Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 104 Sayang sayangan


__ADS_3

Tepat jam 7 malam Gita datang ke rumah dengan kertas kertas yang ada di tangan nya, aku melotot ketika melihat tumpukan kertas yangbiantaruh di atas meja, ''Sebanyak ini?'' tanyaku kaget.


''Iyalah, kan kamu nggak...?'' dengan segera aku menutup mulut Gita, karena saat ini ada kak Karan dan juga kak Pinky yang sedang menatap ku.


''Gue tadi bilang apa sama kamu?'' bisikku mengingat kan Gita.


''Iya iya aku lupa,'' jawab nya balik berbisik juga.


''Tugas apa itu dek? banyak banget?'' tanya kak Pinky menyelidik.


''Och... ini sebagian buku Sania kak, kemarin aku pinjam jadi sekarang aku balikin sekalian mau ngasih tugas lagi buat dia,'' jawab nya dengan kekehan.


''Sudah? lebih baik kita makan malam dulu yuk?'' Ujar Ibu tiba tiba yang sudah berdiri di belakang ku.


''Kebetulan juga aku sudah laper nich Pinky,'' celetuk Gita seraya menarik lenganku menuju meja makan.


''Sania, jangan bikin aku malu dong di depan kakak kamu, mau di taruh di mana muka ku keles?'' bisiknya sembari terus melangkah.


''Salah sendiri, sudah aku bilang tadi jangan sampai keceplosan kalau aku nggak kuliah beberapa hari ini,'' balas ku tak kalah berbisik.


Semua orang sudah pada berkumpul di meja makan, dan ditengah tengah kita sedang asik menyantap tiba-tiba kak Karan bersuara. ''Ibu, kita akan pergi besok untuk hany moon yang tertunda kemarin?''


Ibu hanya mengangguk saja, sedangkan aku sudah keselek mendengar nya, buru buru Gita mengambilkan segelas air untuk ku sembari berkata, ''Makanya pelan pelan makannya, kayak sudah beberapa hari nggak makann saja,''


Aku yang di ledek seperti itu marah lah, karena ulah si Gita yang nggak ada akhlak sama sekali, ''Enak saja ngatain aku nggak makan beberapa hari ini, tau dari mana lho!'' ketus ku menatap Gita lekat lekat.

__ADS_1


''Bunda coba lihat Sania sekarang, dia mulai kurusan kan? kayak nggak makan beberapa hari ini.'' jawab Gita meminta pertolongan pada Ibu.


''Iya, Ibu juga berpikir gitu? kalau dia sekarang kurusan.'' sahut Ibu yang malah membela Gita teman kampusku yang nggak ada akhlak dari pada membela puteri nya sendiri.


''Sania kemarin diet, ini aja sudah turun 3 kilo.'' jawabku asal, karena tak tau harus berbuat apa lagi.


''Jangan diet lagi dek? kamu itu sudah kurusan malah diet segala,'' celetuk kak Karan menatap ku dengan tajam.


''Sania minggu depan kita akan PKL, kamu ikut nggak?'' tanya Gita.


''Nggak tau juga Git, emang mau PKL kemana?'' tanyaku penasaran. 'Masak iya aku harus ikut PKL dengan keadaan ku yang seperti ini sich,' ucap ku dalam hati.


''Sudah, yang penting kamu siap berangkat dan tempat nya sudah di sediakan juga kok?''


''Bunda makasih ya, makanan nyanenak banget dech?'' Ujar Gita yang sudah berdiri, ''Sekalian aku pamit Bun, Sania dan juga kakak semua nya?Assalamu'alaikum,'' Ucapnya melangkah pergi menuju ke mobilnya, di mana di sana sang sopir masih setia menunggunya.


...****************...


Kak Karan dan juga kak Pinky sudah kembali ke kamar nya, mereka berdua harus berkemas malam ini karena besok siang mereka harus berangkat ke Bali untuk berbulan madu yang sempat tertunda karena kepergian sang adik.


