Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 165 Kasih seorang kakak


__ADS_3

Arlan membawa istri kecil nya ke atas ranjang setelah dia membuka mukenah istri kecil nya.


''Mas- apa ini akan sa-kit?'' tanya Sania dengan gugup.


''Aku akan melakukan nya dengan pelan sayang?'' bisik Arlan yang sudah mulai di selimuti nafsu, Sania hanya mengangguk pelan.


Arlan memulai nya dengan mencium kedua kelopak mata istri kecil nya, berpindah ke hidung dan juga bibir merah muda nya, dengan sangat hati hati Arlan melakukan penytuan tubuh nya dengan Sania istri kecil nya, namun tetap saja Sania menjerit kesakitan ketika benda tumpul milik Arlan sudah menerobos masuk ke dalam.


Sania mencengkeram pundak suami nya, dan Arlan juga menutup bibir istri kecil nya dengan bibir milik nya.


''Mas,'' suara lirih Sania membuat Arlan menghentikan sejenak pergumulan mereka berdua.


''Nggak apa apa kok, Mas akan lebih pelan lagi, atau kita jangan meneruskan hal ini,'' sahut Arlan memilih diam sejenak.


''Jangan Mas, Sania nggak apa apa kok?'' balas Sania dengan gelengan, karena Sania tak mau membuat kecewa suami jua seperti tempo hari lalu.


Cukup lama mereka berdua melakukan kewajiban sebagai pasangan suami istri yang sah dan juga halal, sampai akhirnya Arlan mencapai puncak nya, dia sengaja menyembur kan milik nya ke dalam rahim istri nya.


Arlan melihat wajah lelah istri kecil nya tepat di jam 7 pagi, otomatis dia nggak mau meninggalkan istri kecil nya begitu saja.


''Sudah, Mas Arlan sebaiknya pergi ke kantor sekarang, nggak enak juga sama kak Karan? masak ia harus minta ijin lagi sich,'' Ucap Sania tlirih, Sania tau kalau suaminya tidak mau pergi meninggalkan dirinya dalam keadaan seperti ini.


''Tapi Mas nggak mau ninggalin kamu sendirian di sini sayang?'' jawab nya dengan nada bersalah nya, karena melihat pucat istri kecil nya.


''Sania akan beristirahat seharian ini, jadi Mas Arlan nggak usah khawatir lagi ya,'' gumam Sania sedikit membujuk suami nya agar segera pergi ke kantor nya, dia tidak mau merasa bersalah apalagi dia juga merasa nggak enak dengan kakak nya, yang tiba-tiba suami nya meminta izin hanya gara-gara masalah pagi ini, pikir Sania.


''Beneran kamu nggak apa apa sayang? Mas khawatir sama kamu, wajahmu pucat seperti itu,'' jawab Arlan dengan nada sedih nya. ''Maafkan aku sayang?'' lirih nya dan mengecup puncak kepala istri kecil nya yang kelelahan karena ulah nya.


Sania mengangguk pelan seraya mengembangkan senyuman nya, agar istri nya tak lagi khawatir. ''Mas Arlan lebih baik mandi setelah itu pergi ke kantor sekarang,'' pintanya sedikit memelas.


''Kalau gitu Mas mandi dulu sebentar, setelah itu Mas akan siapin kamu sarapan?'' Ucap Arlan lembut dan mencium kening istri nya.


Sania hanya mengangguk pelan, rasa lelah dan juga sakit di **** ***** nya sungguh menyiksa nya saat ini, hanya membutuhkan waktu lima menit Arlan menyelesaikan ritual mandi nya, di saat Arlan keluar dari kamar mandi, dia melihat istri nya tengah menuruni tempat tidur nya dengan rasa sakit yang biasa tahan.


''Sayang, kamu mau kemana? lebih baik kamu tiduran dulu saja,'' kata Arlan uang buru buru menghampiri istri kecil nya.

__ADS_1


''Sania harus mandi Mas, semua badan ku lengket dengan keringat,'' keluh Sania menatap wajah suami nya yang sengaja menahan agar dirinya tidak turun dari tempat tidur nya.


Sania masih terus turun dan meringis kesakitan ketika melangkah kan kakinya. ''Apa ada yang sakit?'' tanya Arlan yang tiba-tiba pandangan menatap ke arah istri nyanyangntengah mentingin kesakitan.


Sania menggeleng pelan, dan membungkus tubuh nya dengan selimut, Sania terus saja melangkah menguatkan dirinya untuk menahan rasa skit di **** ***** nya, agar suami tampan nya tidak terlalu menghawatirkan nya.


Tubuh Sania hilang setelah pintu kamar mandi ditutup oleh empu nya. Arlan terbelalak kaget ketika melihat sprei nya yang ada noda darah nya. Namun Arlan mengulas senyum bahagia ketika melihat hal semacam itu.


''Ternyata aku yang mengambil keperawan mu sayang,'' gumam nya bangga. Dengan segera Arlan memakai baju nya dan menganti sprei nya agar tidak di ketahui istri nya, yang akan membuat malu dirinya.


Setelah itu Arlan berjalan menuju ke dapur untuk membuatkan sarapan untuk nya dan juga istri nya.


''Aku sungguh sangat keterlaluan pada istri ku sendiri, tapi mau bagaimana lagi akun sudah tidak bisa menahan hasrat yang sudah lama aku tahan selama ini,'' gumam nya dan mengulas senyum manis di bibir nya.


Arlan membawa sarapan nya ke dalam kamar, agar Sania tidak terlalu banyak bergerak.


''Kenapa makanan nya di bawa ke sini Mas,'' tanya Sania dengan suara lembut nya.


