
Keesokan harinya aku memilih untuk pergi dari rumah sepagi mungkin, bahkan Ibu dan yang lainnya belum bangun dari tidurnya, aku sengaja memilih pergi dari rumah pagi pagi sekali agar tak mendapatkan pertanya'an pertanya'an yang bikin aku down dan semakin sedih, aku tak mau merusak kebahagia'an mereka, selama aku bisa menyembunyikan penyakit ku kenapa tidak?
Aku sengaja tak membawa ponsel dan juga mobil, aku hanya ingin menenangkan diri dulu di tempat yang tak ada orang yang akan mengganggu ketenangan nya, aku ingin belajar ikhlas menerima semua cobaan yang Allah berikan padaku sekarang ini.
Pagi ini aku memilih untuk bolos kuliah, aku pergi ke villa kakek Sanjaya yang ada di puncak, karena aku ingin menyendiri walau hanya satu dua hari ini.
Di kediaman Bu Wati kini sedang gaduh karena kepergian Sania yang terkesan mendadak. ''Karan, apa adekmu memberitahu kamu kalau dia mau pergi kemana?'' tanya Bu Wati khawatir.
''Adek dari kemarin terkesan menghindar dari ku Ibu? aku juga nggak tau kenapa dia sekarang berubah?'' jawab kak Karan memeluk sangat Ibu yang sudah menangis, jahat memang yang aku lakukan? tapi aku cuma butuh menenangkan diri dulu selama beberapa hari ini.
''Ibu? adek cuma meninggalkan kertas ini di atas nakas nya,'' ujar kak Pinky yang baru datang.
Ibu semakin sedih ketika sudah membaca isi pesan tersebut yang berisi.
...To: Ibuku tersayang. ...
Maafkan Sania Ibu, Sania pergi dulu beberapa hari hanya untuk menenangkan diri. Aku harap Ibu dan kak Karan baik baik saja di rumah, jangan khawatir kan Sania Bu? aku pergi bukan untuk selamanya cuma beberapa hati saja, kalau Sania ijin dulu sama kalian, takutnya kalian semua malah nggak ngijinin Sania pergi. Sekali lagi Sania minta maaf Bu. Sania sayang kalian.
''Sebenarnya apa yang terjadi pada adikmu Karan? dia selama ini tak pernah begini,'' tanya Ibu Wati pada kakak.
''Karan juga nggak tau Bu, tapi bukankah di kertas ini sudah mengatakan kalau Sania hanya pergi beberapa hari saja dari rumah, jadi Ibu tak usah khawatir oke, Karan akan berangkat ke kantor dulu?'' jawab kak Karan mencoba menenangkan Ibu Wati.
Bu Wati mengangguk, dan kak Karan mengambil tangan sangat Ibu dan mencium punggung tangan nya, begitu juga dengan kak Pinky, dia mencium punggung tangan kak Karan dengan takdzim.
''Jaga Ibu, jangan biarkan dia keluar rumah sendirian,'' pesan kak Karan lalu diapun beranjak pergi karena Alexander sudah menunggunya di luar rumah.
Kak Pinky membawa sangat mertua ke dalam kamarnya untuk istirahat. ''Lebih baik Ibu istirahat saja di sini, mungkin adek lagi ada masalah makanya dia ingin menyendiri dulu Bu,''
__ADS_1
''Iya, tapi Ibu masih khawatir kalau Ibu belum tau dia ada di mana sekarang? coba kamu telfon tante kamu tanya apa Sania ada di rumah nya sekarang,'' jawab Bu Wati menyuruh kak Pinky untuk menelfon kedua tante ku.
Kak Pinky mencari nomor ponsel tante Cinta dan segera menghubungi nya.
Tut ... tut ... tut....
Panggilan tersambung dan tak membutuhkan waktu yang lama tante Cinta langsung menerima panggilan tersebut.
-''Ada apa Pinky?'' tanya nya ketika sudah menggeser layar ponsel nya.
-''Tante, apa Sania ada di rumah tante sekarang?'' tanya kak Pinky.