''Mas? apa sebaiknya kita batalkan bulan madu kita, lagian kita di rumah sudah bahagia kok?'' Ujar kak Pinky yang kini tengah duduk di tepi ranjang nya.


''Kenapa emangnya sayang?'' tanya kak Karan yang bangkit dari sofa menghampiri sang istri yang tengah di landa kegalauan.


''Aku masih kepikiran sama Sania mas? dia juga baru pulang masak iya harus kita tinggal sich,'' jawab kak Pinky merubah posisinya yang kini menatap wajah tampan suaminya.

__ADS_1


''Ibu sudah ngijinin kok sayang? masalah adik dia kan sudah ngijinin juga, terus apa lagi yang membuat kamu merasa sedih seperti ini sich, atau jangan jangan kurang jauh bulan madu nya?'' balas Kak Karan menaik turun kan alisnya.


''Apa'an sich mas? bukan begitu maksud aku?''


''Terus apa dong maksud kamu, atau kamu menginginkan nya malam ini agar besok batal dan nggak jadi pergi bulan madu nya,'' goda kak Karan membuat pipi kak Pinky merah layak nyantomat yang sudah siap di petik. Kak Pinky menutup wajahnya karena mungkin dia merasa malu sama kak Karan yang sekarang sudah sah menjadi suami nya beberapa hari yang lalu.


Kak Karan mencium pipi kak Pinky, namun kak Karan tak berhenti sampai di situ, kak Karan mulai mencium bibir istrinya, karena tak ada penolakan dari kak Pinky, kak Karan pun melanjutkan ciuman nya yang sekarang mulai terasa panas, darah nya terasa mendidih di saat bibir nya di lu*mat oleh kak Karan. Kak Pinky yang tak pernah berciuman hanya diam saja tanpa ikut campur dengan apa yang di lakukan oleh kak Karan.


Kak Karan menggigit bibir bawah kak Pinky agar dia membuka mulutnya, setelah bibirnya terbuka lidah kak Karan langsung menerobos begitu saja, mereka saling bertukar saliva sampai nafas kak Pinky ngos ngosan.


''Nafaslah sayang, kamu mau mati menahan nafas seperti itu,'' sela kak Karan di tengah-tengah permainan nya.


''Kamu sudah siap?'' bisik kak Karan tepat di telinga kak Pinky, membuat bulu kuduk dan fikiran nya melayang entah kemana karena hembusan nafas dari kak Karan sendiri.


Kak Pinky mengangguk pelan dan berkata, ''Insya Allah aku siap mas?''


Kak Karan mengembangkan senyuman nya, dan melanjutkan aksinya, dia melahap habis bibir kak Pinky, sedangkan tangan nya kini sudah mulai nakal di area area sensitif kak Pinky, kak Pinky yang tak pernah di perlakukan begitu sebelumnya hanya menggelinjang karena mungkin atau apa saya tak bisa menjabarkan yang lebih detil lagi.


Kak Pinky dan kak Karan kini tengah bergulat, merasakan kenikmatan surga dunia yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Hanya erangan dan ******* yang terdengar di dalam kamar itu malam ini, menikmati surga dunia yang sudah sahabat beberapa hari lalu.


''Terima kasih sayang? kamu telah menjaga mahkotamu hanya untuk ku,'' Ucap kak Karan mencium kening kak Pinky.


''Mas, semua itu sudah kewajiban ku untuk menjaga kesucian ku, dan hanya aku berikan pada suamiku saja,'' jawab kak Pinky lirih, mungkin dia merasa capek dan merasa ngantuk juga. Karena kak Karan bersikap buas malam ini, Nah kan mereka lupa? sudah berapa kali mereka melakukan nya malam ini, sampai sampai kak Pinky terasa lemas seperti ini. Mereka pun akhirnya terlelap ketika sudah larut malam bahkan mungkin sudah dini hari, karena ayam jantan sudah berkokok, memberi tahu kesemua orang bahwa kini hampir fajar.


Mereka berpelukan tanpa mengenakan sehelai baju, hanya selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2