
Masih di acara pernikahan kak Karan, aku melirik ke kanan dan ke kiri, semua orang sedang menikmati hidangan yang tersedia di rumah, tepatnya di halaman depan rumah yang di jadikan tempat mewah untuk menggelar acara sakral tersebut.
''Kamu nggak makan?'' tanya kak Rian yang tengah mengunyah kue bronis kesukaan nya.
''Sania nggak nafsu makan kak? Sania cuma mau buru buru ke kamar saja, rasanya kepala Sania mau pecah gara-gara sanggul preketek ini,'' jawab ku asal, yang menimbulkan kekehan dari keluarga besar ku, yang kebetulan berada di belakang ku.
''Lagian sok so'an pakek sanggul? ribet kan lho,'' ledek paman Sam yang tengah menikmati makanan nya.
''Ini nich paman, tadinya Sania sudah nggak mau di pakein sanggul, tapi karena bujukan maut nya kak Riana aku malah mengiyakan nya,'' celoteh ku yang sukses membuat kak Riana menoleh ke arah ku dan melotot, seakan-akan bola matanya mau keluar dari tempat nya.
''Tu kan? malah melotot kayak gitu paman,'' tambah ku, lalu aku berjalan menghampiri Ibu dan juga kak Karan, aku sengaja menghampiri untuk kembali ke kamar, karena sakit kepalaku sudah tak ter tahan lagi.
''Ibu, kak Karan dan juga kak Pinky? Sania ke kamar dulu ya, kayaknya Sania nggak enak badan lagi dech?'' ucap ku pada mereka bertiga.
''Kamu nggak apa apa kan sayang,'' tanya Ibu memegang kedua pipiku.
''Adik, mau kakak antar ke kamar, kakak takut kamu kenapa napa di tangga,'' sela kak Karan, yang di angguki kak Pinky.
''Nggak usah kak? kak Pinky lebih butuh kakak sekarang, masak ia mempelai wanita duduk sendirian di pelaminan nya,'' balas ku di ikuti kekehan kecil.
''Ya sudah, maafin Sania nggak bisa nemenin kalian di sini, aku ke atas dulu,'' lanjut ku mulai melangkahkan kaki ke dalam rumah, aku menahan sakit sambil berjalan tertatih tatih menaiki anak tangga, sedangkan air mataku sudah membanjir di kedua pipiku saat ini. Ya, aku sakit karena melihat kak Arlan datang ke pernikahan kak Karan namun tak mau menyapaku, kepalaku semakin sakit kalau aku memikirkan dan mencoba memeras otak.
__ADS_1
''Maafkan Sania Bu, Sania harap kalian semua bahagia walau tanpa adanya Sania di sisi kalian semua,'' Gumamku pelan, dan masuk ke dalam kamar tak lupa juga, aku swngaja mengunci kamar ku karena aku tak mau di ganggu sama yang lain, biarlah acara itu berlangsung tanpa ada aku di tengah tengah mereka.
Aku kembali membuka laci dan mengambil obat yang aku sengaja di letakkan di sana dengan kunci yang aku kaitkan di kalung ku, agar tak ada orang yang masuk ke dalam tanpa sepengetahuan ku.
Aku menelan begitu saja obat obat itu tanpa menggunakan air, karena air di dalam kamarku habis dan aku juga malas untuk turun kembali. Aku membaringkan tubuhku di atas ranjang, tanpa menghapus make up terlebih dulu, aku meraba hidung ku yang terasa mengeluarkan sesuatu, sungguh kaget ketika aku melihat ada darah yang keluar melalui hidung, sedangkan pandangan ku kini mulai kabur dan tanpa sadar aku pingsan kembali.
Di luar rumah tengah ramai dengan obrolan obrolan dari keluarga besar yang semuanya datang dari berbagai kota, untuk mengikuti acara penting kak Karan, kak Arlan terlihat menghampiri kak Karan dan juga kak Pinky, dia bertanya tentang ku oada kak Karan.
''Sania kemana karan? kok dia nggak ada di sini,'' tanya nya penasaran.
