
Selesai sholat Isya aku memutuskan untuk berkumpul dengan semua orang di lantai dasar, aku menuruni anak tangga satu persatu sampai akhirnya aku bertemu dengan kak Pinky yang ingin ke kamar kak Karan, yang tak lain sudah menjadi kamarnya juga sekarang setelah menikah dengan kakak ku.
''Kamu nggak apa apa kan dek?'' tanya kak Pinky menghentikan langkah ku.
Aku menggeleng, ''Sania nggak apa apa kok kak? kakak mau kemana,'' jawabku dan juga balik bertanya pada kak Pinky.
''Och aku mau ke kamar, kakak mu menyuruh ambil handphone nya di kamar, katanya ketinggalan tadi,'' jawab kak Pinky menjelaskan yang di angguki olehku.
''Ya sudah Sania ke meja makan dulu kak? laper,'' balas ku mengalihkan obrolan ku karena aku juga sudah sangat lapar, dari tadi pagi belum terisi apapun perutku.
Aku melanjutkan langkah ku menuju ke meja makan, namun belum sampai di meja makan aku sudah di panggil oleh kak Karan. ''Adek...'' panggilnya melambaikan tangan ke arah ku.
Tanpa berkata sepatah katapun aku menghampiri kak Karan yang tengah mengobrol dengan kak Arlan, sedangkan yang lain sudah pada meninggalkan kediaman ku sedari sore tadi.
''Ada apa kak?'' tanya ku lemah.
''Kamu sakit?'' tanya kak Karan menepuk nepuk sofa di samping nya.
''Sania nggak apa apa kok kak? cuma lapar saja so seharian kan Sania tidur di kamar jadi perut Sania kosong, jadi sekarang semua cacing cacing pada berdemo minta di isi,'' jawab ku lirih.
''Ya sudah kalau gitu Sania kedapur dulu mau makan?'' lanjut ku dan melangkah pergi dari hadapan kedua laki-laki tersebut. Kak Karan hanya menatap kepergian ku, sedangkan kak Arlan sendiri acuh tak acuh kepadaku.
''Nona Sania mau makan sekarang?'' tanya Bibi yang kini tengah berjibaku di dapur dengan 2 pelayan lain nya.
''Iya Bi? Sania mau makan duluan, karena emang sudah lapar banget, oiya Bi Ibu kemana kok Sania nggak lihat?'' tanya pada asisten di rumahku.
__ADS_1
''Nyonya sedang pergi Nona, yang Bibi dengar mau ke restoran?''
''Restoran malam malam gini?'' aku menyela ucapan Bibi.
''Jangan keras keras Nona, Nyonya melarang Bibi untuk memberitahu tuan muda,'' sahut Bibi yang kini menaruh telunjuknya di bibir ku, aku yang mendapat perlakuan seperti itu cukup terkejut dengan sikap sangat asisten.
''Maaf Nona, bukan maksud Bibi seperti itu, tapi nyonya sudah mewanti wanti Bibi agar nggak ngasih tau tuan muda,'' tambahnya ketika melihat ketidak sopanan nya pada sang majikan kecilnya.
''Nggak apa apa kok Bi? Sania ngerti kok, ya sudah siniin makanan nya Sania laper banget nich? belum lagi harus minum obat,'' Ucap Sania yang keceplosan.
''Obat! Nona sakit?'' tanya Bibi lumayan keras. Kini giliran aku yang menutup mulut Bibi dengan cara membekap nya.
''Nona sakit apa? kok harus minum obat segala,'' cecar nya dengan berbisik.
''Aku nggak apa apa kok Bi, cuma sakit kepala doang?'' jawab ku bohong.
''Udah ach, Sania laper Bi?'' rengek ku menghentikan pertanyaan sang Bibi, yang mungkin akan mengular ketika aku selalu menjawab semua pertanyaan beliau.
Aku mulai mengambil makanan yang sudah tersaji di depan ku, dan dengan lahap aku memakan nya tanpa menunggu yang lain datang ke meja makan.
''Kamu memilih makan duluan agar tak melihat ku kan?'' Ucap nya tiba tiba di belakang ku, aku menoleh seketika melihat siapa yang berkata.
