
''Iya, buat Mas kawin besok Bos,'' sahut Pak Candra yang langsung di tertawakan Pak Aziz sang Bos.
Terlihat Pak Aziz menyodorkan beberapa lembar uang merah pada Pak Candra.
''Apa ini Bos,'' tanya Pak Candra ketika sang Bos memberinya uang dengan jumlah banyak.
''Itu sebagai hadiah buat pernikahan kamu besok, maaf tidak bisa hadir di pernikahan kamu, karena aku harus balik ke Jakarta, kamu kan tau sendiri kerjaan ku kayak apa,'' jelas Pak Aziz.
''Kayak kupu kupu, yang selalu hinggap di tempat, tempat tertentu hanya untuk sesuap nasi,'' lanjutnya lagi.
''Tapi bukan kupu kupu malam kan Bos,'' celetuk Tole yang tiba-tiba nimbrung obrolan Pak Candra dan juga Pak Aziz Bos nya.
''Mau di pecat nich kayaknya,'' canda Pak Aziz.
''Jangan di pecat dong Bos, bisa bisa pulang kampung kalau saya tak ada kerjaan di sini Bos,'' sahut nya dengan nada sesedih mungkin.
''Kan sudah ada gantinya,'' sahut Pak Aziz singkat.
''Tega ya Bos?'' dengan mimik sedih dan pura pura mengeluarkan air mata.
Pak Aziz dan Pak Candra mentertawakan tingkah aneh sopir nya dan juganteman kerja nya sebagai kuli panggul.
''Sudah lah, kamu pulang saja, saya juga mau balik ke Jakarta sekarang, lihat tuh sayuran sudah menumpuk di bak mobil.'' Pak Aziz menunjuk ke arah mobilnya yang sudah penuh dengan berbagai macam sayuran yang harus ia bawa ke pasar yang ada di Jakarta.
Pak Candra mengangguk dan melambaikan tangan nya pada sang Bos yang terlihat sudah pergi menuju kota Jakarta.
Pak Candra pun memilih kembali ke rumah saudara Bu Wati yang tak jauh dari pasar, namun sebelum kembali ke rumah saudara Bu Wati Pak Candra membeli seperangkat alat sholat untuk ijab kabul besok pagi.
__ADS_1
''Langsung di bungkus Pak?'' tanya seorang wanita penjaga toko di mana Pak Candra membeli alat seperangkat sholat tersebut.
''Iya, bungkus yang rapi ya mbak,'' jawab Pak Candra sopan, sembari menunggu barang yang di bungkus, Pak Candra melihat lihat baju baju gamis yang kebetulan di gantung di toko tersebut.
''Baju sekalian Pak?'' tanya pemilik toko.
''Nggak Bu, mungkin besok besok belinya, sekarang hanya beli itu saja,'' sahut Pak Candra tersenyum pahit, karena tak bisa membelikan baju buat wanita yang sebentar lagi akan menjadi istri nya.
''Berapa semua Bu,'' tanya Pak Candra setelah melihat barang yang ia beli sudah terbungkus rapi.
''Semua nya 300 ribu Mas,'' kata Ibu pemilik Toko. Pak Candra mengeluarkan uang yang di beri Pak Aziz tadi, setelah di hitung berapa jumlah nya Pak Candra pun terkejut, karena nilainya terlalu banyak, walau hanya satu juta namun bagi Pak Candra sekarang nilai itu sangat lah banyak.
'Pak Aziz, saya anggap uang ini sebagai hutang yang akan ia bayar nanti kalau sudah punya pekerjaan tetap.' Batinnya dan berlalu dari depan toko penjual baju beserta mukenah juga.
''Dari mana kamu Candra,'' tanya saudara laki-laki Bu Wati, di saat melihat Pak Candra menenteng sebuah kantong yang lumayan besar.
''Kenapa harus repot repot gitu sich Candra? kan Wati sudah tidak mempermasalahkan soal mas kawin'' Ucapnya dan mendudukkan diri ke lantai juga.
