
Sedangkan Sania masih sibuk mengecek buku buku yang ada di ruangan nya itu, dia sangat bingung ketika ada salah satu berkas yang ia tidak mengerti.
''Bagaimana ini, kenapa aku sebodoh ini sich cuma mengerjakan beberapa berkas saja, bagaimana bisa aku menjadi orang yang sukses besok,'' gumam Sania menjambak rambut nya frustasi.
''Sabar Sania, kamu masih bisa bertanya masalah ini pada kakak mu nanti?'' tambah nya lagi, mengingat masih ada kakak nya yang akan membantu nya di setiap ada masalah yang akan di hadapi sang adik
''Lagian kak Arlan kenapa harus memundurkan diri dari restoran ini sich,'' Ucap nya mengingat Arlan yang tiba-tiba berhenti begitu saja dari restoran yang ia kelola sekarang ini. ''Sudah lah, mungkin kak Arlan akan sukses di pekerjaan yang lain nya,'' tambah nya mengingat hal itu semua.
''Kamu makan dulu, aku ingin ke toilet sebentar,'' gumam Rani yang khawatir pada Sania, dia mengatakan seperti itu pada Gita agar dia tidak curiga kalau dirinya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
''Baiklah, jangan lama-lama dan aku makan duluan ya, laper?'' sahut Gita menyunggingkan senyuman nya.
Rani hanya mengangguk dan melangkah pergi menuju ruangan Sania. Ya walaupun Rani sendiri tidak tau di mana letak ruangan Sania berada.
''Mas, ruangan Sania di mana ya?'' tanya Rani pada chef di restoran Sania.
''Mbak lurus saja, setelah itu belok kiri di situ ruangan Nona Sania,'' jelas sangat chef yang di angguki Rani.
Tak lupa Rani mengucapkan terima kasih sebelum dia pergi menemui Sania di ruangan nya. ''Terima kasih ya mas?'' kata Rani beranjak pergi.
''Semoga saja Sania nggak kenapa napa di ruangan nya,'' pikir Rani yang terus melangkah pergi.
Tok tok tok
Pintu ruangan Sania di ketuk dari luar.
__ADS_1
''Masuk,'' Ucap Sania menyuruh seseorang yang mengetuk pintu ruangan nya.
''Sania kamu nggak apa apa kan?'' tanya Rani memberondong Sania, setelah masuk ke ruangan teman nya.
''Aku nggak apa apa kok Rani? kamu sudah makan belum,'' jawab Sania dan sekaligus bertanya juga.
Rani menggeleng, ''Kalian belum di antarkan makanan sama teman teman di sini,'' tanya Sania membelalak, karena dia tadi sudah menyuruh pegawai nya untuk mengantarkan makanan pada kedua sahabat nya.
''Bukan nggak di antarkan makanan, makanan nya sudah tertata di meja? tapi aku memilih untuk menemui kamu dulu, takutnya terjadi sesuatu sama kamu di sini?'' jawab Rani nyengir kuda, ''Lagian kamu sich lama banget di ruangan nya, kan tadi kamu bilang nya cuma sebentar?'' tambah Rani yang kini sudah menarik tangan Sania untuk segera bergabung dengan Gita di luar.
''Iya Rani, aku juga bingung harus bagaimana sekarang? penyakit ku semakin parah dan dosen killer itu menyarankan agar aku segera kemoterapi?'' jawab Sania lirih, di pelupuk matanya sudah mulai menggenang air mata nya yang siap menetes di kedua pipinya.
Mendengar itu Rani langsung memeluk Sania teman baik nya yang kini menderita penyakit leukemia. ''Kamu yang sabar ya Nia, mungkin dengan kemoterapi penyakit kamu akan sembuh, aku sangat berharap kamu bisa sembuh dan ceria seperti dulu lagi? aku kangen Sania yang dulu, lincah, pemberani dan juga gemoy?'' lirih Rani, kini keduanya tengah terisak dalam pelukan masing-masing.
