
''Kok kamu telat datang nya?'' tanya Arlan ketika Sania baru turun dari taksi online nya.
''Apa sih Mas Arlan kepo dech?'' tukas Sania yang langsung masuk begitu saja, sedangkan Pak Hasan menurunkan dua kardus dari bagasi mobil nya.
''Pak, tadi masih mampir kemana? kok lama datang nya,'' tanya Arlan menyelidik.
''Tadi pagi masih mampir ke rumah sakit dulu Tuan, makanya sampai nya lumayan lama,'' jelas Pak Hasan kepada Arlan yang tengah menunggu jawaban nya.
''Apa penyakiy dia kambuh lagi Pak?'' tanya Arlan mulai khawatir.
''Bapak nggak tau dengan jelas tuan, tapi dokter nya bilang harus banyak istirahat dan tak boleh terlalu capek juga,'' tambah Pak Hasan. ''Apa mau di bantu untuk membawa bini ke dalam Tuan,'' tanya Pak Hasan lagi sebelumn pamit pergi.
''Biar Arlan saja yang membawa semua ini ke dalam Pak,'' sahut Arlan menatap ke dalam kantor nya, di mana di sana Sania tengah berbincang-bincang dengan para karyawan nya.
''Kalau gitu bapak pamit dulu, assalamu'alaikum,'' Ucap Pak Hasan dan memasuki mobil nya untuk kembali ke Jakarta.
Setelah kepergian Pak Hasan, Arlan membawa kardus ke dalam kantor seraya bertanya, ''Sania, maundibtatuh di mana kardus kardus ini,'' tanya nya.
''Taruh di sana saja Mas,'' tunjuk Sania ke kursi yang sedang kosong.
''Mas Arlan buka saja dan ambil satu di sana,'' suruh Sania membuat laki-laki di depan nya mengerutkan kening nya bingung.
''Sebenarnya ini isinya apa sich?'' gumam Arlan pelan, namun masih terdengar oleh Sania.
''Buka saja biar nggak penasaran?'' balas Sania. ''Kalian juga ambil satu satu ya,'' tukas Sania kepada semua karyawan nya.
Semua karyawan nya pun merasa senang, mereka semua juga mendapatkan oleh oleh yang di bawa langsung oleh bos nya.
__ADS_1
''Ini enak sekali bos?'' Ucap salah satu karyawan laki-laki di sana.
''Alhamdulillah kalau kalian suka dan pas di lidah kalian semua,'' balas Sania dengan mengembangkan senyuman nya.
''Maaf bos? kalau boleh tau ini beli di mana ya,'' tanya lagi sang karyawan.
''Itu semua buatan Bunda saya sendiri kok? kata Sania lagi.
''Kalau mau beli jangan lupa datang ke restoran SW, di sana banyak masakan Bunda yang lain nya juga,'' Ujar Arlan memberi tahu semua nya.
''Pak Arlan kok tau banyak?''
''Ya kebetulan manajer di sana dulu saya sendiri,'' jawab nya membuat semua karyawan yang tengah berkumpul bersama oh ria panjang.
''Ya sudah kalau githu saya ke ruangan dulu,'' Ucap Sania lembut seraya menganggukkan kepalanya.
''Iya sama-sama,'' balas Sania dan melangkah pergi menuju lift untuk menuju ke ruangan nya.
''Tunggu Sania,'' panggil Arlan yang mencegah Sania menutup pintu lift nya.
Arlan msuk ketika pintu lift terbuka kembali, ''Sania, bagaimana? apa sekarang kamu sudah punya jawaban dari pertanya'an yang kemarin,'' tanya Arlan ketika masih berada di dalam lift.
''Mas Arlan lebih baik cari wanita lain saja, banyak kok yang mau sama mas Arlan? lagi pula Sania juga nggak pantas dengan kak Arlan?'' jawab Sania dengan nada datar nya. 'Aku nggak mungkin menerima kamu mas Arlan, karena aku nggak mau menyusahkan kamu dengan penyakit yang aku cerita sekarang ini,'' gumam Sania dalam hatinya.
