
Sania tiba ke rumah nya sore hari, setelah dia terlebih dulu mampir ke rumah kakek Sanjaya, untuk sekedar menengok sang kakek yang kini semakin berumur dan juga sering sakit sakitan. Mungkin juga karena sudah berumur makanya beliau gampang sekali di serang penyakit.
Setelah puas bermain dengan kedua sepupunya yang sudah beranjak remaja Sania berpamitan pada kakek Sanjaya dan juga tanye Cinta nya, sedangkan Om Fabian masih belum pulang karena hari masih siang.
Rasa lelah yang mendera membuat Sania menutup mata nya di samping Pak Hasan, Sania memilih duduk di depan karena menurut dia mau melihat jalanan Jakarta yang terkenal dengan macet nya itu. Namun siapa sangka, belum juga sampai di jalan raya Sania sudah molor dengan terus memegang Al-qur'an saku di tangan nya.
Pak Hasan hanya tersenyum melihat Sania yang sudah tertidur pulas di samping nya.
Tak lama setelah itu Sania sampai di rumah nya, namun dia masih tertidur di dalam mobil? sampai akhirnya mobil yang di kendarai Pak Hasan bertepatan dengan Karan yang juga baru pulang dari kantor nya.
''Kenapa Pak?'' tanya Karan sopan ketika melihat Pak Hasan celingukan.
''Ini Tuan, Nona Sania tertidur di dalam. Kalau di bangunin kasian kayak nya Nona Sania terlihat kecape'an,'' tutur Pak Hasan.
''Biar saya yang memindahkan Sania Pak, terima kasih sekali sudah mengantarkan adikku ke rumah,'' balas Karan yang di angguki Pak Hasan.
''Sudah seharusnya seperti itu Tuan, dan lagi saya sangat berterima kasih kepada Nona Sania yang sudah menolongku kemarin? berkat dia juga puteri ku selamat dan sekarang alhamdulillah sudah kembali sehat,'' terang Pak Hasan, membuat Karan sang kakak menyunggingkan senyuman nya.
''Adik ku emang memiliki hati yang lembut dan juga tulus Pak, saya harap Bapak ikut bantu mendo'akan adikku ini, semoga penyakit nya segera di angkat oleh Allah SWT,'' pinta Karan kepada Pak Hasan.
''Iya Tuan? saya tidak pernah putus untuk mendo'akan Nona Sania, agar kembali sehat dan bisa ceria lagi,'' sahut Pak Hasan yang kini sudah membuka pintu mobil nya, sedangkan Karan sudah menggendong sang adik dan di bawa ke dalam rumah nya.
Sang Ibu yang melihat Sania di gendong Karan pun kaget bukan main, takutnya penyakit Sania tengah kambuh dan dia pingsan di jalan.
''Adik kamu kenapa Karan?'' tanya Bu Wati dengan nada khawatir nya.
''Ibu nggak usah khawatir lagi ya, adik nggak apa apa kok? dia cuma ketiduran di dalam mobil yang biasa tumpangi, dan pemilik mobil tak tega untuk membangunkan adik tadi, jadi Karan gendong saja,'' cerita Karan dan membaringkan Sania di sofa panjang yang ada di ruang tamunya.
__ADS_1
''Alhamdulillah kalau gitu, Ibu takut penyakit dia kambuh saja?'' sela Bu Wati yang kini tengah mengusap puncak kepala puteri kecil nya.
''Ibu? Pinky belum pulang juga?'' tanya Karan ketika tidak melihat sang istri di rumah nya.
''Belum, dia bilang akan telat pulang nya, karena pekerja'an nya sudah deadline semua,''
''Ibu tau dari mana kalau pekerja'an deadline,'' tanya Karan penasaran, karena Ibu nya lebih tau semua nya ketimbang dirinya yang tak tau kegiatan Pinky sang istri.
''Jelas Ibu tau lah, kan dia barusan nelfon Ibu,'' tukas Bu Wati membuat Karan menghembuskan nafas nya dengan kasar.
