
Pagi harinya Pak Candra menuruni tangga dengan tergesa-gesa, dia melewati meja makan yang di sana sudah pada berkumpul untuk segera sarapan di pagi hari.
''Candra??'' panggil sang Mama.
''Maaf Ma, Candra buru buru,'' sahutnya tanpa menoleh pada sang Mama.
''Candra!! kamu yang sopan kalau ngomong sama orang tua,'' Ucap Pak Sanjaya dengan lantangnya.
''Candra nggak mau berdebat Pa, Candra harus pergi sekarang?!'' sahutnya melangkah pergi menuju ke mobil nya yang sudah terparkir rapi di halaman rumah nya.
''Dasar! anak nggak tau di untung,'' sarkas Pak Sanjaya dengan menggebrak meja makan nya, dan meninggalkan istri beserta kedua puterinya.
Bu Heny ingin mengejar Pak Sanjaya ke kamar nya, namun Cinta anak kedua nya menghentikan langkah sang Mama.
Cinta menggeleng pelan, ''Sudah Ma? biarin Papa sendiri dulu,'' Ucapnya memegang tangan Mama nya yang ingin beranjak pergi.
''Iya Ma, Papa dan kak Candra emang sama-sama keras kepala,'' timpal Citra puteri ketiga nya.
Sedangkan Pak Candra melajukan mobilnya menuju ke kantor Sanjaya Grub dengan kecepatan di atas rata rata, sudah beberapa lampu merah ia terobos karena saking kesalnya dengan Pak Sanjaya sang Papa, yang notabene nya keras dan tak mau mengalah, beliau melakukan berbagai macam cara agar Candra putera nya menjauhi gadis kampung yang bernama Wita.
Seperti sekarang ini, Pak Sanjaya menyuruh orang untuk mendatangi rumah Wita di desa, mereka disuruh melukai orang tua Wita, sebagai peringatan kecilnya kalau semua ancamannya itu benar adanya.
Pak Yusuf yang baru saja naik dari ladang nya, sengaja mampir di aliran sungai kecil yang biasa ia lewati setiap harinya. Dan tanpa ia sadari sudah ada dua orang yang sedang menunggu diberi jalan yang tak terlalu luas.
Saat Pak Yusuf berjalan di tepi jalan kemudian dua orang itu langsung tancap gas dengan motor nya, dua orang suruhan Pak Sanjaya langsung menendang Pak Yusuf ketika mereka mulai berdekatan.
''Byuuurr'' Pak Yusuf terlempar ke dalam sungai yang tak terlalu dalam, hanya saja kepalanya terbentur ke batu yang ada di sungai tersebut.
Orang yang kebetulan melihat kejadian tersebut segera menghampiri Pak Yusuf di dalam sungai, darah segar mengalir dari kakinya yang tak sengaja terkena clurit yang ia pegang tadi.
__ADS_1
Sedangkan kedua orang itu sudah kabur entah kemana.
''Pak Yusuf, nggak apa apa kan?'' tanya orang yang menghampiri nya.
''Aku nggak apa apa Pak, tolong bawa saya ke rumah,'' jawab Pak Yusuf sembari menahan sakit di kakinya.
''Kita ke Klinik saja dulu Pak? kaki Bapak terluka,'' Ucap Pak Kasim yang sedang merangkul Pak Yusuf.
''Nggak apa apa Pak, aku nggak mau merepotkan Bapak dan juga orang rumah,'' sahutnya pelan, sedangkan darahnya terus saja mengalir dari kakinya.
Setibanya di depan rumah, Pak Kasim berteriak memanggil Wati yang kebetulan sedang ada di dalam, sedangkan sang ibu masih belum pulang dari rumah majikan nya.
''Ada apa Pak Kasim,'' tanya Bu Wati setelah membuka pintu rumah nya, matanya langsung melotot ketika melihat Bapak nya di rangkul oleh Pak Kasim tetangga nya.
