
Setelah makan aku melangkah pergi menuju kamar ku kembali, aku merebah kan tubuh ku di ranjang size ku, sedang tangan ku mengambil benda kecil yang ada di atas nakas, aku membuka kotak tersebut dan di lihat nya benda mungil yang berbentuk lingkaran itu, aku tatap dalam dalam aeraya berpikir.
''Apakah memang dia orang nya, atau apakah aku hanya terobsesi sama kebaikan nya saja bukan karena cinta, terus aku harus bagaimana? sekarang, di sisi lain aku begitu merindukan nya, di sisi lain dia belum tau identitas asli ku, dan seperti apakah keluarga besar ku,'' gumam Karan memandangi cincin yang ia beli ketika berada di luar negeri.
'Jangan gegabah Karan? cari tentang dia terlebih dahulu, jangan sampai kamu tertipu lagi dengan wajah polos wanita,'' suara isi hati Karan.
''Benar juga, aku harus mencari tahu tentang dia terlebih dulu. Jangan sampai aku terkecoh seperti Kirana dulu,'' Gumam nya mengubah posisi tiduran nya menjadi duduk. ''Aku akan menyuruh dia untuk mencari tahu informasi Pinky?'' lanjut nya lagi, dan menyambar handphone yang ada di atas nakas nya. Aku mencari nomor asisten pribadi ku agar aku bisa menyuruh nya untuk mengorek informasi Pinky, pikir ku.
Aku menekan nomor Alexander di handphone ku, panggilan tetsambung namun sangat lama di angkat oleh seorang yang aku telfon.
Tut....tut...tut....
''Awas saja kalau sampai nggak di terima sama dia, gue akan benar-benar akan memotong gaji dia di bulan ini, biar tahu rasa.
Sedangkan orang yang di telfon pun kaget mendengar ponsel nya bergetar, ''Siapa sich pagi pagi ini nelfon? nggak tau apa kalau sedang tidur,'' gerutu Alexander seraya menggeser layar handphone nya ke warna hijau.
''Lama banget cuma angkat telfon doang!'' Ujar ku ketus di saat sudah di angkat oleh si pemalas ini. Orang di seberang sana hanya bisa menjauhkan handphone nya dari telinga nya, kalau nggak di jauhin auto budek dong.
''Ada apa tuan? maaf saya sedang tidur dan lagian salah tuan sendiri nelfon aku di jam segini!'' seru Alexander merubah posisi nya.
''Cepat datang ke rumah!''
''Tapi tuan?'' Ucap Alexander namun belum selesai lagi lagi di potong oleh tuan muda nya.
__ADS_1
''Aku nggak mau penolakan, atau kamu siapin saja surat pengunduran kamu nanti siang!'' jawab ku membuat sang asisten mau tak mau harus bangun dari tidur nya, dan segera menuju kamar mandi.
''Enak banget jadi tuan muda, tinggal menyuruh saja harus langsung datang! coba saja saya menjadi bos, akan aku suruh tuan muda mengelap sepatu butut ku ini,'' Ucap Alexander geram.
''Huchhh....? nasib nasib, nasib jadi bawahan ya beginilah, cuma jadi pesuru sang tuan muda, tuan yang selalu merasa dirinya paling benar saja.
''Mana lagi nich kunci mobil? ngy tau apa orang lagi buru buru pergi dari sini, ada saja kendalanya,'' gumam Alexander mencari kunci mobil, agar lebih cepat lagi menuju rumah tuan muda nya.
...****************...
Di tempat lain Pinky baru bangun dari tidur nya yang sangat pulas.
Pinky menyibak selimut nya dan menurunkan kakinya menuju balkon kamar pribadinya.
''Aku harus mandi cepat, dan setelah ini aku akan jalan pagi untuk mencari makanan, untuk cacing cacing yang sudah mulai cerewet ini.
Setelah selesai mandi Pinky bergegas menuju jalan depan untuk mencari sarapan pagi nya, dia menyusuri jalanan yang sudah ramai dengan pejalan kaki yang sedang berolahraga atau sekedar mencari sarapan di jalan itu, karena di sana saat ini sudah beberapa macam makanan dan juga banyak pedagang lain nya juga sedang menjajakan masakan nya yang menurut mereka sangat enak dan lezat, Pinky melangkah mencari bapak bapak penjual bubur ayam yang biasa magang di sana, setelah ketemu Pinky memesan pada bapak itu.
''Pak buryam satu ya, seperti biasa?'' Ucap Pinky yang sudah mendaratkan bokongnya di trotoar.
''Neng masuk saja, di sana kotor nggak ada alas nya?'' ujar bapak penjual bubur ayam padaku.
''Nggak usah pak, di sini lebih enak kok? oiya pak bungkus satu ya, takut laper lagi nyampek butik,'' lanjutnya seraya menutup mulut nya, karena malu pada pengunjung lain yang kini tengah menatap nya.
__ADS_1
''Siap?'' balas sang penjual terkekeh.
Di sisi lain Kirana sedang menjajakan jualan nya agar ia bisa kembali lagi hidup dengan layak, tidak seperti sekarang ini. Kirana melewati jalan di mana Pinky sedang menyuap kan bubur nya ke dalam mulut nya, sekilas Pinky melihat sosok Kirana di diri gadis yang kini tengah menjajakan jualan nya.
''Kayaknya aku kenal sama gadis itu dech? tapi siapa, aku lupa. Atau jangan jangan itu semua hanya perasaan ku saja yang pernah melihat wanita tadi,'' gumam Pinky yang di dengar oleh penjual bubur ayam tersebut.
''Och itu Kirana neng? dia buka warung di sebelah, kalau di jam segini dia emang selalu menjajakan jualan nya, sedangkan ayah nya berjaga di warung nya,'' sahut sang penjual bubur.
''Maksud bapak Kirana instagram itu kan pak?'' tanya Pinky memastikan.
''Dulu sich iya neng, tapi semenjak ayah nya bangkrut dan dia juga banyak yang ngehujat, sejak itulah Kirana dan ayah nya buka warung di sebelah,'' jelas nya yang di angguki Pinky.
''Dulu ketika kaya, dia mana mau makan di pinggiran jalan seperti ini, namun sekarang sudah berbanding terbalik neng, karena yang di atas tak selama nya berafa di atas, dan tadinya di bawah selama tak kan ada di bawah terus neng,'' lanjut nya lagi yang kini tengah duduk di samping Pinky, ya Bapak penjual bubur tersebut sudah sangat kenal sama Pinky, karena Pinky adalah tipe cewek yang tak gampang mengeluh, dan dia juga gampang bergaul dengan para pedagang sekitaran sana.
''Neng Pinky kok kenal sama Kirana, kan neng Pinky nggak pernah ketemu?'' tanya bapak penjual bubur.
''Sebenarnya Pinky nggak kenal sich pak? cuma dulu ketika masih viral dengan video bully pelayan itu adalah teman Pinky, jujur saja Pinky sakit hati ketika dia mengatakan teman aku sampah,'' cerita Pinky.
''Ya githu lah neng, makanya ketika kita berada di atas, kita harus bisa menahan terpaan angin yang berhembus,''
''Hayy cantik, kenapa sekarang kamu malah jualan kayak gini sich, kemana kesombongan kamu dulu?'' goda seorang laki-laki pada Kirana.
''Maaf aku nggak kenal sama kalian, dan tak ingin kenal juga sama kalian semua,'' ketus Kirana menghempaskan tangan laki-laki yang kini tengah mengoda nya.
__ADS_1