''Candra pengen saja Bang, buat kenang kenangan kelak di hari tua, dan kalau anak anak bertanya mas kawin apa yang ia kasih pada Ibu nya, jawabnya juga gampang, tinggal bilang seperangkat alat sholat,'' jawabnya tersenyum, saudara Bu Wati mengerti keadaan Pak Candra saat ini. Walau dia mencoba untuk tersenyum namun senyuman nya terlihat di paksakan.
'Ya Allah, aku ikhlas menjalani cobaan hidup seperti ini, lancarkan lah rezeki hamba, dan lancarkan lah ijab Kabul kami besok, Amiiin,'' batinnya.
-Flashback off.
*-*-*-*-*-*-*
Langit mulai menggelap dan matahari juga sudah tenggelam di peraduan nya, dan di gantikan dengan sinar Rembulan yang begitu terang, di tambah lagi dengan taburan kerlap kerlip bintang bintang, yang menambah nilai plus akan keindahan alam semesta.
__ADS_1
Di bawah hamparan langit yang bertaburan bintang bintang, dan sinar nya rembulan yang begitu terang, Pak Sanjaya duduk sendiri di halaman samping rumahnya.
Beliau selalu memikirkan putera sulung nya yang benar-benar tidak kembali ke rumah nya, sejak dia memutuskan untuk pergi dari rumah besar nya, 15 tahun yang lalu.
''Sudah 15 tahun kamu meninggalkan Papa Candra, pulanglah nak? Papa kangen sama kamu, dan maafkan Papa juga sudah sangat keterlaluan sama kamu selama ini.'' Gumam Pak Sanjaya sembari melihat hamparan langit biru di atasnya.
''Sudahlah Pa, ini sudah malam, nanti yang ada Papa masuk angin lagi,'' kata Cinta tiba-tiba.
''Do'a kan saja yang terbaik buat kakak di mana pun dia berada saat ini,'' Ucap Cinta mengelus punggung sang Papa.
Cinta membawa Papa nya masuk ke dalam rumah besar nya, sedangkan Citra lebih memilih ikut suami nya, ketimbang tinggal bersama Papa nya di rumah besar nya, yang seperti Neraka karena ulah sang Papa kakak nya memilih pergi dari rumahnya.
2 tahun Citra mencari keberadaan sang kakak, namun tiada hasil sampai akhirnya Citra putus asa, dan memilih pergi dari rumah nya juga.
Hanya saat Citra mau menikah saja dia pulang ke rumahnya, untuk sekedar meminta ijin pada orang tuanya kalau dia mau menikah dengan orang yang ia cintai, Citra menikah dengan sahabat nya yang terkenal dengan sikap dingin nya.
Suami Citra berasal dari kalangan elit juga, dan tak kalah dari keluarga nya. Suami Citra dari keluarga Narendra.
Arzan Malik Narendra adalah suami Citra Leani Sanjaya, Citra Puteri kedua Pak Sanjaya tak pernah mau di saat Papa nya menyuruh pulang ke rumahnya, walau hanya sekedar makan malam bersama.
*-*-*-*-*-*-*-*
Pagi hari adalah waktu tersibuk yang di jalani Cinta maulinda Sanjaya, puteri ke tiga dari Pak Sanjaya. Walaupun di rumah besarnya terdapat beberapa asisten rumah tangga, namun Cinta masih turun tangan langsung untuk sekedar memasakkan suami, anak anaknya dan juga Papa nya. Sedangkan sang Mama sudah menghadap yang maha Kuasa 2 tahun lalu, beliau menderita tumor otak dan beliau sudah tak mau lagi berobat, apalagi untuk di operasi, hanya gara-gara putera satu satu-nya tak pernah kembali ke rumah nya.
''Cinta, ambilkan ponsel Papa di kamar,'' suruh Pak Sanjaya dari ruang keluarga nya.
''Sebentar Pa?'' Cinta pun meletakkan peralatan masaknya dan bergegas menuju ke kamar sang Papa.
__ADS_1
BERSAMBUNG