
Arlan terus berdo'a agar dia segera menemukan pujaan hati nya, yang sudah membawa separuh hati nya selama beberapa hari ini. Wajah Arlan terlihat begitu capek dan lingkaran mata nya sudah mulai menghitam, Arlan sendiri mencari keberada'an istri kecil nya tanpa mengenal lelah, bahkan untuk sekedar makan saja Arlan sangat malas.
Sekarang Arlan hanya mengharapkan ada keajaiban untuk segera bertemu dengan istri kecil nya, mungkin semua orang menganggap dia bodoh karena masih mencari keberada'an Sania. Tapi semua keluarga nya masih terus memberikan semangat kepada pria yang kini hampir menginjak 29 tahun itu, kakak dan juga kakak ipar nya selalu mendukung apa yang sudah menjadi keinginan adik nya, walau mereka beda Ibu? namun kedua kakak Arlan begitu baik kepada nya selama ini.
Arlan yang tengah fokus melewati jalan bebatuan tiba tiba di kagetkan dengan suara sering ponsel nya yang sengaja ia taruh di dasbor mobil nya.
Arlan memggeser layar ponsel nya ke warna hijau, dan terdengar suara seorang laki-laki di seberang.
-''Arlan! kamu ada di mana sekarang,'' kata seseorang di seberang telfon dengan suara berat dan juga dingin.
-''Aku sedang ada di jalan, memang nya ada apa Karan,'' tanya Arlan kepada Karan, ya yang menghubungi Arlan adalah Karan kakak ipar nya.
-''Cepat kembali sekarang Arlan? ada yang akan aku katakan kepada mu sekarang,'' jawab Karan masih dengan suara datar nya.
-''Aku nggak bisa pulang sekarang Karan, lebih baik kamu katakan apa yang ingin kamu katakan kepada ku sekarang juga,'' sela Arlan yang tak mungkin kembali ke rumah nya dengan tangan kosong nya, sedangkan desa yang akan ia tuju, sudah ada di depan mata nya. Hanya butuh waktu 2 jam lagi akan sampai di sana.
__ADS_1
-''Ini sangat penting Arlan, ini menyangkut Sania?'' Ucap Karan membuat Arlan menghentikan laju kendara'an nya di tepi jalan yang mungkin sempit untuk di lalui mobil mobil besar lain nya.
-''Ada kabar apa tentang istri ku Karan, aku sekarang tidak sedang dalam apartemen, aku sudah di jalan menuju desa-''
-''Desa apa Arlan?'' potong Karan ketika mendengar kata desa dari adik ipar nya.
-''Desa di mana kamu dan Sania di besarkan, aku akan mencari Sania ke sana, lebih baik kamu katakan saja hal penting apa sehingga membuat aku harus kembali ke kota!'' Arlan mendengus kesal karena Karan tidak langsung mengatakan apa yang harus ia katakan, buang buang waktu saja, pikir Arlan dan melajukan kembali kendara'an nya.
-''Kalau sudah nggak yang ingin kamu katakan aku matikan sambungan telfon nya sekarang, jalanan di sini sangat terjal dan juga sempit,'' tambah nya lagi, Arlan menatap lurus ke depan dia kembali fokus ke jalanan di depan nya, salah sedikit akan mengalami nasib yang mungkin tidak akan bisa di selamat kan, karena mobil nya akan masuk ke dalam sungai yang sangat dalam.
Di sisi lain Sania tengah bercanda tawa dengan nenek yang beberapa hari kemarin menolong nya, Sania kemarin memutuskan pergi pinggiran desa untuk menjual mibil nya agar tidak ada jejak di desa yang ia tinggali, Sania sudah memutus kan untuk tetap tinggal bersama dengan nenek yang hanya hidup sebatang kara itu, mungkin hal ini aku yang salah, tapi aku sudah sangat yakin akan pergi dari Mas Arlan? agar dia bisa bahagia bersama dengan wanita yang bisa membahagiakan dia. Tidak seperti aku yang seperti benalu di kehidupan nya, pikir Sania yang kini sedang membersihkan rerumputan di kebun milik sang nenek.
