
Setelah beberapa hari Sania dan juga Arlan berada di kantor yang sama, dan tentunya lebih menghabiskan waktu kebersama'an nya, benih benih cinta yang di tabur oleh Arlan sudah mulai berkembang biak, Sania tak lagi bersikap egois dan dia juga tak seperti kemarin kemarin yang selalu menghindar dari Arlan, Sania pelan pelan sudah membuka hati nya walau dia juga memberi jawaban pada Arlan,namaun Arlan sudah sangat bahagia dengan sikap Sania yang pelan pelan sudah menerima usaha yang di lakukan oleh Arlan tentunya.
Sania juga tak berharap banyak dari Arlan? dia juga sadar diri akan penyakit nya yang tak gampang untuk di sembuhkan. Mungkin Arlan akan menderita jika Sania harus menerima cintanya, pikir Sania.
Ketika Sania memikirkan kata kata yang sering Arlan ucapkan membuat kepalanya berdenyut, Sania masih tidak habis karena Arlan masih terus mengharapkan dia, padahal dia juga sudah tau perihal penyakit yang Sania derita.
Dan pagi ini Sania harus kembali ke Jakarta karena hari ini ada jadwal dia yang harus cek up kesehatan nya, Arlan yang ingin mengantar kan Sania pulang harus merasakan kekecewa'an, lantaran Sania menolak tawaran dari teman laki-laki nya tersebut.
''Lebih baik kamu saya antar saja ke rumah sakit untuk cek up nya,'' Ujar Arlan setengah membujuk.
''Tidak usah, aku bisa sendiri kok? lagian Sania juga sudah memesan taksi online untuk mengantar Sania pulang,'' terang Sania, lalu kemudian tersenyum.
''Kok gitu sich? lagian aku sudah bilang dari kemarin kalau aku yang akan mengantar mu pulang,'' seru Arlan menahan rasa kesal nya.
''Ya sudah Sania balik dulu?'' pamit Sania, namun Sania baru juga melangkah lengan Sania sudah ia cekal.
''Kenapa lagi sich mas Arlan?'' tanya Sania dan menatap ke arah lengan yang di cekal oleh Arlan.
Dengan berat hati Arlan mulai melepaskan lengan Sania yang tengah ia pegang, dan Sania pun segera masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu di depan.
''Cepat balik ke sini,'' seru Arlan pada Sania, ketika Sania mau menutup pintu mobil nya.
''Insya Allah ya Mas,'' sahut nya pelan dan mengembangkan senyuman nya.
Arlan tak bisa berkata kata lagi, dian hanya ikut membalas lambaian tangan Sania, yang kini sudah melaju keluar dari penginapan tempat tinggal Sania dan juga Arlan.
__ADS_1
Sania menyandarkan tubuh nya ke sandaran kursi yang ia duduki saat ini.
Sedangkan matanya menatao lurus ke depan, sebenarnya tidak jadwal cek up untuk hari ini, melainkan dua hari lagi dia harus melakukan cek up untuk mengetahui penyakit yang biasa derita.
Sania memejamkan matanya sejenak karena rasa pusing tengah mendera nya, Sania merogoh tas yang berisi obat obat nya, dan dia juga mengambil air yang sengaja ia bawa tadi sewaktu masih berada di penginapan. Kemarin Sania melupakan obat nya karena tengah asik melakukan pekerja'an nya yang sudah deadline.
''Nona nggak apa apa?'' tanya sang sopir yang sudah sering mengantar jemput Sania, karena Sania sendiri lebih nyaman dengan sosok supir yang pengayom, dengan bapak supir itu Sania merasakan kehangatan seorang Ayah. Sang supir juga menyuruh Sania untuk memanggil nya ayah jika dia menginginkan.
Supir tersebut berhutang budi kepada Sania yang telah di tolong oleh nya bebey bulan lalu ketika berada di rumah sakit.
Flashback on
''Suster? tolong puteri saya, saya akan membayat semua tagihan rumah sakit dan juga biaya operasi ini, tapi aku mohon beri aku waktu, karena aku harus menjual aset aset berharga ku terlebih dulu,'' mohon sangat Bapak supir, sebut saja bapak Hasan.
