
Mentari pagi mulai menampakan sebagian sinar nya, namun Karan masih bergelut dengan selimut nya.
Tepat jam 5:30 Sania mengetuk pintu kamar sang kakak, dia mencoba membangunkan kakak nya.
Tok... Tok... Tok.
''Kak, kak Karan? bangun sudah pagi nich,'' panggil Sania dari liat kamar kakak nya.
Sampai beberapa menit Sania berdiri di depan pintu kamar Karan kakak nya. Sania memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Karan.
''Ya Allah kak Karan? masih molor jam segini, ayo bangun kak, nanti telat lho ke sekolah nya,'' pekik Sania sembari menggoyang kan badan sang kakak.
''Eemmm...? apa sich dek, kakak masih ngantuk banget,'' jawabnya dengan suara serak khas bangun tidur nya.
''Kak Karan bangun? ini sudah jam 6 pagi lho,'' kata Sania duduk di tepi ranjang sang kakak.
Karan sendiri langsung bangun dari tidur nya, dan beranjak ke luar dari kamar nya menuju ke kamar mandi, ya karena kamar mandi di rumah kontrakan nya hanya ada satu, yakni di dekat dapur.
''Padahal masih ngantuk banget, tapi sudah pagi gini, cepat banget sich paginya,'' gumam Karan menuju ke kamar mandi.
''Baru bangun nak?'' tanya Bu Wati pada sang putera.
''Iya Bu, sebenarnya masih ngantuk, tapi mau bagaimana lagikan Karan mau sekolah,'' jawabnya melewati sang ibu yang sedang menyiapkan bekal makanan buat kedua anaknya, Karan dan Sania tidak pernah jajan di kantin sekolah, karena sang Ibu sudah membawakan di bekal dari rumahnya. Walaupun Bu Wati juga memberikan uang saku untuk keduanya, namun uang saku yang ia beri malah di tabung oleh kedua anaknya.
Bu Wati sangat bersyukur sekali, karena memiliki kedua anak yang bisa mengerti akan kehidupan nya selama ini.
''Setelah selesai pakai seragam, cepat kembali ke sini, sarapan dan bekal nya juga jangan sampai lupa,'' ucap Bu Wati pada Karan saat melewati nya yang kedua kalinya.
__ADS_1
''Iya Bu? Ibu mau berangkat sekarang ke pabrik nya,'' tanya Karan pada sang ibu yang sedang menyiapkan sarapan untuk nya dan juga adeknya.
''Iya, ibu harus berangkat pagi, karena kalau sampai jam 6:30 susah mendapatkan kendaraan ke arah pabrik,'' jawab Bu Wati tersenyum, Karan mengangguk dan pamit ke kamar nya guna memakai seragam sekolah, sekalian ambil tas sekolahnya di kamar, sedang Sania sang adek membersihkan rumahnya sebelum berangkat ke sekolah.
''Adek, Ibu berangkat sekarang ya, jangan lupa sarapan dan bekal nya di masukin ke dalam tas,'' pesan Bu Wati pada Sania yang membersihkan teras rumah kontrakan nya.
''Iya Bu? Ibu hati hati di jalan ya,'' jawab Sania mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan sang Ibu.
''Assalamu'alaikum,'' Ucap Bu Wati sebelum pergi dari rumahnya.
''Waalaikum salam,'' jawab Sania melambaikan tangan-nya pada sang Ibu yang membawa tas yang berisi bekal dan juga baju ganti.
Selesai dengan nyapu nya, Sania masuk ke dalam rumah guna menaruh sapu yang baru saja ia pakek di sudut rumah-nya.
''Kak Karan, ayo sarapan?'' ajak Sania ketika melihat sang kakak baru keluar dari kamarnya, dengan pakaian lengkapnya.