''Sania belum capek kok nek, biarkan Sania mengerjakan ini sendiri, nenek lanjut saja memetik cabe yang sudah merah itu,'' balas Sania yang juga ikut mengeraskan suara nya.
Sang nenek hanya tersenyum mendengar jawaban dari Sania, kemarin sang nenek sempat memanggil Sania dengan sebutan ***, namun hari ini dia malah memanggil Sania dengan sebutan neng? Sania terus saja membersihkan rumput rumput yang nada di sekitaran pohon cabe yang sudah di ambil buah nya, karena dengan cara seperti inilah sang nenek bisa bertahan hidup di masa renta nya, masa di mana dia seharus nya sudah beristirahat dan hanya menunggu rumah dengan cucu yang di temani nya, namun tidak dengan nenek Lastri yang harus berjuang untuk hidup sendiri karena tak ada anak, suami dan juga sanak saudara yang harus ia mintai tolong.
__ADS_1
Nenek Lastri menghampiri Sania yang masih asik dengan clurit yang ia pegang saat ini, karena Sania terlalu fokus membersihkan semua rumput rumput itu, dia tidak menyadari kalau nenek Lastri sudah ada di belakang nya.
''Ayo kita makan dulu, nanti kita lanjut lagi,'' gumam nenek Lastri menepuk pelan punggung ku.
Aku mengulas senyum menatap wajah tua nenek Lastri, ''Tapi Sania belum capek nek, dan Sania juga belum lapar?'' jawab nya mengalihkan pandangan nya ke rumput yang belum ia bersihkan.
''Lebih baik Nenek saja yang makan duluan, Sania masih ingin menyelesaikan ini dulu,'' tambah nya lagi mengayunkan clurit kecil ke rumput liar yang tumbuh di sekitaran pohon cabe.
Nenek Lastri mendengus kesal mendengar penolakan Sania tadi, Nenek Lastri beranjak dari duduk nya dan menuju ke pondok yang berada tak jauh dari kebun nya, sebenarnya pondok itu para tetangga yang bikin agar mereka bisa berteduh di sana ketika matahari begitu terik.
Sania hanya melirik kepergian sang nenek yang terlihat kecewa kepada nya, namun Sania masih senang dengan pekerja'an nya saat ini, di mana pekerja'an yang mengutas tenaga dan juga keringat yang bercucuran di kening nya, sedangkan baju belakang nya sudah di basahi dengan peluh karena matahari sangat terik.
Sania merasa sangat haus sekali, kerongkongan nya mulai kering, dan Sania memilih menghampiri sang nenek yang tengah beristirahat dengan memejamkan matanya, ''Ternyata pondok ini sangat sejuk sekali, sampai sampai membuat nenek ketiduran seperti itu,'' gumam Sania dengan suara di pelan kan.
''Nenek nggak tidur, Nenek hanya merasa tidak di hargai saja oleh seseorang tadi,'' balas nya dengan mata yang masih terpejam.
__ADS_1
Sania mengerutkan kening nya, karena dia tau apa yang di maksud dengan seseorang, ''Sania bukan nya tidak menghargai ajakan Nenek? tapi Sania terlalu senang membersihkan rumput rumput itu, sehingga Sania tidak merasa lapar, Nenek jangan salah paham gitu dong? Sania akan sedih jika Sania di abaikan oleh Nenek?'' Ucap nya dengan nada di buat sesedih mungkin.
Nenek Lastri membuka matanya untuk menatap wanita yang selama 4 hari ini sudah menemani hidup nya, hari hari nya kini mulai berwarna kembali, seakan Nenek Lastri sudah menemukan keluarga nya yang sempat hilang, dan kini seorang wanita cantik malah dengan suka rela ingin hidup bersama nya, walaupun Nenek Lastri sudah sering kali menyuruh Sania untuk kembali ke keluarga nya, namun wanita ini tetap bersikeras untuk hidup bersama nya, menemani masa masa tuanya.