Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 207 Kebersamaan dokter Michael dengan Andriana


__ADS_3

Setelah lama mereka mengobrol di cafe dekat rumah sakit, kedua nya langsung pergi setelah di kira cukup dengan obrolan nya.


''Aku antar kamu saja bagaimana?'' kata dokter Michael kepada Andriana.


''Tapi taksi yang aku pesan sudah ada di depan?'' jawab Riana menunjuk ke depan di mana taksi tersebut sudah menunggu nya.


''Kita samperin saja taksi nya, dan aku akan bayar sebagai tanda minta maaf karena sudah meng cansel taksi nya,'' gumam dokter Michael yang di angguki oleh Andriana.


Dokter Michael terlihat sangat serasi dengan Andriana, ''Mana taksi nya?'' tanya dokter Michael melirik ke arah Riana yang ada di samping nya.


''Mungkin yang di depan itu,'' jawab nya menunjuk seorang laki-laki paruh baya yang sedang berdiri di samping mobil nya.


''Nona Andriana?'' tanya supir taksi online yang tadi ia pesan.


''Ia, saya Andriana Pak, Bapak pemilik taksi,'' jawab Riana dengan sopan.


''Maaf Pak, saya mau meng cansel taksi Bapak, dan ini ada sedikit rezeki untuk keluarga Bapak di rumah, saya juga baru tau kalau calon istri saya memesan taksi online, jadi sekali lagu maaf ya Pak,'' sela dokter Michael di antara Riana dan sang supir taksi masih terus saja mengobrol.


Riana mengerutkan kening nya ketika Michael mengakui Riana sebagai calon istri nya, tapi Riana sungguh sangat bahagia mendengar nya, Riana mengulas senyum tipis sehingga Michael yang sedang mengobrol dengan sang Bapak supir taksi tidaj menyadari kalau Riana tersenyum mendengar pengakuan nya tadi kepada Bapak tersebut.


''Iya nggak apa apa kok Tuan? tidak usah bayar kan Nona belum naik taksi Bapak,'' jawab nya dengan mengulas senyum di wajah nya, ada raut kesedihan di wajah tuanya yang masih harus menarik taksi meski sudah malam seperti ini.


''Sudahlah Pak, terima saja sebagai perminta'an maaf dari saya,'' balas Riana membalas senyuman sang Bapak.


''Tapi nona-,''


''Terima saja Pak?'' potong dokter Michael dengan suara berat nya, Andriana dan juga dokter Michael sedikit memaksa agar sang Bapak menerima pemberian nya. Akhirnya Michael memasukkan uang tersebut ke dalam saku baju sang Bapak sembari berkata.


''Terima saja Pak, dan Bapak cepat pulang ke rumah nya sekarang, karena hati semakin malam juga kan?'' Ucap dokter Michael menepuk punggung tangan sang Bapak supir dengan lembut. ''Ibu di sana pasti sudah menunggu kedatangan Bapak, karena sudah sangat malam seperti ini,'' tambah nya lagi dengan sedikit tersenyum.


''Terima kasih Tuan, saya do'akan kalian berjodoh sampai kelak ajal yang memisahkan nya,'' Ucap nya seraya mendo'akan Michael dan juga Riana yang masih berdiri di samping nya.

__ADS_1


Dokter Michael menunggu sang Bapak pergi, dan setelah nya mereka berdua masuk ke dalam mobil nya, di dalam mobil Riana hanya diam tanpa mau mengucapkan sepatah katapun dengan Michael, Riana masih terus memikirkan ucapan demi ucapan yang di lintarkan oleh dokter Michael tadi sewaktu masih ada didalam cafe tersebut.


''Kenapa hanya diam saja?'' tanya dokter Michael melirik Riana yang ada di samping nya.


