
Sania yang sudah sampul di rumah Bunda nya segera menghambur ke baby Mikhael yang sedang bermain dengan Bunda nya, tapi Sania merasa sangat kecewa dan juga sedih, ketika Bunda nya memilih menjauhkan Mikhael dari Sania.
''No?? aunty lebih baik mandi dulu sebelum memcium ku,'' Ucap sang Bunda menirukan suara anak kecil.
''Bunda pelit banget sich, Sania hanya ingin mencium baby Mikhael sebentar saja, baru setelah itu Sania pergi mandi?'' jawab Sania tak mau menyerah dengan Bunda nya, Sania masih terus saja mengelilingi baby Mikhael untuk di cium nya, sampai akhirnya Pinky kakak ipar nya bersuara dari arah dapur dengan membawa makan pendamping baby Mikhael.
''Lebih baik adik mandi dulu, setelah itu baru puas puasin main dengan baby Mikhael, adik kan masih dari rumah sakit, dan takut nya ada bakteri yang menempel di baju kalian,'' pungkas nya dengan nada suara yang sangat lembut.
''Iya iya maaf, Sania lupa?'' jawab nya dan melangkah pergi meninggalkan suami nya yang masih duduk diam di sofa yang ada di depan Bunda nya.
''Bahasa keada'an kamu sekarang Arlan?'' tanya sang Bunda menanyakan kepada menantu nya.
''Alhamdulillah sudah mendingan Bunda, tapi jalan Arlan saja yang masih sedikit pincang? mungkin karena ter gencet body mobil kemarin,'' jawab nya menjelaskan kepada Bunda mertua nya.
''Lebih baik kamu istirahat saja di kamar nya, apa butuju bantuan? biar Pak Udin yang membantu kamu ke kamar,''
''Tidak usah Bunda, Arlan bisa sendiri kok? lagian ini sudah tidak terlalu sakit lagi, kalau gitu Arlan ke atas dulu,'' pamit nya dengan langkah tertatih-tatih karena kakinya masih merasa ngilu kalau di gunakan untuk berjalan.
Sesampainya di kamar, istri kecil nya sudah cantik dengan gamis hitam nya yang menutupi tubuh kurus nya. ''Sudah cantik saja nich istri ku,'' Ujar Arlan menutup pintu kamar nya.
''Baru tau kalau aku selalu cantik?'' balas Sania memutar bola matanya malas mendengar gimbalan dari suami nya.
__ADS_1
''Mau kemana sayang?'' tanya Arlan ketika istri kecil nya melangkahkan kakinya menuju pintu kamar nya.
''Mau ke bawah, mau gendong baby Mikhael dan ingin mencium nya juga,'' tukas nya dan membuka pintu kamar nya, namun Sania menghentikan langkah nya ketika melihat suami nya melangkah ke kamar mandi.
''Mas Arlan mau mandi sekarang?'' tanya nya menutup pintu kamar nya kembali dan menghampiri suami nya yang tengah mengangguk pelan.
''Mau aku bantu nggak?'' tanya Sania lagi.
Arlan menggeleng, ''Tidak usah, lebih baik kamu temui baby Mikhael dulu, pasti kamu sangat kangen dengan baby gembul itu kan?'' jawab nya mengulas senyum di bibir nya.
''Sudah, baby Mikhael bisa kapan saja, sekarang aku ingin membantu suami ku yang sik tampan ini untuk mandi,'' ucap nya membantu membuka baju yang di pakai suami nya.
''Sayang? tapi aku menginginkan hal yang lebih dari sekedar mandi?'' jawab Arlan dengan nada lirih nya, seminggu di tinggal pergi boleh sang istri, membuat Arlan merasa kangen dan di tambah berada di rumah sakit selama beberapa hari, membuat Arlan semakin menginginkan istri kecil nya.
''Sudah lah lebih baik Mas Arlan aku banyu mandi saja dulu, kapan kapan kalau sudah waktunya pasti aku kasih kok, tenang saja,'' gumam Sania merasa tidak enak hati dengan suami nya.
