Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 166 Laki-laki tak tergantikan


__ADS_3

Sore hari nya Sania sudah bersiap siap untuk pergi bersama Bunda nya, Sania kini memakai baju gamis berwarna peace dengan hijab berwu hitam senada dengan kombinasi yang ada di gamis nya.


Setelah semuanya beres Sania tak lupa juga memasukkan obat obatan nya ke dalam tas nya juga, tiba-tiba ponsel nya berdering memperlihatkan nama sang Bunda di layar ponsel nya.


-''Assalamu'alaikum Bunda,'' jawab Sania lembut.


-''Waalaikum salam sayang? kamu sudah siap,'' tanya sang Bunda setelah menjawab salam dari puteri kecil nya.


-''Alhamdulillah Sania sudah siap, Bunda nggak mau masuk dulu ke apartemen Sania,'' tanya Sania ketika sang Bunda bertanya seperti itu dia nggak akan mampir ke dalam apartemen nya, apalagi apartemen jua ada di lantai atas.


''Bunda tunggu kamu di mobil saja ya, kamu turun saja kalau sudah siap?'' kata sang Bunda lagi dan mematikan ponsel nya.


Sania segera menyambar tas selempang nya yang akan ia selalu bawa kemana pun ia pergi, tak lupa juga Sania mengambil satu botol air mineral yang ada di atas meja, Sania tak pernah lupa selalu membawa air mineral disaat dia bepergian, entah kenapa dia selalu merasa haus di dalam perjalanan nya.


Sania masuk ke dalam lift dan menekan nomor 1, Sania menunggu lift nya sampai lantai dasar. Pintu lift terbuka dan Sania segera keluar dari dalam lift menuju mobil yang sudah menunggu nya di depan.


''Assalamu'alaikum Bunda?'' sapa Sania ketika membuka pintu mobil Bunda nya.


''Waalaikum salam sayang,'' jawab sang Bunda menyambut uluran tangan puteri nya.

__ADS_1


''Pak Udin sehat,'' tanya Sania kepada supir pribadi Bunda nya.


''Alhamdulillah sehat Nona?'' jawab nya sopan dan juga lembut.


''Alhamdulillah, Sania senang dengar nya kalau Pak Udin sehat,'' kata Sania lagi menyandarkan kepalanya ke pundak sang Bunda.


''Apa kamu sakit nak?'' tanya sang Bunda pelan seraya menyentuh dahi puteri nya.


''Sania sehat kok Bunda, Bunda jangan khawatir lagi ya sekarang, karena Mas Arlan selalu menjaga Sania dengan baik selama ini,'' sahutnya menepuk punggung tangan Bunda nya, agar sang Bunda tak lagi memikirkan kesehatan nya lagi.


''Oiya, kamu sudah minta ijin sama suami kamu sayang?'' tanya Bu Wati ketika mobil nya sudah mulai melaju dengan perlahan, sampai tiba di jalan beraspal dan Pak Udin pun menambah laju kendara'an nya, untuk bergabung dengan kendara'an yang lain.


''Sudah Bun, tapi sampai lupa juga sich nggak minta ijin, soalnya semalam aku ketiduran di mobil ketika pulang nya dari rumah Bunda,'' jawab Sania memperlihatkan deretan gigi putih nya.


''Sayang? kayak nya kamu mulai gemuk dech?!'' ledek nya yang sukses membuat Sania menggembung kan pipi nya.


''Masak iya sich Sania gemuk Bunda, kalau begitu Sania harus diet agar Mas Arlan tak pindah ke lain hati kalau aku gemuk,'' balas nya melihat seluruh tubuh nya.


''Nggak usah berdiet segala lah sayang, gemuk kamu sekarang seperti dirimu yang dulu, sebelum terkena penyakit, lagian suami mu tak kan mengijinkan kamu untuk diet juga kan?'' celetuk sang Bunda membuat Sania terkekeh geli.

