
''Soalnya teman ku Tari tadi bilang kalau di dalam perutku tidak cuma ada satu adik baby nya Mas?'' Ucap nya meyakinkan Arlan suami nya.
''Ya sudah, kita besok ke rumah sakit dan kita lihat bersama sama, ada berapa baby di dalam sini,'' balas Arlan yang kini sudah menempelkan hidung nya di perut Sania, Arlan menciumi perut sang istri karena gemas dengan pernyata'an istri kecil nya barusan, sedangkan bulan bulan kemarin dia tidak pernah mau melakukan USG. Tapi sekarang malah dia sendiri yang ngebet pengen melakukan USG, memang iya kelakuan wanita hamil tidak akan bisa di tolak begitu saja oleh suami nya termasuk aku sendiri, pikir Arlan menggelengkan kepala nya pelan.
''Jangan terlalu di pikirkan? lebih baik kita bobok sekarang,'' ajak Arlan kepada istri kecil nya, untuk malam ini mereka berdua memilih tidur di rumah baru nya, dan besok sore rencana nya mau balik ke rumah sang Bunda, Arlan tidak ingin istri kecil nya berada di rumah ini sendirian tanpa orang tuanya di sisi nya.
Sania dan Arlan berjalan menuju kamar yang ada di lantai bawah, karena mengingat perut Sania yang cukup besar hanya dengan satu bayi saja.
Arlan juga terlihat membantu istri kecil nya karena terlihat sangat susah dalam membaringkan tubuh nya, selama ini Sania tidak pernah mengidam hal yang aneh aneh, hanya saja dia lebih memilih meminta makanan dengan porsi yang cukup besar, sehingga orang yang melihat nya hanya bisa menggelengkan kepalanya, makanya tubuh dia sekarang naik pesat.
''Mas, aku tambah gendut ya,'' tanya Sania di sela sela akan memejamkan mata nya.
''Nggak apa apa kok? yang penting bayi kita sehat, kamu juga sehat?'' jawab nya mengelus perut besar Sania. ''Sudahlah sayang, kamu cepat pejamkan mata kamu sekarang? kamu harus banyak istirahat oke,'' tambah Arlan mengecup puncak kepala Sania, Sania menelusup kan kepala nya ke dada bidang suami tampan nya, dan setelah itu dia tertidur dengan nyenyak, sehingga Arlan bisa meninggalkan Sania ke kamar sebelah untuk mengambil laptop nya.
Arlan melangkah dengan perlahan dari kamar yang ia tempati sekarang, agar tidak mengganggu istri nya tersebut. Arlan berjalan menuju salah satu kamar nya untuk mengambil laptop yang ia taruh di salah satu kamar tadi, Arlan memilih bekerja di sana agar bisa leluasa dalam berpikir dan mengerjakan pekerjaan kantor nya yang lumayan banyak, karena Arlan memilih pulang lebih dulu ketimbang pulang dengan jam kantor nya. Itu semua perminta'an Sania jadi Karan sebagai kakak dan juga pemilik kantor menuruti perminta'an sang adik.
''Kok perasa'an aku nggak enak gini ya, apa jangan jangan Sania bangun?'' gumam Arlan dan beranjak dari duduk nya dan segera melangkah pergi menuju kamar nya.
Dengan laptop yang masih ada di tangan nya, Arlan buru buru pergi ke kamar melihat sang istri yang ternyata masih sangat lelap dalam tidur nya. ''Mungkin hanya perasa'an ku saja, sehingga membuat perasa'an ku tertuju kepada istri kecil ku ini,'' lirih nya, dia kembali mencium puncak kepala Sania.
Arlan pun memutuskan di dalam kamar nya, agar dia bisa sambil memantau istri kecil nya.
Arlan menyelesaikan pekerja'an nya hingga pukul 3 dini hari dan tanpa sepengetahuan dari Arlan Sania sudah membuka mata nya dan meraba sisi kasur nya yang ternyata kosong, bahkan terasa sangat dingin yang menyatakan kalau suaminya tidak tidur sejak semalaman.