''Kak Arlan,'' batin ku, ''Nggak kok, bukannya aku sudah mengatakan tadi, kalau aku lapar?'' jawab ku memalingkan wajah, aku sadar kalau aku harus bersikap acuh padanya, agar dia menjauh dariku, aku sudah tak pantas lagi untuk dicintai. Apalagi dengan kondisi ku yang sekarang ini, aku tak mau di kasihanin. Biarlah rasa sakit ini aku yang merasakan nya sendirian? tanpa harus melibatkan yang lain nya, pikir ku.
Aku terus saja melanjutkan makan ku tanpa menghiraukan kehadiran kak Arlan di sisi ku.
__ADS_1
''Bibi...? mana coklat panas dan botol air ku,'' panggil ku pada Bibi yang ada di dapur.
''Iya sebentar Nona?'' jawab nya dari dapur, seraya membawa segelas coklat panas dan juga botol minuman di tangan nya.
''Ini Nona,'' Ucap Bibi memberikan semua yang ada di tangan nya padaku.
Aku tersenyum dan berkata, ''Terima kasih Bi, kalau begitu Sania kembali ke kamar dulu, masih banyak yugas yang Sania harus selesai kan secepat nya,'' jawab ku meninggalkan kak Arlan yang masih berdiri di sampingku.
Aku berjalan melewati kak Karan dan juga kak Pinky yang sedang bercanda di ruang keluarga, ''Sania kemarilah dulu,'' panggil kak Karan lagi.
''Sania harus kembali ke kamar kak? tugas kampus Sania masih banyak yang belum selesai di kerjakan, soalnya kemarin dibajak keluar rumah juga kan sama kak Andrian dan kak Andriana juga,'' sahut ku.
''Cuma sebentar saja?'' sambung kak Karan lagi.
''Sania harus selesai kan secepatnya nya, deadline nya hanya sampai besok, jadi maaf ya? selamat malam,'' pamit ku, aku tak sengaja melihat kak Arlan yang sedang kesal, mungkin dia kesal karena aku mengabaikan nya mungkin. Aku melangkah pergi ke arah tangga, dengan segera aku menaiki anak tangga sampai tiba di depan kamar.
Aku menaruh gelas yang tengah aku pegang di lantai, karena mau membuka pintu. Setelah nya aku masuk dan mengunci kembali pintu kamarku.
Aku mengambil laptop yang aku taruh di atas nakas di samping tempat tidurku, dengan tengkurap aku mulai mengetik tugas tugas ku selagi kepalaku tak merasakan sakit. Beberapa menit kemudian aku sudah menyelesaikan tugasku yang lain, kini aku mulai mengerjakan tugas yang lainnya juga, karena sudah deadline.
Jam 9 malam aku menyelesaikan semua tugas tugas kampusku, dengan segera aku merebahkan tubuh lelahku di kasur dengan masih posisi tengkurap. Semenjak aku tau penyakit ku ?aku mulai menyendiri, lebih tepatnya membiasakan diri untuk selalu sendirian.
Di sisi lain kak Pinky bertanya pada kak Karan, karena aku berubah dingin. ''Mas? apa mungkin Sania kecewa dengan kamu, karena kamu sudah menikah dengan ku,''
'''Bukan seperti itu Pinky, mungkin yang dia katakan benar, tugas tugas kampus lah yang membuat dia tak bisa berkumpul dengan kita, lagian sejak kemarin dia juga sibuk di restoran sejak kepergian Arlan dari restoran, mungkin karena itulah semua tugas tugas kampusnya terbengkalai,'' jawab kak Karan lembut.
__ADS_1
''Ya sudah, sebaiknya kita tidur saja? ini sudah malam juga kan, dan besok aku harus berangkat ke kantor sebelum aku mengambil cuti buat berduaan dengan mu, iya kan?'' Ujar kak Karan menjelaskan pada kak Pinky, kak Pinky hanya mengangguk pelan namun di otaknya masih memikirkan tentangmu yang sudah berubah, aku yang biasanya ceria? kini menjadi murung dan lebih banyak diam.