__ADS_1


'Bagaimana dia bisa mengijinkan Sania diet Bunda, lawong Mas Arlan sendiri yang nyuguhi semua makanan kepada ku, kalaupun aku nggak mau makan sebanyak itu, pasti Mas Arlan akan menyuapi ku sampai semua makanan itu berpindah ke dalam perut ku,' Ucap Sania dalam hati seraya mengulas senyum di bibir manis nya.


Selama di perjalanan menuju pengajian yang di adakan oleh Ibu Ibu majlis, di dalam mobil di isi dengan percakapan dan ledekan dari Ibu dan anak, tanpa terasa Sania pun yang mengingat lantas bertanya kepada Bunda nya, apa masih jauh tempat yang harus mereka tempuh menuju tempat itu.


''Bunda, apa masih jauh?'' tanya Sania mendongak kan kepala nya, menatap wajah sang Bunda yang masih terlihat sangat cantik, ya Bunda ku memang tergolong wanita yang sangat setia kepada pasangan nya, kalian bisa lihat sendiri kan? walaupun Ayah sudah pergi sudah sangat lama, tapi Bunda ku belum mau dan juga tak mau mencari pengganti Ayah, sosok Ayah tak kan bisa tergantikan dengan sosok laki laki walaupun laki-laki itu lebih gagal ataupun lebih kaya dari Ayah, namun tak membuat hati Bunda berpindah ke lain hati, Bunda ku sosok Ibu yang patut di acungi jempol, beliau hanya ingin melihat semua anak anak nya bahagia dengan pasangan nya, aku ingin menjadi seperti Bunda, seorang wanita yang kuat untuk anak anak nya kelak.


''Sebentar lagi sampai kok Nona, masjid di depan juga sudah terlihat?'' Ucap Pak Udin menunjukkan masjid yang sudah terlihat kubah nya.


''Bukan nya Bunda bilang akan di adakan di rumah nya ya,'' tanya Sania lagi merubah posisi nya menjadi duduk.


''Rumah nya nggak muat menampung majlis kita sayang, dan di rumah nya juga ada semua saudara nya yang menginap di sana jadi dia memutuskan untuk di adakan di masjid dekat rumah nya saja,'' tetang Bu Wati kepada puteri nya, sedangkan tangan nya sudah membuka mobil untuk turun dan menghampiri semua teman teman majlis nya.


Bunda lebih senang berkumpul dengan Ibu Ibu majlis, dari pada kumpul dengan Ibu Ibu sosialita teman rekan bisnis nya kak Karan, pikir Sania.


Sania keluar dengan membawa botol minuman nya turun dari mobil, dia juga tak lupa membawa tas nya turun dan mengikuti langkah Bunda nya menuju masjid yang sudah banyak Ibu Ibu dan juga para wanita yang seumuran dengan Sania juga.


''Assalamu'alaikum,'' Bunda mengucapkan salam sebelum beliau dan aku masuk ke dalam masjid tersebut.


''Waalaikum salam, Bunda Wati bersama puteri kecil nya ya,'' jawab Ibu itu yang menurut ucapan Bunda nya.

__ADS_1


Sania hanya mengembangkan senyuman nya untuk menyapa semua Ibu Ibu tersebut. ''Iya Bunda Bunda, puteri saya yang kecil minta ikut berkumpul bersama Ibu Ibu di sini, setelah kemarin melihat ada yang seumuran dengan dia juga mengikuti acara ini,'' sahut Bunda dengan ramah dan juga sopan.


''Ayo masuk, jangan malu malu, anggap saja kita semua keluarga kamu ya nak?'' sambung wanita paruh baya yang menyapa Bunda, Ibu itu juga mengusap punggung ku pelan, mungkin mereka sudah tau tentang keada'an ku sekarang, dengan penyakit yang sudah parah namun saat ini sudah lebih baik dari kemarin kemarin nya, karena salah aku juga yang sudah bosan hidup dan lebih mengabaikan semua obat obatku. Namun semenjak kehadiran Mas Arlan yang menjelma sebagai suami ku, harapan ku kembali dan aku juga ingin sembuh dan memilih untuk lebih dekat lagi dengan sang Pencipta, agar aku bisa memahami hidup.


__ADS_2