''Sama Ibu saja bilang kalau dia mengejar deadline, sedang sama suaminya saja diem diem bae,'' sela karya dan melangkah dengan ergi menuju ke lantai dua, Karan menapaki anak tangga dengan langkah lebar nya, dia akan mandi dan akan segera menusul diri nya ke butik yang lumayan jauh dari rumah nya.
Bu Wati masih setia dengan memandangi wajah puteri kecil nya yang terlihat begitu tenang di dalam tidur nya. Setelah puas memandangi wajah cantik sang puteri, Bu Wati barulah beranjak dari sofa, di mana Sania tengah tertidur sang pulas.
Bu Wati akan memasak menu makanan kesukaan sang puteri, sudah hampir satu minggu dia berada di kantor cabang nya.
''Hati hati di jalan ya, dan jangan terlalu untuk pulang ke rumah? kasian kan istri kamu capek?'' pesang Bu Wati kepada putera nya.
Karan hanya mengangguk seraya mencium punggung tangan Bunda nya. Karan menuju mobil dan mengendarai kendara'an di tengah tengah keramaian kota Jakarta.
Karan sudah menduga hal ini sebelum nya, ya Karan terjebak macet di jalan sehingga dia hanya bisa pasrah dan juga sabar menunggu kemacetan yang tengah menimpanya.
''Aku harus menghubungi Pinky sekarang, aku takut dia oulangblebih dulu sebuah aku sampai di butik nya. Sedangkan di butik Pinky tengah bersin karena ucapan karya barusan.
Haciih, Pinky menutup mulut nya ketika bersin. ''Kayaknya ada yang ngomongin aku nich,'' gumam Pinky dan melanjutkan menggambar nya.
Ting
__ADS_1
Satu pesan masuk ke ponsel nya.
📩-''Sayang tunggu aku di sana, sekarang aku ada di jalan mau menjemput kamu? namun biasalah kebiasaan kota Jakarta,'' chat dari Karan.
📤-''Macet?'' balas Pinky singkat padat dan jelas.
📩-Gitu doang balesan nya😢😢,''
📤-''Sudah nggak usah ngambek seperti itu, sudah tua juga,'' balas Pinky membuat sang suami bertambah cemberut.
📩-ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜,'' Karan hanya mengirim emot menangis kepada sang istri.
Pinky tertawa terpingkal pingkal melihat isi chat dari suaminya yang mulai bersikap posesif pada nya.
''Sudahlah, lebih baik aku cepat menyelesaikan yang ini, agar nanti mas karay sampai aku juga bisa ikut pulang,'' gumam Pinky melanjutkan gambar nya yang sudah setengah jadi.
''Alhamdulillah sudah selesai, tinggal kasih warna sesuai perminta'an para pelanggan,'' bisik nya pada diri sendiri.
Saat tengah asik mewarnai hasil lukisan nya, Karan tiba tiba masuk ke dalam dengan kotak makanan ditangan nya.
''Mas Karan sudah sampai?'' Ujar Pinky menaruh crayon yang tengah ia pegang.
''Iya, ini aku bawain makanan kesuaka'an kamu, pasti tadi siang kamu belum makan kan?'' tebak Karan membuat Pinky menatap sang suami heran.
''Nggak usah memandang mas seperti itu sayang? aku tau kebiasa'an kamu kalau sudah sibuk dengan pekerja'an nya? kamu akan lupa dengan makan siang kamu,'' terang Karan yang langsung di angguki Pinky begitu saja.
'Bahkan mas Karan sudah tau kebiasa'an kebiasa'an ku, yang membuat perut lapar ketika siang sampai sore, dia sangat menghawatirkan ku. Terima kasih ya Allah? sudah mengirim malaikat yang setampan dan juga baik pada hamba,' gumam Pinky dalam hati.
__ADS_1
''Sudah jangan menatayku seperti itu lagi, aku emang tampan dan selalu akan tampan sampai 50 tahun kedepan,'' tukas Karan yang sukses membuat Pinky terkekeh dengan penuturan dari suami nya.