''Nggak apa apa kok, aku cuma tak percaya saja kamu bilang kalau aku calon istri kamu?'' jawab Riana merubah posisi duduk nya menjadi menatap Michael dari samping, 'Meski di lihat dari samping dia sangat tampan dan juga gagah, tapi akun tidak mau berharap banyak dengan semua yang di ucapkan dokter Michael tadi, aku hanya takut akan kecewa ketika aku sudah sangat percaya dan juga sayang dengan nya, dia malah pergi dan meninggal kan aku dengan rasa sakit yang begitu dalam di hatiku,' batin Riana yang masih menatap wajah tampan dokter Michael, teman semasa kuliah walau mereka beda jurusan dan Michael juga kaka tingkat nya, tak dapat di pungkiri kalau pesona ketampanan Michael begitu membuat semua teman teman nya tergila gila dengan dia.


''Kan memang benar kalau kamu itu adalah calon istri ku, ya walaupun aku belum melamar kamu kepada Papa kamu sich, tapi aku kan sudah mengatakan hal itu ke kamu sayang?'' jawab dokter Michael mencubit dagu Riana, di tambah lagi ucapan terakhir nya yang bilang kata sayang, 'Och, kalau bisa aku ingin terbang ketika mendengar kata sayang itu lagi,' pikir Riana dengan mengerutkan kening nya.


''Nggak usah bersikap seperti itu, aku serius dan aku nggak pernah bercanda dengan semua yang aku ucapkan selama ini,'' gumam dokter Michael yang mengerti kalau Riana masih tidak mempercayai nya sama sekali.


''Nggak kok, aku sudah bersikap sangat biasa? kamu saja yang yang berpikiran lain,'' jawab nya dan memalingkan pandangan nya menghadap ke luar jendela.


''Riana, bagaimana kalau lusa kamu temani aku ke rumah Bunda, aku juga ingin melihat bayi bayi Sania yang kata ku sangat menggemaskan kan itu, kamu mau ya,'' ujar dokter Michael.


''Baiklah, tapi? apa kamu nggak sibuk dengan pekerja'an di rumah sakit, kan kamu orang nya memang super sibuk,'' seru Riana kembali menatap wajah Michael.


''Ya kan aku sudah bilang lusa sama kamu, itu berarti aku pagi free di rumah sakit, jadi aku bisa pergi ke mana saja hari itu,'' sahut nya dengan menaik turunkan alis nya.


''Memang aku sudah melupakan apa ya?'' tanya dokter Michael dengan mengernyit kan dahi nya, dokter Michael masih merasa bingung dengan ucapan Riana barusan.


''Sudahlah, lagian nggak penting juga kan?'' jawab nya dengan malas.


''Ya sudah kalau sudah seperti itu, bagaimana kalau besok kamu ikut ke Mall untuk beli bingkisan untuk ponakan ponakan kamu?'' Ucap dokter Michael mengalihkan pembicara'an nya.


''Iya juga ya, aku juga belum membelikan bingkisan kepada ketiga ponakan ku yang baru lahir,''


''Gimana sich, tante nya saja belum membelikan sesuatu kepada ketiga ponakan nya,'' ledek dokter Michael kepada Riana yang notabene nya adalah tante dari si kembar tiga.


Tanpa terasa mereka sudah memasuki gerbang rumah Riana, Riana menarik nafas dan menghembus dengan perlahan sebelum keluar dari mobil dokter Michael.


''Riana, aku langsung pulang saja ya, salam untuk Papa, Mama dan juga saudara kamu di dalam rumah,'' seru dokter Michael sebelum Riana benar-benar keluar dari mobil nya.

__ADS_1


''Baiklah, hati hati di jalan?'' jawab Riana dan keluar dari mobil dokter Michael, dan melangkah ke dalam rumah setelah melambaikan tangan nya.