''Och adik kembali ke kamarnya, dia bilang sedang nggak enak badan, mungkin karena kemarin kemarin nya dia begadang mengurus restoran yang di tinggal kamu pergi Arlan,''
''Sania nggak bolehin aku mencari pengganti kamu, dia bilang sanggup untuk mengatur semuanya urusan restoran?''
''Maaf Karan, karena aku nggak bisa lagi bekerja di sana, aku sibuk dengan pekerjaan ku di kampung sekalian jagain Ibu juga di sana, beliau semakin sepuh jadi aku tak tega meninggalkan dia di sana hanya bersama Ayah saja,'' Ujar kak Arlan panjang lebar, mungkin itu adalah alasan yang terbaik untuk mengecoh keluarga ku, tapi tidak dengan ku, kak Arlan pergi karena menghindari ku.
''Lebih baik kamu cari penggantiku saja Karan, kasian adik kamu harus bekerja keras di restoran itu sendirian,''
''Ya nanti aku akan tanyakan dulu sama adek, aku takut dia salah paham kalau aku langsung menaruh orang di restoran itu.''
''Emang sakit apa Sania, soalnya kemarin aku lihat dia dirumah sakit, wajah nya juga pucat, ketika aku tanyain sedang apa, dia bilang jenguk teman nya.'' sela kak Arlan memberitahu kak Karan yang bertemu dengan ku dirumah sakit.
__ADS_1
''Masak sich, bukan nya kemarin dia bilang mau ke Mall bersama Andrian dan juga Andriana,'' jawab kak Karan melirik kak Pinky yang ada di samping nya.
Kak Pinky melambaikan tangan nya pada kak Riana yang sedang menatap nya. Kak Riana menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuknya, kak Pinky mengangguk dan kak Riana pun menghampiri kak Karan dan kak Pinky di depan.
''Riana, kemarin kamu sama Sania pergi ke Mall apa ke rumah sakit?'' tanya kak Karan tanpa basa basi lagi.
''Iya, kami bertiga pergi ke Mall, tapi setelah lama berputar putar di Mall, kami terpisah dengan Sania, dia bilang ingin makan di cafe seberang, tapi kami cari di sana dia sudah tidak terlihat di cafe itu, emangnya kenapa kak? kok kak Karan malah bertanya kalau Sania pergi ke rumah sakit, emangnya dia sakit,'' jawab kak Riana, lantas dia balik mencecar beberapa pertanyaan kepada kak Karan.
''Entahlah, Arlan bilang bertemu dengan Sania dirumah sakit,'' jawab nya.
''Sudah lah Mas? kita do'a kan saja kalau Sania tidak apa apa ya, kamu jangan terlalu keras sama dia mulai dari sekarang, biarlah dia mencari jalan hidup nya sendiri, kebahagiaan dia kebahagiaan kita juga kan?'' Ucap kak Pinky menepuk pelan punggung tangan kak Karan yang kini sudah sah menjadi suaminya tersebut.
''Iya sayang? tapi aku takut dia kenapa napa, karena akhir akhir ini kesehatan nya menurun begitu saja,''
''Kita berpikir yang positif saja kak, mungkin Sania di rumah sakit menjenguk teman nya yang sedang sakit.'' Ucap kak Riana yang di benarkan oleh kak Pinky, namun kak Karan terlihat bingung dan khawatir dengan kesehatan ku.
''Apa mungkin Sania menyembunyikan sesuatu dari ku, tidak seperti biasanya dia terlihat murung dan sedih begitu, semoga saja di tidak apa apa Tuhan,'' Gumam kak Karan dengan nada lirih.
Aku sudah tertidur pulas sampai matahari tenggelam di ufuk barat, pertanda petang akan segera datang, namun kamar ku masih tetap saja terkunci dari dalam. Semua keluargaku hanya membiarkanku untuk beristirahat total.
Aku terbangun disaat mendengar sayup sayup adzan maghrib mendayu dayu dengan merdu di seluruh masjid masjid dan juga di musholla, mengajak semua orang untuk segera melaksanakan kewajibannya yakni sholat.
__ADS_1