Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 69 Kembali nya Karan


__ADS_3

Bu Wati menghela nafas panjang mengingat kehidupan nya yang dulu teramat sulit, dia harus pontang panting bekerja hanya untuk membeli beras dan juga untuk membeli kebutuhan yang lain nya, namun kini semua nya berubah setelah Karan dan juga Sania bertemu dengan keluarga Sanjaya. Bu Wati menyandarkan bahu nya ke sandaran kursi penumpang, sedang kan pak Udin hanya memperhatikan dari kaca spion mobil nya.


''Mungkin mereka sudah nyaman dengan kehidupan yang dulu y pak, cacian dan segala hinaan ia terima ketika ayah nya meninggal, mungkin juga mereka sudah kebal dengan semua nya, karena kehidupan kami dulu sangat lah berbanding terbalik dari sekarang, yang apa apa tinggal ngambil dan beli, tanpa harus bekerja keras. Kehidupan mereka dulu sangat lah jauh dari kata layak Pak? mereka selalu di hina ketika semua teman nya membeli baju baru atau pun tas baru, mereka hanya bercerita berdua tanpa mau aku tau kesedihan mereka pak,'' keluh nya pada sang sopir, Bu Wati mengeluarkan semua unek unek yang selalu ia simpan di dalam hatinya.


''Tadinya aku nggak percaya kalau mas Candra adalah pemilik perusahaan besar di kota ini, namun semua di buktikan oleh kedua adik nya dan juga suami suami mereka, Arzan dan Fabian mendidik Karan agar menjadi orang sukses, agar ia bisa membuktikan semua ucapan nya pada pak Lukman, orang terkaya di kampung ku dulu, pak Lukman orang pertama yang mengatakan Karan dan Sania sampah, karena mereka berdua anak dari keluarga miskin seperti aku. Sebenarnya aku sakit hati dengan semua perkataan pak Lukman pada kedua anak anak ku pak, namun aku nggak bisa berbuat apa, karena itulah kenyataan nya.'' lanjut Bu Wati, tapi kini dia mengeluarkan air mata nya yang sudah membasahi kedua pipinya.


''Maaf Pak? jadi melow gini ya,'' pungkas nya mengusap air mata yang sudah membanjiri pipi putih nya.


''Nggak apa apa nyonya, jadi saya juga tau kehidupan nyonya waktu di tinggalkan tuan Candra,'' jawab nya, Pak Udin membelokkan mobil nya ke parkiran mobil di depan restoran yang ia tuju saat ini. Bu Wati membuka pintu mobil dan turun dari mobil nya, tak lupa juga ia membawa 1 kantong camilan yang akan ia bagi bagi pada semua karyawan nya.


''Biar saya saja yang bawa nyonya?'' Ucap pak Udin yang ingin mengambil alih kantong kresek yang sudah di pegang Bu Wati.


''Nggak usah Pak, oia Pak Udin masuk saja. Minta kopi juga ada di dalam,'' jawab Bu Wati, dan beranjak dewasa ergi dari tempat nya ia berdiri.


''Assalamu'alaikum,'' Ucap Bu Wati ketika kakinya mulai menapaki restoran nya.


''Waalaikum salam? ech Bunda kok nggak bilang kalau mau kesini,'' ucap salah satu pegawai nya yang sedang membersihkan meja restoran. Para pegawai di restoran tidak ada yang memanggil nyonya, karena Bu Wati menolak dengan panggilan tersebut, jadi semua pegawai nya sepakat untuk memanggilnya Bunda saja.

__ADS_1


''Yang lain pada kemana?'' tanya Bu Wati yang masih berdiri di samping Ailee, pegawai yang menyapa barusan.


''Yang lain ada di belakang Bunda? mau Ailee panggilin,'' tanya Ailee menatap wajah cantik Bu Wati, dengan gamis pink yang melekat di tubuh nya


''Nggak usah,'' tolak nya, ''Biar Bunda saja yang menemui mereka, oiya Ailee? ini ada beberapa camilan, kamu kasih pada yang lain juga ya, maaf kalau camilan nya kayak itu? soalnya Bunda nggak tau kesukaan kalian yang kayak bagaimana,'' ujar Bu Wati seraya memberikan kantong kresek yang ia bawa.