-''Sania nggak ada di rumah, emangnya kenapa dengan Sania Pinky,'' jawab tante Cinta yang mulai khawatir juga.
-''Ada ap dengan dia Pinky, kenapa kamu bertanya Sania ada di sini atau nggak.
-''Ya sudah tante, kalau gitu Pinky matikan panggilan nya.'' Ucap Pinky lalu memutuskan panggilan nya.
''Bagaimana, apa dia di sana sekarang?'' tanya Bu Wati lirih.
''Sania nggak ada di sana Bu, ibu yang tenang sabar ya, Pinky mau tanya sama tante Citra dulu,'' sahutnya.
''Sudahlah nggak usah, kamu istirahat saja di kamar kamu, Ibu juga mau tidur sekarang,'' gumam Bu Wati memejamkan matanya.
'Ada apa dengan puteri ku sekarang, apa yang sudah terjadi sama dia selama ini, apa akun terlalu sibuk dengan acara pernikahan kemarin? sehingga dia merasa di abaikan sepet itu, maafkan Ibu nak? Ibu harap kamu secepatnya kembali ke rumah,' ucap Bu Wati dalam hati.
...****************...
__ADS_1
Kak Karan dengan yang lainnya sedang mengadakan rapat bulanan bersama para karyawan di kantor nya, ketika om Arzan mendobrak pintu ruangan rapat nya. Semua mta tertuju pada tuan Arzan yang kini tengah berdiri di ambang pintu. Kak Karan yang melihat langsung membubarkan para karyawan nya yang sedang mengikuti rapat di sana.
''Kalian kembali lah kerja dulu, besok kita lanjutkan kembali rapat kita ini,'' ujar kak Karan pada semua karyawan nya, semua nya membubarkan diri dengan penuh tanda tanya, dengan tatapan Om Arzan yang begitu menakutkan itu.
''Duduklah Om, ada apa Om datang kemari? dengan tatapan seram seperti itu,'' tanya kak Karan tak serius.
''Jangan banyak omong lah Karan, barusan tante kamu bilang Sania pergi dari rumah, apa benar?'' tanyanya penuh dengan selidik.
''Tante tau dari siapa Om?'' tanya kak kak Karan terkejut, karena keluarga nya sudah mengetahui kalau adiknya pergi dari rumah nya.
''Tadi Pinky bertanya pada Cinta, dan dia langsung menelfon tante Citra kamu, benar yang Om tanyakan kalau Sania pergi dari rumah.''
''Iya Om, Sania pergi dari rumah? tapi dia bilangncuna beberapa hari saja kok, dia juga bilang akan pulang setelah fikiran nya merasa tenang,'' jawab kak Karan, ''Tapi jangan khawatir, Karan sudah menyuruh orang untuk mencari keberadaan Sania kok Om?''
''Nggak usah di cari lagi, dia aman kok sekarang? anak buah Om bilangn Sania ada di villa kakek nya,''
''Beneran Om?'' tanya ku dengan senang. Om Arzan mengangguk.
''Sebenarnya ada masalah apa dengan dia Karan, tidak biasanya dia seperti itu?'' tanya Om Arzan mulai menyelidiki kak Karan.
Kak Karan menunduk seraya berkata, ''Karan belum tau Om, mulai kemarin dia selalu menghindari kami semua dari rumah, dan pagi tadi dia tiba tiba pergi membuat Ibu menjadi sedih, Ibu merasa bersalah? karena kemarin sempat mengabaikan Sania untuk mempersiapkan pernikahan Karan dengan Pinky Om?''
''Itu bukan alasan yang tepat Karan? atau mungkin juga Sania menyembunyikan hal lain dari kalian semuanya, kita harus menyelidiki semua nya tanpa sepengetahuan Sania,'' sela Om Arzan menatap tajam ke arah kak Karan.
''Pasti Om, Karan akan mencari tau apa penyebab dia sampai pergi dari rumah,''
balas kak Karan dengan badan tegasnya dan berjanji akan menemukan apa penyebab sang adik pergi dari rumah dan memutuskan untuk tinggal di villa tersebut.
__ADS_1