Sania mencoba membangunkan bobot tubuh nya yang lumayan besar dengan susah payah, sehingga Arlan menyadari kalau ternyata istri kecilnya sudah bangun. Arlan beranjak dan segera menghampiri Sania dengan buru buru takutnya istri nya itu jatuh karena terlalu memaksakan untuk bangun sendiri dari tidur nya.
''Sayang, kamu mau kemana?'' tanya nya dan membantu Sania dengan menarik lengan nya dan menyanggah bahunya dengan salah satu tangan nya juga.
__ADS_1
''Mas Arlan belum tidur sama sekali?'' bukan nya menjawab pertanya'an suami nya, Sania malah melemparkan pertanya'an juga kepada sang suami.
''Mas belum tidur, karena harus menyelesaikan pekerja'an Mas terlebih dulu,'' jawab nya memegang kaki Sania yang mulai bengkak, Arlan menurunkan salah satu kaki istri nya agar bisa turun dari tempat tidur nya.
''Sebenarnya kamu mau kemana sich sayang, Mas bantu ya,'' Ucap Arlan memegang tangan Sania yang sudah mulai berdiri di samping tempat tidur.
''Sania mau ke kamar mandi Mas, Sania kebelet pipis dan juga mau ambil wudhu juga,'' sahut nya dengan lembut seraya mengulas senyum ke arah suami nya.
''Mas bantu kamu ke kamar mandi, takut nya kamu malah kenapa-kenapa lagi di dalam?'' Ujar Arlan menuntun istri kecil nya menuju kamar mandi.
''Serasa nenek nenek saja aku kalau seperti ini Mas,'' gumam Sania yang melihat dirinya yang ndi tuntun seperti itu oleh suami nya.
Namun alih alih buang air kecil Sania di kagetkan dengan darah yang mengalir dari ************ nya, sehingga Sania menjerit histeris melihat darah yang sudah mengalir begitu saja.
''Mas, darah!'' seru nya membuat Arlan panik melihat istri kecil nya mengeluarkan darah, Arlan membopong tubuh besar istri nya untuk segera di bawa ke rumah sakit hari ini juga, tak lupa juga Arlan menghubungi Karan dan juga sang Bunda di perjalanan menuju ke rumah sakit.
''Kamu yang sabar ya sayang? bayi kita akan baik baik saja kok, sebentar lagi akan sampai di rumah sakit, kamu berdo'a saja jangan menangis lagi?'' sahut Arlan menggenggam tangan Sania, mencoba menguatkan istri kecil nya yang sedang sedih dan juga khawatir terjadi sesuatu dengan bayi yang ada di perut nya.
Sesampainya di rumah sakit Arlan membuka pintu mobil nya dan memanggilnya dokter yang bertugas di sana, dengan sigap Pak satpam membawakan brankar ke sisi mobil Arlan, Arlan menggendong Sania keluar dari mobil nya, Arlan memejamkan mata nya sejenak ketika masih melihat darah di baju istri nya, ''Kamu kuat sayang?'' bisik Arlan dan menaruh Sania ke atas brankar dengan sangat hati hati.
Arlan dan para suster mendorong brankar masuk ke dalam ruangan, sebelum nya salah satu suster sudah menghubungi dokter kandungan yang menangani Sania selama ini.
''Tuan Arlan lebih baik tunggu di sini saja ya,'' Ucap sang suster mencegah Arlan yang juga ingin masuk ke dalam ruangan tersebut, Arlan mengangguk pasrah dan tak lama kemudian dokter yang selalu memeriksa Sania mendatangi ruangan tersebut.
''Dokter, tolong istri saya, dia pendarahan?'' kata Arlan ketika melihat dokter kandungan masuk ke UGD.
