
''Enggg,'' aku menggeliat meregangkan otot-otot kaku ku, karena sudah terlalu lama tidur nya, aku membuka mata perlahan dan aku pun terkejut ketika melihat kak Arlan berada di sofa di dalam kamar ku.
''Kak Arlan?'' Ucap ku kaget, dan menarik selimut ke atas dada.
''Kamu sudah bangun Sania,'' jawab kak Arlan lembut sembari tersenyum padaku, senyuman yang begitu manis? membuat ku seakan terbang melayang melihat senyuman kak Arlan saat ini.
''Kenapa kak Arlan ada di kamar Sania?'' tanyaku dan merubah posisi menjadi duduk setelah aku melihat kalau akun sudah memakai baju. 'Seperti nya Ibu yang memakai kan baju ini dech,' gumam ku dalam hati.
''Sebenarnya saya sudah dari tadi di sini, nunggu kamu bangun,'' jawab kak Arlan dengan santai nya.
''Jangan bilang kak Arlan sudah ngapa ngapain Sania ya?'' Ucap ku lagi, menelisik penampilan ku yang kini sudah memakai baju yang lain.
''Emang aku mau ngapain kamu sich Sania? kalau kamu istri ku baru aku mau ngapa ngapain kamu,'' jawab kak Arlan menatap nyalang Sania.
''Kenapa kalian ribut sich?'' Ucap Ibu ketika membuka pintu kamar ku.
''Ini Bu? kenapa kak Arlan ada di dalam kamar Sania!'' jawab ku menatap Ibu yang tengah tersenyum. ''Terus, kenapa baju Sania bisa ganti dengan ini!'' tunjuk ku pada Ibu yang kini malah semakin terkekeh, aku melihat Ibu yang seperti ini menjadi jeng ngah.
''Ibu jawab saja sich, nggak usah tertawa kayak githu? lawong Sania tanyanya serius malah di ketawain, bikin kesel saja dech!'' celetuk Sania yang mulai kesal dengan tingkah sang Ibu, yang dengan teganya mentertawakan puteri nya di depan laki-laki yang menurutku sudah mengobrak-abrik hati ku.
''Kalau bertanya tu ya satu satu sayang?'' jawab Bu Wati menghampiri ku dan duduk di samping ranjang ku. ''Yang gantiin kamu baju Ibu, sebelum dokter masuk ke kamar ini, masak iya kamu mau memperlihatkan tubuh ringkih kamu pada dokter Fadil?'' jawab sang Ibu menatap ku lekat lekat.
__ADS_1
''Ya nggak githu juga Bu, Sania hanya terkejut saja melihat Sania sudah memakai baju ini, sedangkan Sania kan hanya memakai tengtop saja,'' balas Sania menatap Ibu juga. Sedangkan kak Arlan hanya menjadi pendengar yang baik dan pemerhati yang setia, pikir ku.
''Terus? kenapa kak Arlan ada di kamar Sania Bu,'' ucap ku, mengingat pertanyaan yang hampir saja di lupakan.
''Tadi kakak kamu kesini bareng nak Arlan, terus kakak kamu nitipin sama nak Arlan, takutnya terjadi sesuatu jadi tinggal bawa kerumah sakit saja,'' jelas Bu Wati pada Sania.
''Bunda? kalau begitu Arlan keluar dulu,'' pamit kak Arlan ragu ragu.
''Lebih baik kak Arlan makan malam dulu bareng Bunda dan juga yang lain nya,'' jawab Bu Wati lembut. ''Kayak nya Karan juga sudah sampai di rumah?'' lanjut Bu Wati ketika mendengar suara mobil yang berhenti di depan teras.
''Tapi Bunda? Arlan hrus kembali ke restoran sekarang,'' balas kak Arlan, secara sengaja menolak ajakan Ibu.
''Lebih baik kak Arlan ikut kita makan saja sekarang, laginoula kak Karan juga sudah datang kan?'' aku menyela ucapan Ibu dan kak Arlan.
