
Kak Citra memberikan kartu nya pada pegawai toko, kak Citra pun menghubungi Mas Arzan, kak Citra menyuruh Mas Arzan untuk membawa Karan dan juga Sania ke toko baju dan juga sepatu dan beberapa alat-alat sekolah lain nya, sebelum nya kak Citra mengatakan ijinin Karan pada manager restoran nya.
Setelah puas berkeliling mencari baju, sepatu dan hijab juga, aku dan kak Citra membawa mbak Wati ke tempat lain, aku memasukkan semua barang yang menjadi kebutuhan sehari-hari di dalam troli belanja'an.
''Udah nggak usah kayak gitu, barusan saja sudah berapa uang yang kalian habiskan untuk aku,'' cegah mbak Wati memegang tangan ku.
''Biarlah mbak? kita membahagiakan mbak, walau semua ini sangat terlambat. Mulai sekarang kita berdua yang akan menjaga mbak Wati, seperti kak Candra menjaga kita berdua dulu.'' terang Kak Citra tersenyum.
''Makasih banyak ya? dan maaf kalau sudah merepotkan kalian semua,'' sahut mbak Wati dengan lirih nya.
''Iya sama-sama mbak?'' balas ku dan Kak Citra yang hampir bersama'an. Lantas mereka bertiga tertawa seraya berpelukan, selayak teletubbies yang selalu berpelukan di saat mereka merasa bahagia.
Para pengunjung lain nya menatap ke arah 3 wanita cantik yang sedang berpelukan, mereka bertiga tak menghiraukan orang orang sekitar. ''Masa bodoh?!'' kata kak Citra.
Dua orang suruhan Mas Arzan sudah datang menghampiri nya, untuk membawa barang belanja'an nya.
'Barang sebanyak itu mau di taruh di mana? sedangkan rumah yang aku huni sekarang hanya cukup di huni kita bertiga saja,' batin mbak Wati menatap semua barang barang yang di belikan adik ipar nya.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil yang mas Arzan baqa tadi bawa, sedangkan barang barang yang ia beli di bawa oleh suruhan Mas Arzan.
__ADS_1
Aku senang sekali karena Mas Fabian suami ku, dan juga Mas Arzan suami kak Citra begitu peduli dengan istri dan anak anak kak Candra, aku merasa lega melihat mereka akrab, dan lagi? kakak ipar ku ternyata bisa memberi pengertian pada Mikaela puteri kecilku yang begitu menginginkan seorang adik bayi, aku tambah setres ketika puteri ku merengek meminta adik bayi, sedangkan aku sendiri sudah berusaha selama setahun ini untuk segera di karuniai seorang anak lagi, mau itu laki-laki ataupun perempuan aku pasrah kan sama yang maha Kuasa, karena dialah sang Pencipta? aku hanya bisa berpisah diri agar tak lama lagi aku bakalan ngerasain hamil lagi, batinku.
Mas Arzan mengendarai mobil nya di keramaian kota Jakarta, kini mery sudah begitu lelah setelah setengah hati jalan jalan mengelilingi Mall, serta berbelanja bermacam-macam kebutuhan sehari-hari buat mbak Wati
Tanpa sepengetahuan aku dan kak Citra, Mas Arzan sudah menyuruh orang untuk mencari rumah di dekat sekolah, di mana Karan dan juga Sania bersekolah sekarang.
Mungkin kita sudah begitu lelah sampai tak menyadari kalau kita sudah berada di halaman yang tak begitu luas, namun sangat nyaman untuk di tempati mbak Wati dan anak-anak nya.
''Sudah sampai? ayo turun,'' kata Mas Arzan membuka pintu mobil untuk kak Citra dan kami semua.
Sangat lama aku memandang rumah yang begitu asri yang ada di hadapan ku saat ini.
''Ayo kita masuk sekarang, kita istirahat di sini sebentar,'' ajak Mas Arzan santai.
''Ayo mbak? semua nya,'' lanjut nya lagi, seraya mengeluarkan kunci pintu rumah yang berada di saku celana nya.
Aku sama mbak Wati mengikuti yang lain belakangan, Mas Arzan membuka pintu dan aku kaget melihat semua barang yang kita beli tadi sudah berada di dalam rumah yang saat ini kita masuki. Namun aku tak berani untuk bertanya pada Mas Arzan, bukan nya takut atau apa, tapi lebih tepat nya kita malu sama beliau, karena Mas Arzan sendiri orang nya tak banyak bicara sama kita semua.
''Maaf sebelum nya dek? ini tumah siapa'' tanya mbak Wati membuka suara untuk bertanya padanya.
__ADS_1
Mas Arzan menghampiri mbak Wati yang sedang bersamaku saat ini.
''Ini buat mbak,'' ujar Mas Arzan memberikan kunci rumah pada mbak Wati. Mbak Wati hanya tertegun dengan apa yang di lakukan Mas Arzan, sedangkan aku menutup mulut ku tak percaya kalau ternyata Mas Arzan membawa kita jalan jalan selama kurang lebih 6 jam, nyatanya dia malah menyuruh orang nya untuk mencarikan rumah untuk kakak ipar nya, aku tak menyanhka saja Mas Arzan memiliki pemikiran yang tak bisa orang duga sebelumnya nya.
''Apa maksud dari semua ini Dek? aku tak membutuhkan ini semua, aku sudah punya rumah walau itu hanya rumah kontrakan kecil saja,'' balas mbak Wati sedih.
''Nggak, bukan maksud saya untuk membuat mbak sedih, tapi ini saya lakukan untuk anak anak mbak, agar pergi sekolah nya dekat saja, bukan apa apa, maaf kalau saya sudah membuat mbak sedih, tapi ini saya lakukan agar Karan dan Sania lebih dekat saja jalan nya, lagian kita kan keluarga sekarang, mbak Wati nggak usah punya pemikiran yang mengatakan kalau kita mau pamer atau apa, kita keluarga? mbak Wati senang istri saya juga senang mbak, itu yang saya lakukan sekarang.''
''Sudah cukup istri ku menderita selama ini, dan sekarang melihat dia bahagia saya juga ikut bahagia mbak, jadi di terima ya mbak?'' Ucap Mas Arzan panjang lebar. Aku terharu mendengar nya, aku pun menghambur pada Mas Fabian, aku menangis di pelukan suami ku dengan perlakuan suami kakak nya.
Sebenarnya Mas Fabian juga ikut andil dalam rencana Mas Arzan, namun itu mungkin rahasia mereka berdua, jadi para istri tak perlu tau bahkan mungkin menerima beresnya saja.
Mbak Wati menggeleng pelan dan meneteskan air matanya melihat keluarga dari almarhum suaminya begitu baik pada keluarga nya.
Kak Citra merengkuh tubuh kurus mbak Wati, mungkin selama ini mbak Wati terlalu keras dalam bekerja hanya untuk mencari sesuap nasi serta uang jajan untuk kedua anak nya.
''Terima ya mbak, ini murni pemberian dari Mas Arzan, bahkan Fabian juga ada di balik semua ini,'' Ucap kak Citra dengan lirih nya.
Aku juga menghampiri mbak Wati dan kak Citra, aku memeluk nya dengan erat. ''Terima ya mbak, mungkin ini sudah rezeki nya mbak? dan juga anak anak, kasian kalau mereka harus berjalan kaki terlalu jauh dari rumah kontrakan mbak yang sekarang ini di tempati nya,'' kataku mengelus punggung kakak iparku yang kini tengah menangis sesenggukan.
__ADS_1