''Bapak kenapa Pak Kasim,'' tanya Bu wati menghampiri Bapak nya dan mendudukkan di kursi yang terletak di teras rumah nya.
''Di tendang?'' tanya Wati kaget.
Pak Kasim mengangguk, ''Sudah aku pamit pulang dulu ya nak Wati,'' pamit Pak Kasim pada Wati ibunya Karan.
Bu Wati membersihkan luka Bapak nya dan mengolesi salep agar lukanya cepat kering. Bu Wati berpikir keras kalau kalau Bapak nya punya musuh.
''Selama ini Bapak tak punya musuh, semua nya baik pada Bapak?'' Gumamnya di dalam kamar.
''Jangan jangan, ini semua ulah Pak Sanjaya,'' tebak Bu Wati yang langsung mengingat ancamannya beberapa hari lalu.
Dengan segera Bu Wati meraih ponsel jadulnya di atas meja, dia mengetik nomer Pak Candra, panggilan pun tersambung.
Tut...tut...tut.
__ADS_1
Di kantor Pak Candra sedang sibuk dengan berkas berkas yang harus ia periksa dan ia tanda tangani, sejenak ia melihat ponselnya yang sedang bergetar, terlihat jelas nama Id pemanggil.
Pak Candra mengulas senyum melihat orang yang menelfon nya.
-''Halo,'' Ucap Pak Candra setelah menggeser layar ponselnya.
-''Ya, hallo juga, tho the poin saja,'' sarkas Bu Wati di seberang telfon.
-''Terima kasih sudah membuat Bapak saya celaka. Oia, tolong bilang pada Pak Sanjaya agar tidak terlalu sombong dan memandang rendah orang lain,'' Ucapnya yang membuat Pak Candra membulat kan matanya seketika, waktu Bu Wati berkata terima kasih tadi.
-''Maksud kamu apa, aku tidak mengerti dari perkataan mua,'' sahut Pak Candra yang mulai berdiri dari kursi kebesaran nya.
-''Bapakku di celakai orang suruhan Pak Sanjaya, dan aku harap kamu tak menemui ku lagi, yang membuat keluarga ku terancam,'' ketus Bu Wati mematikan telfon nya secay sepihak.
''Papa...!!!'' Geram Pak Candra nyadan bergegas pergi menuju keluar ruangan nya.
''Pak, rapat akan segera di mulai,'' kata sang sekretaris yang kebetulan bertemu di luar ruangan Pak Candra.
''Batalkan semua rapat dan juga meeting hari ini,'' Ucap Pak Candra dingin sembari melangkah pergi menuju lift khusus untuk sang direktur.
Setiba di parkiran, Pak Candra menggenggam erat kemudi nya, lantas ia melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi, dia tak menghiraukan bunyi klakson dari mobil mobil lain yang ia salip dari tadi.
''Sudah cukup! Papa mencampuri urusanku dengan keluarga Wita?!'' teriak Pak Candra yang menghentikan mobil nya di pinggir jangan, dia memukul kemudi nya dengan tangan nya saking kesal pada sang Papa. Pak Candra mengatur nafasnya yang sedang naik naik turun karena di saat ini sedang emosi.
Di sisi lain tepatnya di rumah besar Pak Sanjaya sedang bersitegang dengan anak keduanya, karena Citra adik Pak Candra membela sang kakak, Citra mendengar omongan Papa nya di ruang kerjanya, Citra yang tak sengaja mendengar sekilas obrolan sang Papa di ruang kerjanya dengan orang yang tak tau siapa, yang jelas Citra mendengar kalau Papa nya menyuruh orang untuk mencelakai orang tua Wita di kampung.
''Kerja bagus, bagaimanapun juga aku sudah memperingatkan orang itu untuk menjauhkan anak-nya dengan Candra, namun dia tidak mau mendengar kan aku,'' ucapnya melalui sambungan telfon nya. Citra yang mendengar lantas naik darah dengan kelakuan sang Papa nya.
BERSAMBUNG
__ADS_1