''Ibu baru saja berangkat kok kak, ya sudah kita sarapan habis itu langsung berangkat ke sekolah, hari ini kan upacara di sekolah, jadi Sania tak mau telat masuk sekolah kak,'' ajak Sania pada Karan, dan langsung mengambilkan nasi beserta lauk pauk yang berupa tempe goreng dan pepes ikan tongkol.
''Ayo kak, berdo'a dulu sebelum makam,'' Sania mengingat kan Karan kakak nya.
Karan dan Sania begitu lahap makan sarapan paginya yang hanya seadanya saja, namun terasa nikmat di makan bersama orang yang kita sayang.
''Ini bekal kak Karan, jangan sampai kelupaan ya,'' Ucap Sania memberikan bekal makanan kepada kakak nya.
''Iya, makasih dek? oia uang saku adek masih ada nggak?!'' tanya Karan menatap sang adek, Karan tau adek nya tak pernah jajan di kantin sekolah nya, walau hanya sekedar beli es teh saja.
''Masih ada kok kak, kak Karan simpan saja uangnya, kalau sewaktu-waktu butuh kan enak tinggal ambil.'' jawab Sania menghentikan kunyahan nya.
__ADS_1
'Maaf kak, bukan-nya Sania menolak pemberian kakak, tapi Ibu lebih membutuhkan itu semua kak, aku harap kelak aku juga bisa bantu kalian mencari pundi pundi rupiah, untuk kebutuhan kita sehari hari,' batin Sania yang masih menatap Karan kakak nya.
''Ayo berangkat dek, kalau suatu saat kakak ada rezeki, kakak bakalan beli sepeda seperti di kampung dulu, pergi ke sekolah dengan menggunakan sepeda,'' Ujar Karan sembari mengunci pintu rumah kontrakan nya.
''Wah asik thu kak, semoga rezeki kak Karan selalu di beri kelancaran oleh Allah ya kak?'' jawab Sania dengan senang nya.
''Iya dek, Amiin?''
''Adek nggak malu kan? pergi ke sekolah dengan naik sepeda,'' tanya Karan sedih menatap Sania adek nya yang di tinggal pergi sang Ayah masih berusia 3 tahun.
''Nggak lah kak, kenapa Sania harus sedih, toh itu semua hasil kerja keras kak Karan?'' tutur Sania tersenyum. 'Makasih ya Allah, engkau memberikan Sania seorang kakak yang sangat baik pada Sania, dia begitu baik pada Sania selama ini, walau Sania tidak memiliki Ayah, tapi Sania bahagia bisa memiliki seorang kakak seperti kak Karan, yang selalu menjaga ku di saat kesibukan nya. Berilah dia sebuah kebahagia'an,' batin Sania yang terus melangkah menuju ke sekolah nya.
Di jalan dekat sekolah nya, Karan dan Sania bercanda ria dalam langkahnya menuju ke sekolah nya yang lumayan jauh dari rumah kontrakan nya.
''Pa? itu Karan dan adek nya,'' Ucap Andriana menunjuk ke arah Karan dan juga Sania yang sedang bercanda ria.
''Emang setiap harinya, mereka pergi ke sekolah dengan berjalan kaki seperti itu,'' tanya Mas Arzan pada puteri nya, yang kebetulan duduk di samping nya.
''Adek nggak tau pasti Pa, kan adek nggak pernah melihat mereka sebelum nya,'' sahut nya dan menatap ke arah Karan dan Sania yang mulai memasuki gerbang sekolah nya.
''Alhamdulillah ya dek, kita nggak telat.'' kata Karan ketika sudah berada di halaman sekolah nya.
''Iya kak, alhamdulillah sekali ya,'' sahut Sania senang. Mereka berdua berjalan menuju ke kelasnya masing-masing, Karan memasuki kelas 9-A, sedang Sania masuk ke kelas 7-B.
''Ya sudah, kakak sama adek masuk dulu ya Pa,'' pamit keduanya mengulur kan tangan dan mencium punggung tangan Mas Arzan sang Papa.
BERSMBUNG
__ADS_1