Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 90 Kejahilan Sang Pegawai


__ADS_3

Matahari mulai menampakan sinar nya dari ufuk timur, sedangkan kak Pinky masih bergelut di bawah selimut nya, karena dia masih sangat mengantuk. Sepulang dari rumah kakek Sanjaya, kak Pinky nggak langsung tidur, melainkan dia memandangi cincin berlian yang kini tengah melingkar di jari manis nya.


Jam 7 pagi para pegawynua sudah datang ke butik nya, karena salah satu pegawai nya memegang kunci cadangan yang kak Pinky kasih.


''Ech... No? tumben banget jam segini Bu bos belum buka butik nya?'' tanya nya pada teman yang emang selalu bareng pergi ke butik nya.


''Sudahlah? kita masuk saja, toh kita juga pegang kuncinya kan?'' jawab nya merogoh kunci yang ia taruh di tas selempang nya.


''Iya juga ya No? kalau nggak pegang kunci cadangan paling paling kita duduk di teras kayak gelandangan kan?'' Ucap nya lagi yang langsung mendapatkan tabokan oleh teman nya yang kini tengah membuka kunci pintu butik.


''Kalau ngomong bok ya di pikio dulu lah, emang kamu mau menjadi gelandangan? kalau aku sich ogah, kerja di sini juga sudah enak kok, gaji kita utuh karena Bu bos selalu bayar makan siang kita,'' sang teman menegur nya karena omongan nya yang mulai ngelantur.


''Enggak ach, ya sudah ayo masuk cepat? kita harus bersih dulu di dalam, mungkin Bu bos masih tidur?'' mereka berdua pun masuk ke dalam butik, dan bergegas mengambil sapu dan kain pel di gudang butik.


''Tumben bos kita jam segini masih tidur? biasa nya jam segini dia sudah keluar olahraga kan No?'' tanya nya pada teman kerjanya, sang teman hanya menggedik kan bahunya tanda nggak tau.


''Ayo kita beres beres saja dulu, nanti kalau jam sembilan Bu bos nggak bangun kita samperin,'' Ujar nya dan segera menyapu lantai butik di lanjut mengepel agar semua pelanggan yang datang ke butik tempat ia bekerja tidak ilfil melihat lantai yang kotor.


2 pegawai kak Pinky emang selalu menjaga kebersihan butik nya, mereka tidak pernah saling iri satu sama lain, semuanya di kerjakan tanpa harus menunggu perintah dari Bu bisa nya, itu yang di suka kak Pinky pada kedua pegawai nya.


2 pegawai yang sudah membersihkan butik langsung ke tempat ia semestinya. Sedangkan yang sering di panggil No kini tengah menuju ruangan Bu bos yang tak lain adalah kak Pinky yang masih terlelap dalam tidur nya.

__ADS_1


Noni mengetuk pintu kamar sang bos, namun tak ada sahutan juga, dan diapun inisiatif masuk sendiri tanpa persetujuan dari sang empu, mungkin sebentar lagi dia akan marah karena sang pegawai sudah lancang masuk ke dalam kamar nya.


Nini menggoyang goyangkqn tubuh kak Pinky perlahan, namun tak kunjung bangun, sampai ide jahil terlintas di kepala sajg pegawai yang berteriak banjir.


''Banjir... Banjir banjir,'' teriak nya yang cukup keras, sehingga kak Pinky langsung bangun dari tidur nya, dan tanpa diduga Bu bos yang sdang di jahili malah berlari keluar dari kamarnya sambil berteriak banjir juga.


''Ayo cepat lari ada banjir,'' Ucap kak Pinkypada pegawai satunya yang masih tak mengerti dengan bos nya yang lari tanpa menggunakan alas kaki itu.


''No, lo apain bos kita. Kok dia lari seperti itu,'' tanya nya penasaran.


''Nggak di apa apain kok? cuma aku teriak banjir doang, ech dia malah langsung bangun dan lari githu saja,'' jawab nya tanpa merasa bersalah, sedangkan di depan kak Pinky sudah kayak orang gila yang berteriak banjir.