Ailee mengangguk dan berjalan beriringan dengan Bu Wati yang ia panggil Bunda, mereka tampak akrab layak nya seorang puteri dengan seorang Bunda nya.


''Bunda apa kabar nya?'' seru semua pelayan yang sudah mulai sibuk dengan pekerjaan nya masing-masing. Mereka pun menghampiri Bu Wati dan mencium punggung tangan wanita paruh baya namun masih cantik.


''Alhamdulillah, kabar Bunda baik baik saja,'' jawab Bu Wati pada semua nya, seraya mengelus punggung semua pegawai nya yang sedang mencium punggung tangan nya.


''Bisa kok Bunda,'' jawab salah satu koki yang bekerja di sana.


''Terima kasih ya, kalau gitu Bunda ke ruangan dulu,'' pamit nya beranjak pergi, namun baru beberapa langkah Bu Wati menoleh ke belakang kembali seraya berkata, ''Semoga kalian suka dengan camilan yang Bunda bawakan ya,'' ucap nya dn berlalu pergi menuju ke ruangan nya, di mana di sana terdapat foto mendiang suaminya yang emang sengaja di cetak dengan ukuran besar.


Bu Wati mengusap foto suaminya dengan deraian air mata yang kini kembali membasahi kedua pipinya.

__ADS_1


''Andai kamu masih bersama kita mas, pasti kebahagiaan ini akan terasa lengkap, namun aku sadar bahwa kamu di sana juga sudah bahagia. Walau kita sudah terpisah namun aku masih sangat mencintai mu sampai ajal juga menjemput ku kelak,'' ucap nya lirih.


...****************...


Kini Karan sudah sampai di rumah besar nya, namun tak ada orang sama sekali di dalam rumah nya, hanya beberapa pelayan dan juga penjaga rumah nya yang lain.


''Assalamu'alaikum,'' Ucap Karan membuka pintu utama yang tidak di kunci.


''Bi...?'' panggil Karan, ''Ibu kemana Bi,'' tanya Karan yang menghampiri ketua pelayan di dapur.


''Tuan?'' ucap sang Bibi yang kaget dengan kedatangan tuan muda nya.


''Iya Bi? ini aku Karan,'' jawab nya seraya kencium punggung tngan ketua pelayan di rumah nya, yang walau kini Karan sudah sukses, namun dia masih bersikap seperti dulu.


''Nyonya pergi ke restoran tuan, sedang kan nona Sania pergi ke kampus bersama nona Pinky tadi,'' jelas sang Bibi.


''Pinky ada di sini Bi,'' tanya Karan terkejut mendengar nama Pinky di sebutkan oleh sang Bibi.

__ADS_1


''Iya tuan, semalam nona Pinky nginap di rumah ini, tapi Bibi aneh saja tuan? nona Sania bersikap selayak orang yang sederhana, bahkan nona Sania juga melarang Pak Udin untuk mengeluarkan mobil nya ketika nona Pinky tadi,'' cerita sang asisten rumah, Karan hanya mengangguk pelan seraya mencerna setiap kalimat yang di ucap kan oleh nya.


''Sania memang tidak pernah menceritakan kehidupan nya yang kini sudah berubah Bi, dia lebih senang dengan penampilan sederhana nya dia, dengan naik angkot dan ojek misalnya,'' jelas Karan. ''Ya sudah kalau githu Karan langsung ke restoran saja Bi, Assalamu'alaikum,'' ucap nya dan berlalu pergi menuju mobilnya yang sudah terparkir di halaman rumah nya, karena sebelum masuk ke dalam rumah nya, Karan sudah menyuruh penjaga rumah nya untuk mengeluarkan mobil nya yang selama ini hanya terparkir di garasi mobil nya saja.


__ADS_2