
Selesai sholat maghrib berjama'ah, Sania dan juga Arlan berpamitan untuk pulang ke apartemen nya.
''Emang nya kalian nggak akan menginap di sini malam ini?'' tanya Bu Wati lembut.
''Bunda, besok Sania kan kesini lagi? tapi sebenarnya Sania juga ingin bekerja di perusaha'an kakak,'' Ujar nya sedikit merengek kepada sang Bunda.
''Sayang? kamu kan sudah tau kalau kamu tidak boleh terlalu capek, jadi untuk apa lagi bekerja di sana sich. Kan mas sudah bekerja di sana,'' tukas Arlan menatap wajah sendu istri nya.
''Tapi Sania ingin bekerja juga mas, lagian kan kalau Sania juga bekerja di sana Mas Arlan tak perlu jemput Sania jauh jauh ke sini, lagian kantor dan apartemen itu kan se arah, namun kalau kesini Mas Arlan harus putar balik lagi karena jemput Sania dirumah Bunda,'' sahut nya tak enak hati kepada sang suami yang berada di depan nya.
''Sudah lah, jangan di pikirkan lagi? Mas juga nggak keberatan kok kalau harus kesini tiap hari untuk antar dan jemput kamu, apa salah nya sich kamu diam di rumah bersama Bunda di sini,'' gumam Arlan mengusap punggung istri kecil nya.
''Sudah, turuti saja apa yang di katakan suami kamu itu nak? dia saja tidak keberatan untuk ngantar dan jemput kamu, lagian kamu juga baru pulih harus nya kamu ikuti perkata'an suami kamu ini, suami kamu ngomong seperti itu dia thu sebenarnya sayang banget sama kamu, dia tak ingin kamu kembali terbaring di rumah sakit seperti sebelum seblum nya, mungkin yang ada di pikiran suami kamu sekarang adalah melihat kamu yang sehat dan tersenyum kepada nya, sudah membuat rasa lelah nya hilang seketika,'' ungkap Bu Wati menjelaskan ucapan dari menantu nya, Bu Wati sendiri sangat bersyukur sekali puteri kecil nya menemukan jodoh yang begitu sayang kepada nya, dia juga tak peduli dengan penyakit yang Sania derita saat ini.
''Ya sudah kalian hati hati di jalan, ingat jangan pernah sekali kali kalian bertengkar dengan pasangan kalian masing-masing, karena malaikat tak akan pernah mau memasuki rumah atau tempat tinggal yang di huni oleh orang orang sering bertengkar dengan pasangan nya, lebih baik kalian bicara dari hati kehati dari pada harus bertengkar,'' pesan Bu Wati kepada semua anak anak nya, di mana di sana memang ada Pinky, Karan, Sania dan juga Arlan menantu laki-laki nya.
''Insya Allah pesan Bunda akan kami ingat sampai kapan pun, jadi Bunda jangan khawatir kalau aku akan bertengkar sama puteri kecil Bunda ini,'' sahut Arlan mengulas senyum di bibir nya. ''Bagaimana mungkin aku bisa bertengkar sama puteri Bunda, Arlan saja sangat sayang sama dia,'' tambah Arlan mencium pipi Sania istri kecil nya.
Sania jangan di tanya lagi, dia sudah cemberut dengan perlakuan suami tampan nya ini, karena dia sudah sangat berani mencium nya di depan kakak serta di depan Bunda nya.
''Malu ach?'' bisik Sania seraya mencubit perut Arlan dengan pelan.
''Aduch,'' Arlan mengaduh pura-pura kesakitan, karena cubitan dari istri kecil nya.
''Apa'an sich, lebay??'' tukas Sania menepuk pelan lengan suami nya, lalu Sania menghampiri Bunda nya dan mencium punggung tangan Ibunda nya, begitu juga dengan Arlan melakukan yang sama kepada mertua dan juga kakak ipar nya.
__ADS_1
Sania melambaikan tangan nya ketika mobil sudah melaju dan bergabung dengan mobil mobil lain nya, selama di perjalanan pulang ke apartemen Sania memilih bungkam, tak ada percakay sama sekali, sedangkan tatapan nya menoleh ke arah jendela mobil nya, Arlan kira istri kecil nya ngambek karena tidak di perboleh kan bekerja di perusaha'an Karan kakak nya. Namun Arlan sangat kaget ketika melihat istri kecil nya tidur dengan kepala nya yang menyender di jendela mobil nya. Arlan menghentikan mobil nya dan membenarkan posisi tidur istri kecil nya.
Mungkin dia lelah beraktivitas di rumah mertuanya, pikir Arlan.