''Tadi aku dengar adanyang mengatakan banjir kang?'' jawab kak Pinky bingung dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, mungkin dia sudah sadar saat ini.


''Nggak ada banjir di sini Pinky, tapi kamu kayaknya baru bangun tidur? apa jangan jangan kamu mimpi tadi,'' Ucap nya lagi mengingat kan kak Pinky yang masih memakai baju tidur nya, untung saja dia tidak sedang memakai tengtop dengan celana pendek, kalau sampai itu terjadi betapa malunya dia.


''Ach benar juga ya kang?'' balasnya melihat penampilan nya yang amburadul. ''Kalau gitu saya balik ke butik dech kang?'' pamit kak Pinky. Sepanjang jalan menuju ke butik nya kak Pinky ngedumel karena dia sudah tau kalau dia sedang di kerjai oleh kedua pegawai nya di butik.


''Iseng banget jadi orang, awas saja gue potong gajinya biar nyahok mereka,'' gumamnya kesal dan masuk ke dalam butik nya, dengan tatapan sinis nya, kak Pinky menatap kedua pegawai nya yang tengah tertawa di meja kasir.


''Puas kalian ngerjain gue, puas...!'' seru kak Pinky seraya menggekbungkan pipi nya. ''Kalian berdua tega sama aku ya, aku di luar kayak orang gila teriak teriak banjir, nyatanya ini semua ulah kalian berdua, haaa...!'' Ucap nya ketus.

__ADS_1


''Bukan aku bu bos, ini ulah Noni yang iseng sama bu bos,'' bela Anggi menunjuk ke arah Noni yang kinibtengah cengengesan.


''Maaf bos, aku hanya bermaksud bangunin bos saja? karena sudah jam sembilan tapi bos belum juga bangun, aku goyang goyang kan tubuh bos tapi nggak bangun juga, jadi aku berteriak banjir? bos malah langsung berlari begitu saja, aku juga kaget melihat bos lari keluar sambil teriak banjir?'' jawab Noni menjelaskan dan membela diri.


''Gimana kalau aku keluar hanya menggunakan tengtop dan celana pendek, aku kan tambah malu?'' balas Kak Pinky dengan kemarahan nya. Sampai akhir nya Anggi melihat sesuatu yang melingkar di jari manis bu bos nya.


''Bos? bentar dech,'' Ujar Anggi yang melihat cincin di jari manis bu bos nya. Anggi menghampiri kak Pinky yang kini tengah berkacak pinggang di depan kedua pegawai nya.


''Bu bos, ini apa?'' tanya Anggi yang emang super kepo di butik kak Pinky, namun tampan kehadiran Anggi butik bakalan sepi karena tak ada yang nyerocos lagi di dalam butik.


''Kamu lihat nya apa coba!'' jawab kak Pinky ketus dan masih berkacak pinggang, rasa kesalnya belum juga reda.


''Ini cincin berlian Bu bos?'' jawab Anggi dengan cepat. ''Bu bos tunangan ya,'' tebak Anggi benar. Kak Pinky mengerutkan keningnya seraya menjawab pertanyaan Anggi sang pegawai butik.


''Emang terlihat banget ya,'' jawab nya menyembunyikan jari nya di saku bajunya.


''Beneran bos tunangan? kok kita nggak di undang sich,'' sambung Noni sedih.


''Ech... Ech aku juga nggak tau kalau mau di lamar, tadi malam dadakan acaranya? dan aku juga kaget bakal di lamar di depan keluarga besar nya,'' jelas kak Pinky, agar kedua pegawai nya tak salah paham, karena dia yang tak mengundang nya ke acara lamaran nya.


''Ya sudah Bu bos nggak usah sedih githu, kita nggak apa apa kok, kita turut senang kalau Bu bos bahagia bersama orang yang di cintai, Bu bos berhak bahagia juga kan?'' sambung Noni memeluk sang bos yang sudah ia anggap teman nya. Kak Pinky tak pernah menganggap kedua pegawai nya sebagai pelayan atau pegawai di butik nya, namun kak Pinky menganggap mereka berdua sebagai teman nya, teman curhat dan juga teman berbisnis.

__ADS_1


__ADS_2