''Maaf Pak Hasan, rumah sakit sudah memberi anda waktu untuk membayar biaya rawat inap di sini selama 5 hari, namun sampai sekarang Bapak hanya janji janji terus yang terucap dari Bapak, dan sekarang rumah sakit tidak mau lagi memberikan waktu kepada pak Hasan,'' terang suster yang bertugas jaga di administrasi rumah sakit.
Sania melihat Bapak yang berjalan dengan langkah lunglai menyusuri lorong rumah sakit, Sania yang tergerak hatinya menghampiri Pak Hasan yang tengah berdiri dengan menyandarkan tubuh lelah nya di tembok rumah sakit.
''Bapak kenapa?'' tanya Sania memegang bahu Pak Hasan yang sudah luruh di lantai.
Pak Hasan tidak cepat menjawab pertanya'an yang di ajukan Sania, beliau masih menatap lurus? memandang ruangan di mana puteri nya tengah berjuang hidup di dalam.
''Bapak, tolong cerita sama Sania? siapa tau Sania bisa membantu Bapak,'' Ujar Sania mengangkat tubuh laki-laki paruh baya, dan di bawa nya ke kursi tunggu.
''Bapak tidak tau harus bercerita apa Nona, Bapak sedang bingung sekarang? puteri Bapak harus segera di operasi, kalau sampai terlambat Bapak tidak tau lagi nasib puteri Bapak di dalam,'' jawab Pak Hasan menunjuk ke ruangan, di mana di sana tengah berdiri seorang wanita yang seumuran dengan Bunda nya.
__ADS_1
Sania beranjak dari duduk nya dan melangkah menghampiri Ibu Ibu yang tengah khawatir yang berdiri dengan mondar-mandir di depan pintu ruangan.
''Maaf Ibu, lebih baik Ibu duduk saja? dan jangan khawatir lagi ya, putri Ibu akan segera di operasi,'' kata Sania menggenggam tangan istri Pak Hasan.
''Tapi Nona, Ibu tidak memiliki jangan sama sekali. Bagaimana Ibu bisa membayar nya Nona,'' teras istri Pak Hasan dengan tangis nya yang tertahan.
''Lebih baik Ibu berdo'a yang terbaik untuk puteri Ibu yang tengah melawan sakit nya. Kalau begitu Sania pamit dulu ya,'' Ujar Sania menuju ke tempat Pak Hasan, yang tadi mereka duduki.
''Ayo Pak ikut Sania ke administrasi,'' ajak Sania mengulurkan tangan nya.
''Tapi Nona,Bapak tidak memiliki uang sama sekali? tadi Bapak juga sudah meminta keringanan kepada pihak rumah sakit, tapi mereka tolak begitu saja,'' kata Pak Hasan lirih.
Sania trus memaksa Pak Hasan agar ikut bersama nya ke administrasi rumah sakit, Pak Hasan pun mengikuti langkah Sania. dan tepat di depan administrasi Sania bertanya kepada mbak mbak yang sedang berjaga di sana.
''Maaf Mbak saya mau tanya tagihan untuk pasien...'' Sania menghentikan ucapan nya, karena dia tidak tau nama putri Pak Hasan.
''Tara, atas nama Tara?'' sambung Pak Hasan dengan nada lirih nya.
Petugas administrasi mencari tagihan atas nama Tara, ''Total semua nya adalah 70 juta Nona,'' sela sangat petugas administrasi tersebut.
Sania memberikan kartu kepada petugas, dan tak lama kemudian petugas tersebut mengembalikan kartu pada Sania lagi. Pak Hasan yang melihat hanya bisa menangis histeris melihat masih ada orang baik yang menolong nya, sejak saat itulah Sania terus saja naik mobil Pak Hasan dengan alasan membantu perekonomian keluarga nya. Walaupun di rumah Sania tidak kekurangan mobil satu pun? tapi Sania lebih suka memesan taksi online yang di supiri Pak Hasan sendiri.
Flashback off
.
__ADS_1
.
..