''Ayo Ibu bantu ke meja makan?'' Ibu menuntunku layak nya aku sedang sakit begitu parah, sehingga harus membutuhkan bantuan orang lain.
''Ibu? Sania bisa sendiri, Sania sudah sembuh jadi Ibu jangan berlebihan seperti ini pada Sania,'' Ujarku melepaskan rangkulan Ibu dengan perlahan.
''Ya sudah, Ibu akan memanggil kakak kamu di kamar nya,'' balasnya melangkah pergi.
''Nak Arlan? tolong temani Sania ke meja makan, Bunda takut dia masih merasakan pusing seperti yang ia katakan tadi siang pada Ibu,'' pinta Ibu pada kak Arlan.
__ADS_1
''Ibu? Sania sudah sehat kok,'' rengek Sania lalu menarik nafas panjang dan menghembuskan secara perlahan.
''Baiklah kak Arlan, ayo kita turun? Sania juga sudah sangat lapar,'' aku yang sudah malu dengan terpaksa mengajak kak Arlan, sebenarnya wajahku kini sudah memerah seperti tomat, mendapatkan perhatian yang seperti itu dari kak Arlan. 'Sania, jangan berharap lebih dech kamu sama kak Arlan? belum tentu dia menyukai kamu layaknua sebagai pacar, dia hanya menyanyi kamu sebagai adik dari sahabat sekaligus teman kakak kamu,' ucap ku dalam hati, dan menggeleng geleng kan kepala ku pelan.
''Kenapa Sania? kepala kamu sakit lagi,'' tanya kak Arlan menghampiri ku yang kini berada di tengah tengah tangga.
''Sania nggak apa apa kok kak?'' balas ku tanpa menatap kak Arlan, aku dengan cepat menuruni anak tangga yang kini sudah tinggal beberapa lagi.
Setelah sampai di meja makan? aku tak melihat Ibu di sana, aku yang sudah sangat lapar hanya memanggil Ibu dari bawah. ''Ibu...? ayo cepat, Sania bs udah lapar banget!'' teriakku yang begitu nyaring, sehingga membuat orang yang ada disamping ku sekarang hanya bisa menutup telinga nya rapat rapat.
''Ap sich dek teriak teriak githu? kayak di hutan tau,'' seru kak Karan yang kini tengah menuruni anak tangga, dia berjalan menghampiri ku dan duduk tepat di depan ku saat ini.
''Lagian Ibu lama banget manggil kakak, Sania kan sudah lapar banget?'' rengek ku pada kak Karan.
''Kalau lapar? harus nya makn dong, kan tinggal ambil dan makan saja, tak perlu memasak lagi kan?'' jawab kak Karan yang segera berdiri dari duduk nya, dan mengambil piring ku. Kak Karan mengambil kan aku nasi beserta lauk pauk yang sudah tersaji di meja makan.
''Arlan? kamu jangan kaget dengan tingkah manja adek gue ya? ini sudah setiap hari seperti ini. Merengek, menangis dan bermanja selalu sama kakak nya, aku juga bingung, bagaimana kalau aku sudah berkeluarga dan tak ada lagi di samping nya,'' Ujar kak Karan panjang lebar.
''Kak Karan apa'an sich? buka aib Sania saja,'' gerutu ku dan menyendok nasi dan memasukkan ke dalam mulutku, perutku sudah ber disco minta cepat cepat di isi.
''Kenapa nggak makan?'' tanya ku ketika melihat kedua nya yang sedang menatap ku dengan tatapan penuh tanda tanya.
__ADS_1
''Sudah jangan ngomong kalau sedang makan, kunyah dulu tuh makanan yang ada di dalam mulut mu itu.'' sela kak Karan mengingat kan aku. Aku hanya terkekeh mendengar perkataan kak Karan, dan kembali menyantap makanan ku lagi. 'Bodo amat mereka nggak makan, yang penting aku kenyang,' Gumam ku dalam hati.