''Baik tuan, lebih baik anda berdo'a saja untuk keselamatan istri dan calon anak anda,'' jawab nya dan segera melangkah kan kakinya masuk ke dalam ruangan dengan perasa'an yang campur aduk.
__ADS_1
''Dokter, selamat kan anak saya dokter?'' Ucap Sania ketika melihat dokter kandungan nya datang.
''Iya pasti, Nona Sania yang tenang ya, sabar dan coba untuk lebih rilex lagi, agar kamu bisa menangani semua ini dengan baik,'' jawab nya mulai memeriksa perut Sania dengan sangat hati hati.
''Sudah selesai, lain kali Nona Sania hati hati lagi ya,'' ucap sang dokter membuat Sania menghentikan tangisan nya. ''Apa kami boleh melakukan pengecekan semacam USG sekarang, takut nya kami malah salah dengan pemikiran kami saat ini,'' tambah sang dokter yang langsung di angguki oleh Sania.
''Kalau begitu para suster siapkan alat alat nya dan panggil tuan Arlan di depan, agar beliau juga tau bayi nya kembar atau tidak,'' perintah sang dokter kepada salah satu suster nya yang langsung di angguki nya, dengan sangan cepat suster itupun memanggil Arlan yang sedang duduk di kursi tunggu dengan Karan dan juga Bunda nya.
''Tuan Arlan? boleh masuk sekarang?'' kata suster ketika sudah ada di depan Arlan yang sedang menundukkan kepala nya.
''Baiklah suster,'' jawab nya dan menoleh ke arah sang Bunda.
''Masuklah, Bunda akan tunggu di sini oke, kamu jangan nampak kan wajah sedih kamu agar istri kamu tidak menjadi sedih juga,'' pesan sang Bunda yang di angguki oleh Aelan dan segera mengikuti langkah sang suster menuju ruangan di makan di sana Sania masih terbaring, tapi Arlan sudah tidak melihat darah lagi di sana, dalam hatinya Arlan sangat bersyukur karena tidak terjadi apa apa dengan istri kecil nya.
''Tuan Arlan, duduk lah di sini? kami akan melakukan pemeriksa'an kepada istri cantik anda ini,'' Ucap sang Dokter yang menyuruh Arlan duduk di samping Sania. Dan dokter pun langsung melakukan pemeriksaan dengan sangat hati hati, lalu kemudian sang dokter menggelengkan kepala nya dengan pelan.
''Kenapa Dokter?'' tanya Arlan yang tengah di landa rasa penasaran karena sang dokter hanya geleng geleng ngu jelas seperti itu.
''Ternyata dugaan saya meleset Nona, bayi anda bukan hanya ada dua melainkan ada tiga bayi di dalam sini,'' jawab nya membuat Sania dan Arlan begitu terkejut mendengar penuturan dari sang dokter.
''Ti--tiga bayi dokter?'' tanya Arlan dengan gugup, dia masih belum percaya dengan semua nya, yang mengatakan kalau ada tiga bayi di dalam perut istri nya.
''Benar tuan, anda bisa lihat sendiri ini,'' kata sang dokter menunjuk ke arah layar yang memperlihatkan sebuah gambar yang sangat menggemaskan di sana.
''Bayi anda 2 perempuan dan satu laki-laki,'' lanjut sang dokter setelah memeriksa semua nya, ''Jantung nya juga normal dan semua nya sehat sehat saja, tapi saya menyarankan agar Nona Sania melakukan operasi cesar, karena dia tidak mungkin bisa mengeluarkan bayi kembar nya dengan lahiran normal, saya takut terjadi sesuatu kalau di paksakan lahiran normal,'' lagi lagi Sania di buat terkejut, karena dia sebenarnya menginginkan lahiran normal, tapi apa boleh buat ini semua demi keselamatan bayi bayinya dan juga dirinya sendiri.
''Baiklah Dokter,'' jawab Sania menganggukan kepala nya.
__ADS_1