Dengan perasa'an kecewa akhirnya Arlan mau di bantu mandi oleh istri kecil nya, Arlan tidak memaksakan kehendak nya, ia tahu betul kalau istri nya baru sembuh dari penyakit nya, dan sekarang dia tengah mengandung anak nya yang masih berupa janin di dalam perut istri nya.
Hanya butuh waktu lima menit Sania membantu suami nya mandi, dia pun segera mengambilkan baju untuk suami nya, hitung hitung ini semua membalas budi dan juga mencari pahala dengan merawat suami nya yang tengah sakit.
''Sania turun dulu Mas, Sania akan bawa makan malam Mas ke kamar, jadi Mas Arkan tidak usah turun ke lantai dasar lagi,'' Ucap Sania beranjak dari duduk nya.
__ADS_1
''Nggak apa apa, Mas makan di bawah? Mas hanya ingin makan bersama kamu saja, setelah itu Mas akan kembali ke kamar lagi untuk istirahat,'' jawab Arlan mencegah kepergian istri nya.
''Sania juga akan makan di kamar ini kok Mas, jadi Mas Arlan tak perlu berpikir kalau Mas akan makan sendirian di sini,'' Ucap Sania memperjelas ucapan nya yang mengatakan akan turun sebentar untuk mengambil makan malam nya.
Arlan yang mendengar penjelasan dari istri nya pun mengangguk dan menghela nafas panjang. Sebelum Sania benar-benar pergi dari kamar nya dia menatap wajah sendu suami nya yang tengah menatap kepada kaki nya, ada rasa sedih yang menjalar di hati Sania saat itu, namun Sania memilih melanjutkan langkah nya agar tidak di lihat oleh suami nya. kalau ternyata dia sangat sedih melihat kondisi suami nya saat ini.
'Sania janji akan merawat kamu sampai sembuh Mas, dulu kamu sudah merawat Sania dengan ikhlas dan juga sabar menghadapi aku yang sering mengeluh dan sering berkata kasar, tapi itu semua tanpa sengaja karena sikap mu yang sungguh bikin aku kesal setengah mati saat itu,' Ucap Sania dalam hati.
Sania terus menuruni anak tangga satu persatu sampai akhir nya di sampai dibuang makan yang di sana sudah ada kakak nya dan juga yang lain.
''Arkan kemana dek?'' tanya Karan ketika melihat adik nya turun hanya seorang diri.
''Mas Arlan ada di kamar kak, ini aku akan mengambil makan malam nya dan di bawa ke kamar sekarang?'' jawab nya.
''Biar Bibi saja yang antar makan malam suami kamu sayang, lebih baik kamu duduk dulu dan makan lah,'' sela sang Bunda.
''Bunda? Sania ingin menemani Mas Arlan makan di kamar, kasihanndia kalau di biarkan makan sendirian di dalam kamar,'' jawab Sania lembut kepada Bunda nya.
''Baiklah, itu terserah sama kamu saja. Apa perlu bantuan Bibi untuk mengantarkan makanan ini ke atas,'' tanya Karan menatap ke arah adik nya yang sedang tersenyum kepada nya.
''Tidak usah kak? Sania bisa sendiri kok,'' ucap nya dan membawa nampan yang sudah berisi dengan makanan dan juga beberapa lauk di atas nya.
__ADS_1
Karan dan yang lain nya hanya mengangguk pelan dan kembali melanjutkan makan malam nya yang sempat tertunda.
Mereka semua nampak sangat bahagia dengan kepulangan Sania kerumah nya, di tambah lagi kini Sania tengah hamil dan membutuhkan pengawasan daripada Bunda nya, mengingat Sania yang begitu ceroboh dalam mengambil keputusan apalagi dia sering lari lari nggak jelas dari tangga, membuat jantung sangat Bunda menjadi ketar ketir di buat nya.