra dan juga Om Arzan memilih beristirahat di kamar nya, begitu juga Om Fabian dan juga tante Cinta.


Karan nampak sangat oulas sekali dalam tidur nya, sehingga ketika adzan subuh berkumandang pun dia tidak merasa terganggu, namun sang tante tetap membangunkan Karan untuk bangun dari tidur nya hanya untuk melaksanakan kewajiban nya sebagai umat islam yang taat Agama.


''Karan bangun, sholat dulu? setelah itu lanjut tidur lagi,'' Ucap nya pelan seraya menggoyang goyangkan tubuh Karan dengan perlahan.


Karan yang terusik tidur nya pun mengerjapkan matanya, melihat siapa yang berani membangun kan dia sepagi ini, pikir Karan.


Namun Karan malah tersenyum ketika melihat sosok wanita cantik di samping nya dengan senyum yang manis, walau wanita tersebut sudah memiliki 3 orang anak namun penampilan nya seperti masih gadis, siapa lagi kalau bukan Mama Citra. Yang awalnya semua ponakan nya memanggil tante, namun mereka semua malah berubah menjadi Mama, Mama Citra lebih tepat nya.


''Iya, Karan sudah bangun Mama Citra ku yang paling cantik?'' goda Karan seperti biasa nya.

__ADS_1


''Sudah kamu cepat ambil wudhu dan sholat, setelah itu baru lanjut tidur lagi,'' jawab Mama Citra beranjak pergi melangkah ke dapur, walaupun pagi ini banyak sekali orang di dalam rumah kakek Sanjaya, namun Mama Citra masih masuk ke dalam dapur untuk terjun langsung dalam menyiapkan makanan untuk semua keluarga nya.


__ADS_2