''Biar kamu tidak terlalu banyak bergerak sayang, pasti masih kesakitan kan?'' tanya Arlan membuat pipi Sania bersemu merah.


''Kalau gitu Mas, akan pergi ke kantor sekarang, jangan lupa obatnya di minum ya sayang? agar kamu kembali sehat lagi dan kita akan pergi keliling Jakarta,'' kata Arlan yang di tanggapi dengan kekehan oleh Sania.


''Sudah ach kamu berangkat saja ke kantor sekarang, nanti telat lagi,'' usir Sania seraya mendoronh pelan tubuh suami nya agar pergi dari hadapan nya.


''Oiya Mas? nanti sore Sania akan ikut Bunda boleh ya,'' kata Sania setelah mengingat kalau dirinya punya janji dengan Bunda nya nanti sore.


Arlan menghentikan langkah dan menatap ke arah istri kecil nya, ''Pergi sama Bunda? kemana,'' tanya Arlan lembut, dan berjalan menghampiri istri nya.


''Mulai nanti sore Sania akan ikut ngumpul bersama Ibu Ibu majlis Mas, bolehkan? maaf semalam Sania lupa bilang ke Mas Arlan, Mas Arlan nggak marah kan sama Sania,'' jawab nya lirih, Sania menundukkan kepalanya sambil menautkan jari jari nya karena takut suami nya tidak mengizinkan dian pergi nanti sore.


''Boleh kok sayang, dan Mas juga nggak marah kok, kamu jangan seperti itu ding? seakan-akan Mas nggak akan ngasih ijin kamu pergi saja, tapi pesan Mas yang harus kamu selalu ingat, harus selalu minum obat kamu karena Mas nggak mau kamu sakit lagi,'' pesan nya dan mencium bibir Sania yang kini sedang menjadi candu nya.


''Terima kasih Mas?'' Ucap Sania memeluk Arlan dan mencium bau harum suami nya. ''Mas Arlan boleh pergi sekarang, Sania juga nanti Bunda yang menjemput ke sini,'' tambah Sania membuat Arlan mengangguk dan mengulas senyum nya.


Di dalam dalam lift Arlan tak henti henti nya mengulas senyum di bibir manis nya, mengingat dia sudah menggauli istri kecil nya, yang mungkin saja ini akan menjadi agenda penting nya mulai dari sekarang.

__ADS_1


...****************...


Di perusaha'an CG grub Karan tengah kesal karena keterlambatan Arlan yang tak lain adalah adik ipar nya.


''Bagaimana, apakah ada tanda tanda Arlan datang!'' tanya Karan dengan nada dingin nya.


''Tuan Arlan sudah ada di lobby bos, mungkin sebentar lagi dia akan sampai di sini?'' jawab asisten pribadi Karan.


''Kalau gitu keluar lah, kalau bertemu dengan Arlan suruh cepat ke ruangan ku sekarang juga?'' Ucap nya lagi datar.


''Baik bos, saya permisi,'' pamit asisten Karan.


Sepeninggal asisten pribadinya Karan bergumam, ''Ngapain saja Arlan sampai jam segini baru datang ke kantor nya,''


Tok tok tok


Pintu di ketuk dari luar, ''Masuk!'' seru Karan yang sudah tau kalau dia adalah adik ipar nya.


''Kamu memanggilku?'' tanya Arlan mendudukkan diri di kursi tepat di depan kakak ipar nya.


''Aku hanya nggak habis pikir saja sama kamu Arlan, ngapain saja kamu di apartemen sampai sampai berangkat ke kantor saja jam 8 baru sampai!'' ucap Karan dengan kesal dan sedikit meninggikan suara nya.


''Ya maaf Karan, tadi aku masih membuat sarapan untuk ku dan juga Sania, tadinya aku nggak ingin berangkat ke kantor, tapi Sania selalu mengusir ku untuk segera berangkat ke kantor?'' jawab Arlan dengan santai nya, seakan dia tidak merasa bersalah kepda kakak ipar nya.


''Emangnya Sania kenapa?'' tanya Karan yang sudah menurunkan volume suaranya, ketika mendengar kata Sania.


''Pagi ini wajahnya pucat, tapi dia memaksaku untuk tetap bekerja,'' terang Arlan membuat wajah Karan berubah.


''Arlan? aku harus bagaimana, dan aku juga nggak tau harus berbuat apa kepada adikku saat ini,'' Ucap nya lirih, dia menundukkan kepala nya di saat pikiran nya mengarah kepada adik nya yang tengah menderita penyakit yang cukup parah.


''Sudahlah Karan, kamu selama ini sudah mengusahakan yang terbaik untuk Sania, hanya do'a yang kini ia inginkan, do'a dari kakak yang tulus akan membuat Sania semakin baik, keadaan nya sekarang lebih mendingan dari pada kemarin, karena aku selalu mengingat kan dia agar tidak lupa meminum obat nya, demi kesehatan nya juga,'' jawab Arlan panjang lebar. Karan mengangguk pelan, membenarkan semua ucapan yang Arlan katakan.


''Aku titip adikku Arlan?'' lagi lagi Karan berucap dengan lirih.


''Itu sudah kewajiban ku sebagai seorang suami,'' kata Arlan.

__ADS_1


'Aku tau kamu sangat menyayangi adik mu Karan, bukan hanya kamu saja yang sangat sayang pada Sania, aku juga bahkan kasih sayangku pada dia lebih besar dari kasih sayang yang kamu berikan selama ini, tapi aku janji? aku akan mengupayakan untuk kesembuhan istri ku Karan, do'akan saja yang terbaik untuk adik kecil mu itu,' gumam Arlan dalam hatinya.


__ADS_2