''Sania, aku benar-benar tulus mencintaimu, aku akan berjanji akan menjagamu sampai maut memisahkan kita berdua.'' sela Arlan dengan sungguh-sungguh meyakinkan wanita pujaan hatinya.
''Lebih baik mas Arlan bahas masalah ini dengan keluarga Mas dulu, takut nya mereka malah kecewa setelah mendengar perihal penyakit yang Sania derita saat ini,'' Ucap Sania memilih menatap langsung ke mata laki-laki yang juga ia sayangi, namun karena penyakit nya lah Sania tidak bisa menerima Arlan begitu saja, tanpa ijin dari keluarga besar nya juga.
__ADS_1
''Mas nggak boleh egois dalam mengambil setiap keputusan, masih ada orang tua Mas yang berhak tau? wanita seperti apa yang pantas untuk mendampingi puteranya, sedangkan Sania hanya wanita yang ber penyakitan dan akan selalu merepotkan Mas Arlan dan juga keluarga nya,'' tambah Sania mendongakkan kepalanya, agar air mata nya tak luruh di depan Arlan.
''Aku pastikan keluarga besar ku menerima kamu apa adanya Sania, aku tak peduli kalau sampai mereka menolak dengan keinginan ku untuk bersanding dengan kamu Sania,''
''Tapi yang Sania inginkan adalah restu dan do'a dari mereka semua Mas, tanpa restu mereka Sania tidak akan menerima Mas Arlan sampai kapanpun,'' terang Sania dan berlari ke ruangan nya.
''Kenapa kamu seperti itu Sania, aku benar-benar cinta dan sayang sama kamu untuk selama nya, aku tak peduli dengan penyakit yang kamu derita, aku hanya ingin selalu berada di samping kamu dan menjaga kamu di sisa umur mu itu,'' Gumam Arlan dengan linangan air mata yang sudah mengalir di kedua pipinya. Untung di lantai teratas tidak terlalu banyak karyawan yang mondar mandiri, sehingga Arlan yang tengah menangis tidak ada yang melihat.
Arlan melangkah memasuki ruangan nya yang tak terlalu jauh dari ruangan Sania saat ini, mereka berdua sama sama meneteskan air matanya. ''Maafkan Sania yang bersikap seperti itu Mas Arlan, Sania harap Mas Arlan benci dan menjauh dari Sania itu saja, umur Sania bahkan hanya sebentar lagi?'' lirih nya, dengan saniy menenggelamkan wajah nya di kedua lengan nya.
''Percuma aku minum obat setiap hari, toh semua itu hanya untuk menghambat penyakit yang aku derita saja, bukan untuk menyembuhkan. Obat ini sama sekali tak berguna?'' gumam Sania melihat beberapa obat yang ia terima tadi pagi.
Sania memejamkan matanya, membiarkan obat obat nya tergeletak begitu saja di meja, dan Sania sudah memutuskan untuk tidak lagi meminum obat obat ini lagi, dia sudah frustasi dengan kehidupan nya sekarang, semakin hari tubuh nya semakin kurus dan rambut nya juga semakin rontok.
Tiba-tiba pintu ruangan nya di ketuk dari luar.
Tok tok tok
Sania membuka matanya seraya menghapus sisa sisa air mata nya dengan tissu.
''Masuk,'' Ucap Sania kepada orang yang mengetuk pintu ruangan nya.
''Kenapa Mbak?'' tanya Sania ketika dia tau kalau yang mengetuk pintu adalah manajernya.
''Ini ada berkas berkas yang perlu Nona periksa, dan ada juga berkas yang harus di tanda tangani juga,'' sang manajer menjelaskan seraya menaruh dokumen di atas meja bos nya. Sang manajer melirik kearah obat yang berada di atas meja bos nya.
''Obat apa sebanyak itu? di meja bos,'' Gumam sang manajer pelan sehingga hanya dia sendiri yang mendengar gumaman sang manajer tersebut.
__ADS_1