''Sudah ayo cepat keluar, nanti Gita nyariin lagi,'' Ucap Rani yang sudah menghapus air matanya dengan tissu yang Sania berikan.
Sania mengangguk dan mengikuti langkah Rani dari belakang nya, sedangkan di luar Gita sedang kesal karena di tinggal sendirian.
''Kemana aja sich kalian berdua,'' sarkas Gita menatap Rani, ''Sania juga? bilang nya cuma sebentar, ini malah lama banget,'' omel Gita seraya melipat kedua tangan dan di letakkan di depan dadanya.
''Sorry, toilet nya antri? jadi lama banget di sana, apalagi aku balik berapa kali ke dalam toilet?'' sahut Rani ngasal dan mendaratkan bokongnya di tempat yang tadi ia duduki.
''Sania juga mau pakek alasan yang sama!'' tanya Gita ketus, dia menghentakkan kakinya ke lantai saking kesal nya kepada kedua teman nya.
Sania hanya nyengir kuda menanggapi omelan Gita yang menurutnya kayak bocil.
__ADS_1
''Sudah, nggak usah berdebat lagi? sekarang kita makan saja, habis itu kita pulang aku sudah kangen kasur empuk ku di rumah,'' sela Sania di tengah tengah celetukan Gita yang memang super bawel.
Akhirnya mereka bertiga makan bersama di restoran Sania, selesai dengan kegiatan makan nya mereka bertiga pun akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing, Sania lebih memilih untuk memesan taksi.
''Lebih baik kamu ikut mobil bareng kita kita Sania?'' ajak Gita yang di angguki Rani. Namun mereka berdua harus kecewa karena Sania menggeleng kan kepalanya pelan.
''Terima kasih sebelum nya? tapi aku sudah pesan taksi,'' Sania menolak ajakan kedua teman nya dengan lembut.
''Ya sudah kalau begitu, tapi kamu langsung pulang kan?'' tanya Rani yang kini menghampiri Sania.
''Iya, aku langsung pulang kok? lagian mau kemana juga sudah malam begini,'' sahut Sania mengembangkan senyumnya nya, ''Kamu nggak usah khawatir sama aku?'' tambah Sania menepuk pelan tangan Rani.
''Ayo Rani, kita pulang sekarang?'' teriak Gita yang sudah berada di dalam mobil nya.
''Kalau gitu aku duluan ya,'' pamit Rani yang merasa berat meninggalkan Sania sendirian.
''Maaf kan aku Rani, gara-gara aku kamu sekarang sering melamun?'' gumam Sania sepeninggal teman kampus nya.
Tak jauh dari tempat Sania berdiri menunggu taksi pesanan nya datang, ada seorang laki-laki yang memperhatikan Sania sejak tadi, laki-laki yang sedang memperhatikan Sania dari jauh adalah Arlan.
Sania sedang merogoh tas selempang nya, dan dia terlihat mengeluarkan obat dari dalam tas, yang di lihat langsung oleh Arlan walau dari jarak jauh? karena Arlan pernah melihat Sania membawa obat ketika keluar dari rumah sakit tadi pagi.
Hidung Sania lagi lagi mengeluarkan darah segar, namun senyuman Sania tak pernah lepas dari bibir ranum untuk selalu tersenyum. Walaupun sekarang kehidupan nya sangat memperihatinkan.
Sania berjalan menuju kursi yang ada di belakang nya, tak jauh dari dia berdiri barusan, ''Ya Allah, hamba pasrahkan hidup dan matiku kepada engkau, hamba ikhlas namun ijinkan hamba untuk berbakti kepada Ibu hamba sebelum hamba benar-benar di panggil oleh mu?'' gumam Sania mengusap darah dengan tissu yang kini tengah ia pegang, lantunan sholawat terdengar lirih dan beberapa kali dia juga mengucapkan istighfar agar bisa mengurai rasa sakit nya yang tengah menyerang dirinya.
__ADS_1