Padahal Sania hanya duduk dan makan saja di rumah nya, setelah itu dia tidur lalu makan lagi seperti itu sampai akhirnya suami tercinta nya menjemput dia rumah Bunda nya.
Arlan mengulas senyum karena melihat istri nya selalu patuh dengan nasehat Bunda nya, ya walaupun kadang Arlan merasa sangat tega kepada istri nya? karena perminta'an tidak bisa ia selalu di turuti, namun berkat pengertian Bunda nya istri nya bisa memahami apa yang di ucapkan suami nya adalah semata-mata demi kesehatan nya dia saja.
Setelah merubah posisi tidur istri nya, Arlan kembali melakukan mobil nya dengan kecepatan sedang menuju ke apartemen nya, tak lupa juga Arlan membeli makanan di warung depan tanpa mau meninggal kan istri kecil nya, ya beruntung nya warung yang di datangi Arlan dekat dengan jalan raya, Arlan tinggal memanggil orang yang punya warung dan memberikan uang nya.
...****************...
Biasa nya Sania Adzan subuh hanya membangunkan suami nya saja untuk melakukan kewajiban nya, tapi berbeda dengan hari ini, Sania sudah selesai mandi dan sudah memakai kukenah nya lengkap dengan sajadah yang sudah ia gelar di atas karpet.
Arlan yang merasantidur nya terganggu mencoba membuka matanya, lalu mengerjap ngerjab kan mata nya karena silau dengan cahaya lampu di kamar nya yang begitu terang.
''Ada apa sayang?'' tanya Arlan masih belum sadar sempurna dari alam bawah sadar nya.
''Sholat dulu yuck, ini sudah Adzan subuh?'' ajak Sania berdiri di samping tempat tidur nya.
''Iya, sebentar lagi dech? lima menit lagi ya,'' kata Arlan memejamkan kembali mata nya yang masih sangat berat.
''Kalau gitu Sania sholat dulu saja dech?'' Ujar nya santai, Arlan yang mendengar kata sholat dulu saja langu membelalakkan mata nya, menatap ke arah istri nya yang sudah memakai mukenah.
''Tunggu sayang? tunggu Mas, kita shio berjama'ah saja,'' sela Sania yang sudah berdiri di atas sajadah nya dan ingin memulai sholat nya sendiri.
__ADS_1
''Katanya masih ngantuk, tidur lagi saja Sania sholat dulu setelah itu Sania akan pergi ke dapur untuk memasak,'' Ucap Sania seraya mengulum bibir nya, melihat wajah bantal suami nya.
''Sebentar saja kok sayang, nggak akan lama di dalam kamar mandi,'' sahut nya dan beranjak dari tempat tidur nya, berlari menuju ke kamar mandi nya untuk mengambil wudhu, kalau dia harus membersihkan tubuh nya dulu istri nya bakalan lama menunggu nya.
''Kok nggak mandi dulu, cuma ambil wudhu doang?'' kata Sania ketika melihat suami nya yang sudah keluar dari kamar mandi.
''Kita sholat subuh dulu, setelah itu terserah mau debat apa saja aku ikhlas?'' balas Arlan yang tau istri kecil nya akan mengomeli diri nya.
Akhirnya mereka berdua melakukan sholat subuh secara berjama'ah dan tak lupa berdo'a, bermunajat kepada Allah SWT untuk kebahagia'an rumah tangga nya, dan selalu di berikan kesehatan kepada istri dan juga diri nya sendiri.
Sania yang sudah selesai berdo'a segera mencium punggung tangan suami nya yang sudah terulur di depan nya.
''Sayang sudah suci, kok nggak bilang bilang Mas sich?'' tanya Arlan yang penasaran.
''Baru suci kok Mas Arlan? Mas Arlan tidur nya pulas banget, Sania sebenarnya tidak tega untuk membangun kan Mas, tapi karena itu kewajiban kita sebagai Umat muslim, jadi dengan teganya Sania menbangunkan Mas Arlan?'' jawab nya panjang lebar, seraya mengulas senyum di bibir nya.
''Jadi--,'' Arlan tak meneruskan ucapan nya.
''Kenapa Mas?'' tanya Sania yang kini sudah mendekat di samping suami nya.
''Jadi-- kita boleh melakukan nya sekarang?'' tanya Arlan takut takut.
''Mas Arlan harus ke kantor hari ini?'' jawab Sania lirih, sebenarnya Sania tak tega selalu menolak keinginan suami nya, tapi pagi ini dia harus pergi ke kantor untuk bekerja.
''Hanya sebentar saja sayang?'' jawab Arlan dengan mata sayu nya. Sania pun mengangguk pelan untuk memenuhi kebutuhan suami nya.
__ADS_1