Dokter Michael melajukan mobil nya, setelah melihat Riana masuk ke dalam rumah besar nya, dokter Michael segera menuju rumah besar nya karena dia tidak mengetahui kalau kedua orang tuanya sedang pergi keluar kota, dokter Michael memang jarang pulang ke rumah besar nya, dia lebih senang tinggal di apartemen nya yang lumayan dekat dengan rumah sakit di mana ia bekerja sebagai dokter di sana.


Dokter Michael mengetuk pintu rumah nya, dan tak lama kemudian pintu yang di buka tadi di buka dari dalam, dan menampakkan sang Bibi yang membukakan pintu nya.


''Tuan Michael?'' sapa sang Bibi yang kaget dengan kedatangan tuan muda nya. ''Tuan muda silahkan masuk,'' kata sang Bibi yang sudah sangat lama bekerja di rumah nya.


''Mama kemana Bi, kok sepi banget?'' tanya dokter Michael kepada sang Bibi yang sudah masuk ke dalam rumah nya.


''Nyonya dan tuan besar sudah dia hari ini tidak pulang ke rumah tuan? mereka berdua sedang pergi keluar kota karena ada acara pembuka'an kantor cabang di sana,'' jawab sang Bibi dengan panjang lebar.


''Tuan muda mau makan malam, biar Bibi siapkan sekarang?'' tanya nya dengan ramah kepada tuan muda nya.


''Tidak usah Bi, aku ke kamar saja mau istirahat sebentar?'' jawab nya dengan melangkah kan kakinya ke kamar nya, sang Bibi hanya menatap tubuh tuan muda nya dari bawah ketika sang tuan sudah sampai di lantai atas.


''Tuan muda masih saja seperti dulu, sifat dia yang sangat lembut dengan semua orang masih saja melekat di dalam diri nya, aku harap tuan muda mendapatkan seorang wanita yang juga bersikap baik dan juga menghormati nyonya, bukan wanita seperti yang kemarin sempat di bawah kesini oleh Nyonya, itu akan membuat kita semua jantungan karena dia sangat jurus dan juga galak untuk tuan muda yang sangat baik,'' gumam sang Bibi dengan pelan seraya menutup pintu rumah kediaman dokter Michael.


...****************...


Sania berjalan menuju box yang berisi bayi bayi nya, Sania mengembangkan senyuman nya ketika melihat ketiga bayi nya sudah lumayan sehat, dan sebentar lagi dia akan puas puasin untuk menggendong ketiga nya.


''Sayang? kamu sedang apa di sini,'' tanya Arkan ketika melihat istri kecil nya sedang menunduk melihat bayi bayi didalam box tersebut.


''Mas, coba lihat mereka bertiga dech, mereka semua sangat lucu dan menggemaskan, aku sudah tidak sabar lagi untuk menggendong ketiga nya Mas?'' jawab nya mendongakkan kepala nya menatap suaminya yang sedang berdiri di belakang nya.


Arlan tak menjawab semua ucapan istri kecil nya, dia berlalu pergi begitu saja setelah Sania menatap nya dengan tatapan yang begitu bahagia, dan ada senyuman di bibir nya. Sania merasa sangat kecewa karena di acuhkan oleh suami nya, dia kembali menatap ketiga bayi nya dan berkata.


''Kamu lihat kan, Papa mu mulai mengacuhkan Mama, Mama merasa sudah tidak berguna lagi di mata Papa mu sekarang, mungkin Mama sudah jelek dan juga gemuk, itu kan gara-gara dia juga aku menjadi gemuk seperti ini?'' gumam nya pelan dengan terus memandang wajah kecil di dalam box di depan nya.


''Kata siapa Mas tidak mencintai mu lagi, hanya gara-gara kamu gemuk seperti ini, sampai kapan pun aku akan tetap mencintai kamu dan akan selalu menyayangi kamu dan ketiga bayi bayi kita sayang? jadi kamu nggak boleh lagi bilang seperti itu lagi, apalagi di depan ketiga anak-anak kita ini,'' jawab Arlan dengan panjang lebar.

__ADS_1


__ADS_2